Tampilkan postingan dengan label siswi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label siswi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2011

Mereka Mati Dengan Cara Mereka Sendiri

Hari ini, sabtu, 13 agustus 2011.

Pagi hari bukat twitter.

Udah banya yang TL, Inalillahi.

hey, what the?

sampai kak fadil bini twitt.

"Tadi pagi ada yang meninggal @aisahsiregar



Mereka Mati Dengan Cara Mereka Sendiri

Hari ini, sabtu, 13 agustus 2011.

Pagi hari bukat twitter.

Udah banya yang TL, Inalillahi.

hey, what the?

sampai kak fadil bini twitt.

"Tadi pagi ada yang meninggal @aisahsiregar



Jumat, 17 Juni 2011

4 Siswi Ini Bicara Anti "Bullying" di Jerman




Empat siswi duta Belajar Tanpa Rasa Takut yang akan berangkat ke Jerman bersama Plan Indoneisa untuk mengampanyekan anti bullying. Dari kiri ke kanan: Pika, Vega, Asri (SMKN 36), dan Intan.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Empat siswi sekolah menengah atas terpilih menjadi duta Learn Without Fear (LWF/Belajar Tanpa Rasa Takut) yang akan dikirim ke Jerman selama 10 hari, 18 Juni-28 Juni 2011. Keempat siswi ini adalah Asri Pratiwi (SMK Negeri 36), Vega Ultannamanda (SMA Negeri 77), Pika Yuliyanti (SMA Negeri 95) dan Intan Valencia (SMK Negeri 28). Sepuluh hari di Jerman, mereka akan mengikuti International Youth Workshop ”Girls Go for Goals” yang diadakan oleh Plan Internasional.

 

”Keempat Duta LWF itu adalah siswi terbaik yang terpilih dalam turnamen sepakbola antarsiswi (Learn without fear through Girls Football tournament) yang diadakan berkat kerjasama antara Plan Indonesia dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Penilaian itu mengacu pada bakat dan prestasi di lapangan, serta kemampuannya dalam mempromosikan “Belajar tanpa Rasa Takut” baik di sekolah, rumah dan lingkungan sekitarnya,” ujar Direktur Program Plan International Indonesia, Nono Sumarsono di Jakarta, Kamis (16/6/2011).

 

Nono Sumarsono menjelaskan, keberangkatan keempat duta LWF itu ke Jerman merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kampanye Belajar tanpa Rasa Takut melalui sepakbola siswi,  yang menjadi kampanye global Plan International. Selama di Jerman, para duta ini akan berdiskusi dengan siswa dari negara lain mengenai kapasitas anak perempuan dalam mempromosikan belajar tanpa rasa takut, terutama di lingkungan sekolah.

 

Mereka juga akan mempresentasikan kasus bullying pada acara jumpa kenal dengan duta-duta anak perempuan dampingan Plan di negara Togo, Brasil, Ghana, dan Jerman. Dari presentasi tentang survey sederhana yang dilakukan keempat anak ini terhadap 36 responden, terungkap bahwa 100% responden mengetahui tentang bullying. 22 orang mengetahui bentuk-bentuk bullying. Sebanyak 20% responden mengaku pernah melakukan bullying secara verbal dan 6,6% pernah menjadi korban bullying.

 

Mengenai bullying di sekolah, Plan Indonesia pernah melakukan survei tentang perilaku bullying di sekolah. Survey itu dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bogor. Hasil survey yang melibatkan 1500 siswa dan 75 guru tersebut menyimpulkan bahwa 67,9 persen siswa SMA menganggap terjadi bullying di sekolah. Bentuk bullying itu berupa verbal, psikologis (bullying), dan fisik. Pelaku bullying umumnya adalah teman, kakak kelas, adik kelas dan ’preman’ di sekitar sekolah. Sementara itu, 27,9 persen siswa SMA mengaku ikut melakukan bullying, dan 25,4 persen siswa SMA mengambil sikap diam saat melihat adanya bullying.

 

Sementara itu, Project Manager ’Learn Without Fear Through Girls Football’ Plan Indonesia, Desry Yuniafitri yang akan mendampingi keempat siswi selama di Jerman menjelaskan, keempat duta LWF itu juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan sepak bola bersama klub sepakbola HSV Hamburg (Handball Sport Verein Hamburg) yang sudah sering berlaga di Bundesliga Jerman.

 

Pada Kamis kemarin, keempat siswa ini dilepas secara resmi oleh Kepala Bidang SMP/SMU Dinas Pendidikan DKI Drs H. Muh. Arief, M.Pd. dan beberapa kepala sekolah dan guru pembimbing dari ke empat siswi tersebut.

