Tampilkan postingan dengan label 36. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 36. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2011

Bina Atau Binasakan

Selasa, 26 Juli 2011. Saat apel sebelum tadarus.

Seseorang datang membawa bebarapa pakaian dan celana abu-abu serta biru dongker.

Beliau Kepala Sekolah, Bpk. Dedi Dwitagama.

Diletakannya pakaian dan celana tersebut di podium besar. Podium yang cukup tinggi sehingga kami semua dapat melihat siapaun yang berdiri disana dengan jelas.

Pak Dedi muali berbicara. Singkat cerita, beliau mendapati beberapa anak datang kesekolah dengan pakaian yang iyyyuuuhh kacau. baju tidak dimasukan, celana di model ala changcuters distrit, jadi lebih ketat. Padahal, banyak siswa/i yang sudah tahu kalau baju tidak dimasukkan pasti akan di ambil oleh siapa pun guru yang melihat. Itu sudah menjadi aturan di SMK N 36 Jakarta.

Bina Atau Binasakan

Selasa, 26 Juli 2011. Saat apel sebelum tadarus.

Seseorang datang membawa bebarapa pakaian dan celana abu-abu serta biru dongker.

Beliau Kepala Sekolah, Bpk. Dedi Dwitagama.

Diletakannya pakaian dan celana tersebut di podium besar. Podium yang cukup tinggi sehingga kami semua dapat melihat siapaun yang berdiri disana dengan jelas.

Pak Dedi muali berbicara. Singkat cerita, beliau mendapati beberapa anak datang kesekolah dengan pakaian yang iyyyuuuhh kacau. baju tidak dimasukan, celana di model ala changcuters distrit, jadi lebih ketat. Padahal, banyak siswa/i yang sudah tahu kalau baju tidak dimasukkan pasti akan di ambil oleh siapa pun guru yang melihat. Itu sudah menjadi aturan di SMK N 36 Jakarta.

Jumat, 17 Juni 2011

4 Siswi Ini Bicara Anti "Bullying" di Jerman




Empat siswi duta Belajar Tanpa Rasa Takut yang akan berangkat ke Jerman bersama Plan Indoneisa untuk mengampanyekan anti bullying. Dari kiri ke kanan: Pika, Vega, Asri (SMKN 36), dan Intan.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Empat siswi sekolah menengah atas terpilih menjadi duta Learn Without Fear (LWF/Belajar Tanpa Rasa Takut) yang akan dikirim ke Jerman selama 10 hari, 18 Juni-28 Juni 2011. Keempat siswi ini adalah Asri Pratiwi (SMK Negeri 36), Vega Ultannamanda (SMA Negeri 77), Pika Yuliyanti (SMA Negeri 95) dan Intan Valencia (SMK Negeri 28). Sepuluh hari di Jerman, mereka akan mengikuti International Youth Workshop ”Girls Go for Goals” yang diadakan oleh Plan Internasional.

 

”Keempat Duta LWF itu adalah siswi terbaik yang terpilih dalam turnamen sepakbola antarsiswi (Learn without fear through Girls Football tournament) yang diadakan berkat kerjasama antara Plan Indonesia dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Penilaian itu mengacu pada bakat dan prestasi di lapangan, serta kemampuannya dalam mempromosikan “Belajar tanpa Rasa Takut” baik di sekolah, rumah dan lingkungan sekitarnya,” ujar Direktur Program Plan International Indonesia, Nono Sumarsono di Jakarta, Kamis (16/6/2011).

 

Nono Sumarsono menjelaskan, keberangkatan keempat duta LWF itu ke Jerman merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kampanye Belajar tanpa Rasa Takut melalui sepakbola siswi,  yang menjadi kampanye global Plan International. Selama di Jerman, para duta ini akan berdiskusi dengan siswa dari negara lain mengenai kapasitas anak perempuan dalam mempromosikan belajar tanpa rasa takut, terutama di lingkungan sekolah.

