Tampilkan postingan dengan label sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sukses. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2011

Shinjirareru, Dekiru yo!

Minna san......



TT.TT siapa yang mau menjelang UN?


*angkat kaki* saya mau UN nih. tinggal itung waktu.


Okkey, Thanks you so much Mr. Dedi Dwitagama atas amanah yang bapak kasih hari ini.


Yayayah, untuk beberapa hari ini saya selalu galau. antara yakin dan nga yakin untuk bisa capai target yang udah saya targetkan.


Shinjirareru, Dekiru yo!

Minna san......



TT.TT siapa yang mau menjelang UN?


*angkat kaki* saya mau UN nih. tinggal itung waktu.


Okkey, Thanks you so much Mr. Dedi Dwitagama atas amanah yang bapak kasih hari ini.


Yayayah, untuk beberapa hari ini saya selalu galau. antara yakin dan nga yakin untuk bisa capai target yang udah saya targetkan.


Rabu, 13 Juli 2011

Kaya dan Bermanfaat

Huaaaahhh.

Curhat ga ya?

curhat ga ya?



lama sekali saya nga posting di blog gaze ini.

Hmm, sebenernya juga mau posting banyak banget di blog,

cuma gimana ya? sedikit terkendala soalnya udah masuk sekolah lagi.

Hiyyyaaa, kayanya jadi seorang fandom tuh perlu banyak uang bgt ya?

Jawabannya IYA. Kenapa? soalnya untuk beli barang2 ori yang langsung dari sana itu perlu uang, dan uangnya juga nga sedikit. Apalagi nga ada tuh barang yang namanya KW,

semuanya pada ORi. Iya emang, pengen banget beli begituan. Tapi saya bukan anak orang kaya, seperti kebanyakan anak Fandom yang garis besar dari orang berada dan bisa beli semua apa yang mereka mau. Saya cuma anak seorang pelaut yang gazinya nga seberapa (buka aib). Terlebih harus dibagi buat dua adek dan kebutuhan hidup yang laen. Buat bayar Internet aja saya harus nabung, padahal satu bulan cuma 125an.

Kalo mau ngapangapain jadi mikir 1000x dulu. mikir kalo itu bakal lebih banyak hal positif apa hal negatifnya. kayanya semua hal yang kiita mau itu bakal terwujud kalo kita punya yang namanya UANG deh. sumpaaahhh uang itu penting banget.

Pengen banget jadi orang kaya punya banyak uang. Pengen juga jadi orang kaya yang bermanfaat. I thing it's better.

yay, jadi orang kaya yang bermanfaat, pasti enak banget.

Itu udah saya patenin jadi tujuan saya. hahaha.

Saya punya banyak mimpi, tapi saya nga mau mimpi itu hanya sebatas mimpi, saya akan mewujudkan mimpi itu jadi kenyataan.

Dream Of Morimoto Lisa.

Kaya dan Bermanfaat

Huaaaahhh.

Curhat ga ya?

curhat ga ya?



lama sekali saya nga posting di blog gaze ini.

Hmm, sebenernya juga mau posting banyak banget di blog,

cuma gimana ya? sedikit terkendala soalnya udah masuk sekolah lagi.

Hiyyyaaa, kayanya jadi seorang fandom tuh perlu banyak uang bgt ya?

Jawabannya IYA. Kenapa? soalnya untuk beli barang2 ori yang langsung dari sana itu perlu uang, dan uangnya juga nga sedikit. Apalagi nga ada tuh barang yang namanya KW,

semuanya pada ORi. Iya emang, pengen banget beli begituan. Tapi saya bukan anak orang kaya, seperti kebanyakan anak Fandom yang garis besar dari orang berada dan bisa beli semua apa yang mereka mau. Saya cuma anak seorang pelaut yang gazinya nga seberapa (buka aib). Terlebih harus dibagi buat dua adek dan kebutuhan hidup yang laen. Buat bayar Internet aja saya harus nabung, padahal satu bulan cuma 125an.

Kalo mau ngapangapain jadi mikir 1000x dulu. mikir kalo itu bakal lebih banyak hal positif apa hal negatifnya. kayanya semua hal yang kiita mau itu bakal terwujud kalo kita punya yang namanya UANG deh. sumpaaahhh uang itu penting banget.