4 Siswi Ini Bicara Anti "Bullying" di Jerman




Empat siswi duta Belajar Tanpa Rasa Takut yang akan berangkat ke Jerman bersama Plan Indoneisa untuk mengampanyekan anti bullying. Dari kiri ke kanan: Pika, Vega, Asri (SMKN 36), dan Intan.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Empat siswi sekolah menengah atas terpilih menjadi duta Learn Without Fear (LWF/Belajar Tanpa Rasa Takut) yang akan dikirim ke Jerman selama 10 hari, 18 Juni-28 Juni 2011. Keempat siswi ini adalah Asri Pratiwi (SMK Negeri 36), Vega Ultannamanda (SMA Negeri 77), Pika Yuliyanti (SMA Negeri 95) dan Intan Valencia (SMK Negeri 28). Sepuluh hari di Jerman, mereka akan mengikuti International Youth Workshop ”Girls Go for Goals” yang diadakan oleh Plan Internasional.

 

”Keempat Duta LWF itu adalah siswi terbaik yang terpilih dalam turnamen sepakbola antarsiswi (Learn without fear through Girls Football tournament) yang diadakan berkat kerjasama antara Plan Indonesia dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Penilaian itu mengacu pada bakat dan prestasi di lapangan, serta kemampuannya dalam mempromosikan “Belajar tanpa Rasa Takut” baik di sekolah, rumah dan lingkungan sekitarnya,” ujar Direktur Program Plan International Indonesia, Nono Sumarsono di Jakarta, Kamis (16/6/2011).

 

Nono Sumarsono menjelaskan, keberangkatan keempat duta LWF itu ke Jerman merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kampanye Belajar tanpa Rasa Takut melalui sepakbola siswi,  yang menjadi kampanye global Plan International. Selama di Jerman, para duta ini akan berdiskusi dengan siswa dari negara lain mengenai kapasitas anak perempuan dalam mempromosikan belajar tanpa rasa takut, terutama di lingkungan sekolah.

 

Mereka juga akan mempresentasikan kasus bullying pada acara jumpa kenal dengan duta-duta anak perempuan dampingan Plan di negara Togo, Brasil, Ghana, dan Jerman. Dari presentasi tentang survey sederhana yang dilakukan keempat anak ini terhadap 36 responden, terungkap bahwa 100% responden mengetahui tentang bullying. 22 orang mengetahui bentuk-bentuk bullying. Sebanyak 20% responden mengaku pernah melakukan bullying secara verbal dan 6,6% pernah menjadi korban bullying.

 

Mengenai bullying di sekolah, Plan Indonesia pernah melakukan survei tentang perilaku bullying di sekolah. Survey itu dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bogor. Hasil survey yang melibatkan 1500 siswa dan 75 guru tersebut menyimpulkan bahwa 67,9 persen siswa SMA menganggap terjadi bullying di sekolah. Bentuk bullying itu berupa verbal, psikologis (bullying), dan fisik. Pelaku bullying umumnya adalah teman, kakak kelas, adik kelas dan ’preman’ di sekitar sekolah. Sementara itu, 27,9 persen siswa SMA mengaku ikut melakukan bullying, dan 25,4 persen siswa SMA mengambil sikap diam saat melihat adanya bullying.

 

Sementara itu, Project Manager ’Learn Without Fear Through Girls Football’ Plan Indonesia, Desry Yuniafitri yang akan mendampingi keempat siswi selama di Jerman menjelaskan, keempat duta LWF itu juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan sepak bola bersama klub sepakbola HSV Hamburg (Handball Sport Verein Hamburg) yang sudah sering berlaga di Bundesliga Jerman.

 

Pada Kamis kemarin, keempat siswa ini dilepas secara resmi oleh Kepala Bidang SMP/SMU Dinas Pendidikan DKI Drs H. Muh. Arief, M.Pd. dan beberapa kepala sekolah dan guru pembimbing dari ke empat siswi tersebut.

Minggu, 29 Mei 2011

Siswa Siswi Jepang Paling Sopan di Dunia



Morimoto Ryutaro-Watashi no Otouto.

REPUBLIKA.CO.ID,TOKYO - Jepang bisa membanggakan disiplin siswa-siswi negara tersebut di sekolah. Perilaku siswa Jepang di kelas itu lebih baik atau terbaik dunia. Demikian hasil penelitian internasional.

Menurut hasil penelitian tersebut, murid-murid di Jepang menempati posisi tertinggi dalam peringkat perilaku baik. Laporan dari forum kerjasama ekonomi OECD mendapati jumlah gangguan di kelas pada tahun 2009 lebih sedikit jika dibandingkan angka hasil penelitian tahun 2000.

Siswa-siswi di Inggris berperilaku lebih baik jika dibandingan perilaku rata-rata siswa di negara lain. Namun, negara dan kawasan Asia mendominasi posisi teratas di daftar peringkat perilaku terbaik.

OECD menerbitkan analisis statistik perilaku yang dihimpun sebagai bagian dari penelitian internasional forum tersebut. Penelitian itu juga membandingkan kinerja sistem pendidikan.