 

Mereka juga akan mempresentasikan kasus bullying pada acara jumpa kenal dengan duta-duta anak perempuan dampingan Plan di negara Togo, Brasil, Ghana, dan Jerman. Dari presentasi tentang survey sederhana yang dilakukan keempat anak ini terhadap 36 responden, terungkap bahwa 100% responden mengetahui tentang bullying. 22 orang mengetahui bentuk-bentuk bullying. Sebanyak 20% responden mengaku pernah melakukan bullying secara verbal dan 6,6% pernah menjadi korban bullying.

 

Mengenai bullying di sekolah, Plan Indonesia pernah melakukan survei tentang perilaku bullying di sekolah. Survey itu dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bogor. Hasil survey yang melibatkan 1500 siswa dan 75 guru tersebut menyimpulkan bahwa 67,9 persen siswa SMA menganggap terjadi bullying di sekolah. Bentuk bullying itu berupa verbal, psikologis (bullying), dan fisik. Pelaku bullying umumnya adalah teman, kakak kelas, adik kelas dan ’preman’ di sekitar sekolah. Sementara itu, 27,9 persen siswa SMA mengaku ikut melakukan bullying, dan 25,4 persen siswa SMA mengambil sikap diam saat melihat adanya bullying.

 

Sementara itu, Project Manager ’Learn Without Fear Through Girls Football’ Plan Indonesia, Desry Yuniafitri yang akan mendampingi keempat siswi selama di Jerman menjelaskan, keempat duta LWF itu juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan sepak bola bersama klub sepakbola HSV Hamburg (Handball Sport Verein Hamburg) yang sudah sering berlaga di Bundesliga Jerman.

 

Pada Kamis kemarin, keempat siswa ini dilepas secara resmi oleh Kepala Bidang SMP/SMU Dinas Pendidikan DKI Drs H. Muh. Arief, M.Pd. dan beberapa kepala sekolah dan guru pembimbing dari ke empat siswi tersebut.

4 Siswi Ini Bicara Anti "Bullying" di Jerman




Empat siswi duta Belajar Tanpa Rasa Takut yang akan berangkat ke Jerman bersama Plan Indoneisa untuk mengampanyekan anti bullying. Dari kiri ke kanan: Pika, Vega, Asri (SMKN 36), dan Intan.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Empat siswi sekolah menengah atas terpilih menjadi duta Learn Without Fear (LWF/Belajar Tanpa Rasa Takut) yang akan dikirim ke Jerman selama 10 hari, 18 Juni-28 Juni 2011. Keempat siswi ini adalah Asri Pratiwi (SMK Negeri 36), Vega Ultannamanda (SMA Negeri 77), Pika Yuliyanti (SMA Negeri 95) dan Intan Valencia (SMK Negeri 28). Sepuluh hari di Jerman, mereka akan mengikuti International Youth Workshop ”Girls Go for Goals” yang diadakan oleh Plan Internasional.

 

”Keempat Duta LWF itu adalah siswi terbaik yang terpilih dalam turnamen sepakbola antarsiswi (Learn without fear through Girls Football tournament) yang diadakan berkat kerjasama antara Plan Indonesia dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Penilaian itu mengacu pada bakat dan prestasi di lapangan, serta kemampuannya dalam mempromosikan “Belajar tanpa Rasa Takut” baik di sekolah, rumah dan lingkungan sekitarnya,” ujar Direktur Program Plan International Indonesia, Nono Sumarsono di Jakarta, Kamis (16/6/2011).

 

Nono Sumarsono menjelaskan, keberangkatan keempat duta LWF itu ke Jerman merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kampanye Belajar tanpa Rasa Takut melalui sepakbola siswi,  yang menjadi kampanye global Plan International. Selama di Jerman, para duta ini akan berdiskusi dengan siswa dari negara lain mengenai kapasitas anak perempuan dalam mempromosikan belajar tanpa rasa takut, terutama di lingkungan sekolah.