Pengen banget jadi orang kaya punya banyak uang. Pengen juga jadi orang kaya yang bermanfaat. I thing it's better.

yay, jadi orang kaya yang bermanfaat, pasti enak banget.

Itu udah saya patenin jadi tujuan saya. hahaha.

Saya punya banyak mimpi, tapi saya nga mau mimpi itu hanya sebatas mimpi, saya akan mewujudkan mimpi itu jadi kenyataan.

Dream Of Morimoto Lisa.

Kaya dan Bermanfaat

Huaaaahhh.

Curhat ga ya?

curhat ga ya?



lama sekali saya nga posting di blog gaze ini.

Hmm, sebenernya juga mau posting banyak banget di blog,

cuma gimana ya? sedikit terkendala soalnya udah masuk sekolah lagi.

Hiyyyaaa, kayanya jadi seorang fandom tuh perlu banyak uang bgt ya?

Jawabannya IYA. Kenapa? soalnya untuk beli barang2 ori yang langsung dari sana itu perlu uang, dan uangnya juga nga sedikit. Apalagi nga ada tuh barang yang namanya KW,

semuanya pada ORi. Iya emang, pengen banget beli begituan. Tapi saya bukan anak orang kaya, seperti kebanyakan anak Fandom yang garis besar dari orang berada dan bisa beli semua apa yang mereka mau. Saya cuma anak seorang pelaut yang gazinya nga seberapa (buka aib). Terlebih harus dibagi buat dua adek dan kebutuhan hidup yang laen. Buat bayar Internet aja saya harus nabung, padahal satu bulan cuma 125an.

Kalo mau ngapangapain jadi mikir 1000x dulu. mikir kalo itu bakal lebih banyak hal positif apa hal negatifnya. kayanya semua hal yang kiita mau itu bakal terwujud kalo kita punya yang namanya UANG deh. sumpaaahhh uang itu penting banget.

Pengen banget jadi orang kaya punya banyak uang. Pengen juga jadi orang kaya yang bermanfaat. I thing it's better.

yay, jadi orang kaya yang bermanfaat, pasti enak banget.

Itu udah saya patenin jadi tujuan saya. hahaha.

Saya punya banyak mimpi, tapi saya nga mau mimpi itu hanya sebatas mimpi, saya akan mewujudkan mimpi itu jadi kenyataan.

Dream Of Morimoto Lisa.

Minggu, 03 Juli 2011

Fanfiction 'Watashi No Yume 1'

Fanfiction

Title : Watashi no Yume

Genre : nga tau T.T

Cast : Nakayama Yuma (NYC), Atashi,  Uci Pradipta, Dinchan tegoshi,

WATASHI NO YUME


Lisa-Nii belajar melulu sih. Ayo ero lagi. Kangen tau” Aku membuha ponselku yang berdering cukup keras. Belakangan ini aku memang fokus untuk belajar. Jadi jarang sekali aku berkomunikasi dengan semua teman yang ada.

Gomen, demo aku harus masih apalin beberapa kata dasar bahasa Jepang ci” Aku mulai mengetik, membalas sms dari Uci, kita sama-sama fandom.

“Un. Iya deh yang dapet beasiswa. Jangan lupa kalo balik kesini oleh-oleh.hahaha” Uci membalas sms ku lagi. Namun aku tidak memablasnya, mataku masih tertuju pada kata-kata dasar ini.

Aku kuliah di Universitas Negri di Indonesia, seseorang mengubah hidup ku, dulu dia pernah bilang “Kalau kita berfikir bisa, kita bisa” Kata-kata itu masih jelas terukur dibenakku. Walau waktu telah berganti dari tahun ketahun. Mungkin karena dia juga begitu spesial bagiku. Sehingga membuatku berfikir mungkin tidak aka nada lagi lelaki yang bisa ku suka. Namun semua berubah begitu aku menjadi sorang Fansgirl.

#Bandara Soekarno Hatta#

“Jaga diri baik-baik. Jangan lupa belajar yang bener” Mama memeluk ku erat, pelukannya seakan bahagia, melihat putrid pertamanya berangkat menegjari cita-citanya.

“Iya ma, Bal, jaga mama baik-baik ya” Seruku singkat sembari menepuk pundak adik laki-laki ku.

Tak lama, aku mendengar sebuah panggilan, aku mengecek nomer pesawatku. Yay, it’s time to go.