Penelitian OECD mencermati tingkat gangguan yang terjadi di kelas dari segi berapa lama guru harus menunggu siswa usia 15 tahun ''menjadi tenang'' dalam proses belajar. Penelitian mendapati bahwa, meski banyak pihak merisaukan perilaku buruk, kemungkinan remaja gaduh dan berulah itu menurun jika dibandingkan dengan hasil analisis internasional serupa pada 2000.

''Keyakinan umum selama ini mempercayai disiplin siswa turun dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Keyakinan tersebut juga mempercayai bahwa para guru kehilangan kendali atas kelas mereka. Namun, keyakinan umum itu keliru,'' kata laporan OECD. ''Antara tahun 2000 dan 2009, disiplin di sekolah ternyata tidak memburuk. Bahkan, di banyak negara disiplin siswa justru meningkat.''

Negara-negara dan kawasan di Asia menempati tujuh dari 10 tempat teratas. Tiga tempat teratas ditempati oleh negara di Eropa timur.

Dua sistem persekolahan Cina (Shangai dan Hongkong) berada di posisi empat teratas. Ini mencerminkan munculnya Cina sebagai adidaya pendidikan yang tengah bangkit.

Dalam hasil pengukuran penelitian terhadap keterampilan baca-tulis yang diterbitkan bulan Desember, sistem persekolahan Shanghai menempati posisi teratas di dunia. Dalam penelitian perilaku ini, Inggris menempati posisi ke-28 dengan skor yang menempatkan perilaku siswa Inggris di atas rata-rata. Posisi Inggris di belakang Amerika Serikat dan Jerman, tapi di atas Prancis dan Italia.

Peringkat pendidikan internasional hasil penelitian OECD ini menempatkan negara-negara Skandinavia di posisi bawah. Finlandia, yang biasanya berada di peringkat teratas urutan sekolah dunia, berada di tiga posisi terbawah. Hanya Argentina dan Yunani yang disebut mengalami gangguan lebih banyak di dalam kelas.

Siswa Siswi Jepang Paling Sopan di Dunia



Morimoto Ryutaro-Watashi no Otouto.

REPUBLIKA.CO.ID,TOKYO - Jepang bisa membanggakan disiplin siswa-siswi negara tersebut di sekolah. Perilaku siswa Jepang di kelas itu lebih baik atau terbaik dunia. Demikian hasil penelitian internasional.

Menurut hasil penelitian tersebut, murid-murid di Jepang menempati posisi tertinggi dalam peringkat perilaku baik. Laporan dari forum kerjasama ekonomi OECD mendapati jumlah gangguan di kelas pada tahun 2009 lebih sedikit jika dibandingkan angka hasil penelitian tahun 2000.

Siswa-siswi di Inggris berperilaku lebih baik jika dibandingan perilaku rata-rata siswa di negara lain. Namun, negara dan kawasan Asia mendominasi posisi teratas di daftar peringkat perilaku terbaik.

OECD menerbitkan analisis statistik perilaku yang dihimpun sebagai bagian dari penelitian internasional forum tersebut. Penelitian itu juga membandingkan kinerja sistem pendidikan.

Penelitian OECD mencermati tingkat gangguan yang terjadi di kelas dari segi berapa lama guru harus menunggu siswa usia 15 tahun ''menjadi tenang'' dalam proses belajar. Penelitian mendapati bahwa, meski banyak pihak merisaukan perilaku buruk, kemungkinan remaja gaduh dan berulah itu menurun jika dibandingkan dengan hasil analisis internasional serupa pada 2000.

''Keyakinan umum selama ini mempercayai disiplin siswa turun dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Keyakinan tersebut juga mempercayai bahwa para guru kehilangan kendali atas kelas mereka. Namun, keyakinan umum itu keliru,'' kata laporan OECD. ''Antara tahun 2000 dan 2009, disiplin di sekolah ternyata tidak memburuk. Bahkan, di banyak negara disiplin siswa justru meningkat.''

Negara-negara dan kawasan di Asia menempati tujuh dari 10 tempat teratas. Tiga tempat teratas ditempati oleh negara di Eropa timur.

Dua sistem persekolahan Cina (Shangai dan Hongkong) berada di posisi empat teratas. Ini mencerminkan munculnya Cina sebagai adidaya pendidikan yang tengah bangkit.

Dalam hasil pengukuran penelitian terhadap keterampilan baca-tulis yang diterbitkan bulan Desember, sistem persekolahan Shanghai menempati posisi teratas di dunia. Dalam penelitian perilaku ini, Inggris menempati posisi ke-28 dengan skor yang menempatkan perilaku siswa Inggris di atas rata-rata. Posisi Inggris di belakang Amerika Serikat dan Jerman, tapi di atas Prancis dan Italia.

Peringkat pendidikan internasional hasil penelitian OECD ini menempatkan negara-negara Skandinavia di posisi bawah. Finlandia, yang biasanya berada di peringkat teratas urutan sekolah dunia, berada di tiga posisi terbawah. Hanya Argentina dan Yunani yang disebut mengalami gangguan lebih banyak di dalam kelas.