 

Mereka juga akan mempresentasikan kasus bullying pada acara jumpa kenal dengan duta-duta anak perempuan dampingan Plan di negara Togo, Brasil, Ghana, dan Jerman. Dari presentasi tentang survey sederhana yang dilakukan keempat anak ini terhadap 36 responden, terungkap bahwa 100% responden mengetahui tentang bullying. 22 orang mengetahui bentuk-bentuk bullying. Sebanyak 20% responden mengaku pernah melakukan bullying secara verbal dan 6,6% pernah menjadi korban bullying.

 

Mengenai bullying di sekolah, Plan Indonesia pernah melakukan survei tentang perilaku bullying di sekolah. Survey itu dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bogor. Hasil survey yang melibatkan 1500 siswa dan 75 guru tersebut menyimpulkan bahwa 67,9 persen siswa SMA menganggap terjadi bullying di sekolah. Bentuk bullying itu berupa verbal, psikologis (bullying), dan fisik. Pelaku bullying umumnya adalah teman, kakak kelas, adik kelas dan ’preman’ di sekitar sekolah. Sementara itu, 27,9 persen siswa SMA mengaku ikut melakukan bullying, dan 25,4 persen siswa SMA mengambil sikap diam saat melihat adanya bullying.

 

Sementara itu, Project Manager ’Learn Without Fear Through Girls Football’ Plan Indonesia, Desry Yuniafitri yang akan mendampingi keempat siswi selama di Jerman menjelaskan, keempat duta LWF itu juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan sepak bola bersama klub sepakbola HSV Hamburg (Handball Sport Verein Hamburg) yang sudah sering berlaga di Bundesliga Jerman.

 

Pada Kamis kemarin, keempat siswa ini dilepas secara resmi oleh Kepala Bidang SMP/SMU Dinas Pendidikan DKI Drs H. Muh. Arief, M.Pd. dan beberapa kepala sekolah dan guru pembimbing dari ke empat siswi tersebut.

Rabu, 08 Juni 2011

Pangkas Rambut SMKN 36 Jakarta

Ciiillluuukkk Baaaa

Saya datang tak diundang, Pulang juga tak diantar.

Wah, barusan abis maen dari sekolah tercinta, waktu liat-liat bentuk baru sekolah.

"looohhh, ko ada barber shop"

Ini Pangkas Rambut 36. Dimana siswa yang berambut gondorong bakal dicukur disitu.

Nga tau ini gratis atau nga, tapi kayanya sih grati sedh, soalnya kan sekolah punya cliper (alat pemotong rambut) sendiri. Ini saya foto, tapi fotonya pake kamera hp (jelek banget hasilnya) Tapi nga apa-apa juga sih, buat penampakan aja.



Bangku sama Kacanya



Kaca yang cukup besar (buat ngaca enak banget, keliatan semua mukanya)



Dua buah bangku tinggi (buat duduk yang dicukur)

Makin maju aja deh sekolah yang satu ini. Udah banyak yang nanya-nanya mau masuk di 36. hahahaha jadi mesem-mesem sendiri.

Pangkas Rambut SMKN 36 Jakarta

Ciiillluuukkk Baaaa

Saya datang tak diundang, Pulang juga tak diantar.

Wah, barusan abis maen dari sekolah tercinta, waktu liat-liat bentuk baru sekolah.

"looohhh, ko ada barber shop"

Ini Pangkas Rambut 36. Dimana siswa yang berambut gondorong bakal dicukur disitu.

Nga tau ini gratis atau nga, tapi kayanya sih grati sedh, soalnya kan sekolah punya cliper (alat pemotong rambut) sendiri. Ini saya foto, tapi fotonya pake kamera hp (jelek banget hasilnya) Tapi nga apa-apa juga sih, buat penampakan aja.



Bangku sama Kacanya



Kaca yang cukup besar (buat ngaca enak banget, keliatan semua mukanya)



Dua buah bangku tinggi (buat duduk yang dicukur)

Makin maju aja deh sekolah yang satu ini. Udah banyak yang nanya-nanya mau masuk di 36. hahahaha jadi mesem-mesem sendiri.