Perlahan aku melambaikan tangan pada semua keluarga ku yang mengantar. Demi sebuah senyum yang indah.

#

Aku duduk di bangku pesawat, nomer 13. Ku fikir nomer sial. Hahah, habis selalu banyak orang yang beranggapan bahwa 13 nomer sial. Tapi ya aku tidak perduli. Yang penting aku sampai selamat ditempat tujuan.

Sehari aku menginap di singapura. Negara tetangga. Pukul tujuh nanti, penerbangan akan berlanjut.

Mata ku terbelalak, aku sedikit mengusap mataku. Ada rasa sedikit tidak yakin

WELCOME TO NARITA AIRPORT

“Sugoooii” Lirih ku pelan.

“Lisa san. Lisa san” Sensei Eka menyambutku. Beliau sensei di universitas ku, sayang dia hanya menemani ku satu hari.

“Lisa san, semuanya sudah disiapkan, kau punya satu apartemen kecil” Sensei membatu mengangkat barang-barangku.

“Arigatou sensei” Aku mengangkat barang-barangku juga. Aku disini menyelesaikan S2. Sastra Jepang.

“Waaahhh, besarnya” Aku bergeming dalam hati. Saat sampai disemuah apart dekat Osaka.

“Sensei, bagaimana bisa online?” Pikiranku langsung tertuju pada setingan internet.

“Ini, pakai” Sensei memberiku sebuah modem internet.

“Seterusnya kau isi sendiri, anggap saja itu hadiah dari sensei” Aku menerimanya dengan lapang dada.

“Sensei harus pulang pukul 3 nanti” Sensei mengambil sebuah buku kecil dari sakunya.

“Untukmu” Diberikannya buku itu

“Eh? Sensei member buku ini? Apa maksudnya?” Aku terheran melihat buku dengan kanji dan berjudul ‘Cara Meluluhkan Hati Seorang Lelaki’

“Sekalian, siapa tahu jodoh mu ada disini” Sensei tertawa.

“Etto Sensei, bukannya jam 3 itu satu jam lagi ya?” Aku melihat ponselku yang sudah kuseting dengan jam Jepang.

“Eh? Hontoo ni?” Sensei sedikit panik. Sia langsung bergegas.

“Jaga dirimu baik-baik ya. Sensei akan kirim email untukmu” Sensei memberhantikan taksi yang lalu lalang didpan kami.

Aku melambaikan tangan dari kejauhan. Sampai taksi yang sensei naiki menghilang dipandanganku.

Aku menghembuskan nafas panjang. “Berbeda dengan Indonesia” Perlahan aku menaiki tangga. Apartemen sewaanku ada di lantai tiga.

“Hosh. Wakatta” Aku membuka, cukup besar untuk seorang gadis kecim seperti diriku.

Aku merapihkan semua barang bawaanku, semuanya, aku membawa banyak sabun dan shampoo, karena pikirku harga disini akan dua kali lipat. Hitung-hitung menghemat.

Krrryyuuukkk~ Aku mendengar suara perutku. “Lapar” gunggamku sambil memegang perutku.

Aku memutuskan untuk mencari supermarket disekitar sini. Aku berharap menemukan sesuatu yang murah.

“Astaga mahal” aku berteriak, inilah sikapku burukku berisik. Aku mengambil sepotong onigiri. Mungki jika dirupiah kan, akan seharga 12.000 harga yang sangat mahal untuk sepotong nasi dengan isi T.T

Akhirnya aku membeli sepotong dan beberpa minuman kaleng. Aku berjalan meuju apartemenku lagi.

“Astaga Etto, Etto” Aku tergagap, melihat seseorang yang berjalan dari kejauhan.

Otakku bekerja, memikirkan sesuatu. Aku berjalan mendekati pria itu, lalu

Braaaakkk. Aku pura-pura menabraknya.

“Maaf,maaf,maaf. Eh Yamapiii lupa, eh. Lupa, maaf lupa. Eh Sory” Ucapku latah.

Ku lihat raut pria itu bingung, namun ada segaris senyum diwajahnya.

“Sory, I’m Lisa. What your name?” Seruku berbahasa Inggris.

“Hmm, Nakayama Yuma” Lelaki itu sedikit terbata.

“Kyaaaaa. Ini benar Nakayama Yuma, artis yang udah dari dulu akuu suki. Yumaaa ohhh” Rasanya seperti ada hanabi didalam hatiku.

“Eh, Sory. I’m from Indonesia. Nice too meet you” Ucapku manis.

“Me too” Seru Yuma, lalu tersenyum lagi. Aku melaksanakan aksi ku, aku meneraktirnya makan disebuah restoran kecil dekat rumah. Cukup mahal, namun inilah pengorbanan.

“Aku menjadi tidak enak denganmu, padahal aku yang salah” Yuma mulai bersuara, tentunya dalam bahasa Jepang.

“Daijobu” Ucapku manis.

“Kau tinggal dimana?” tanyanya

“Dekat sini. Ini alamatku” Aku meberinya kartu nama ku, ku tulis alamat ku dibelakangnya.

“Hmm, kau benar-benar tidak tahu siapa aku?” Tanya Yuma penasaran

“Tidak” Jawabku tegas. Tuhan, aku terpaksa membohongi dia, maaf.maaf.maaf kalau aku bilang ‘iya’ pasti dia tidak mau dekat dengan ku.

“Ah, Yokatta” Seru Yuma sambil menyatap hidangannya

“Kau tinggal dimana?” Tanya ku lalu meneguk the Jepang yang rasanya aneh.

“Dekat dengan apartemenmu, hanya beda blok. Kapan-kapan aku akan main ke aparten mu. Boleh?” Tanyanya.

Astaga. Kini hanabi didalam hatiku semakin meletup-letup. Rasanya indah sekali.

Aku mengagguk dengan pasti.

Bipp. Bippp. Aku melihat ponselku

“Ini Uci, sudah di Jepang?” Ternyata sebuah sms dari Uci. Aku tidak akan lama menggunakan ponsel ini.

“Hubungi aku ke lisa.wulan@ymail.com” Aku mengirim kesemua kontak yang ada di ponselku. Entah berapa banyak pulsa yang ku pakai. Aku akan terus mengunakan ponsel format Jepang, bukan dengan format Indonesia lagi.

“Siapa? Pacarmu?” Tanya Yuma memperhatikan ekspresiku

“Hahahaha”. Aku tertawa, membuat semua pengunjung memperhatikan ku. “Mana ada yang mau dengan ku? aku ini tidak pernah kenal make up, aku juga makannya banyak” Seruku polos, bukan maksudku menjatuhkan diriku, tapi yang ku tahu karakter wanitanya Yuma memang begitu. “Terlebih lagi aku memiliki hoby memancing. Hahaha. Aneh bukan?”

Yuma terdiam, mulutnya sedikit mengangga

“Kakkoiiiiii” Seru hatiku yang menggila.

“Sugooiiiiii” Seru Yuma sambil tersenyum lebar.

“Eh? Nande?” Tanyaku pura-pura tidak tahu

Yuma menggeleng. Lalu kami melanjutkan makan. Sepanjang perjalanan pulang, Yuma terus bertanya tentang memancing, ku rasa dia memang sangat suka dengan memancing. Aku jadi teringat, aku pernah membaca majalah, dimana isinya kalau dia suka sekali memancing. Aku terus menjawab sebisaku. Ku ceritakan keindahan Indonesia. Yuma kau masuk dalam perangkapku.

“Aku disini. Hati-hati. Jyaa mata” Aku masuk kedalam, masih menenteng belanjaan yang tadi kubeli.

Entah mungkin aku adalah orang yang paling jahat, membohongi diri sendiri demi kesenangan ku.

***

OMG. I meet Yuma. Sugooiii

Aku mulai mengetik, menulis judul untuk artikel kali ini. Aku memang suka blog, karena blog bisa menjadi wadah ku untuk mengekspresikan diriku.

Jari-jari tanganku bersentuhan dengan keyboard di tubuh Ryuma, sebuah laptop pemberian ayah.

Ya, aku meuliskan semunya. Aku mengecek email ku, ternyata sudah banyak sekali yang mengirim email.

From : Dinchan

To : lisa wulan

Subject : -

Bagaimana disana? Seru?

Selanjutnya email dari Ucii

Isinya hanya bertanya, sama seperti email dari bunda, mereka anak Fandom,

Aku membalas semua email itu satu persatu, lalu menceritakan apa yang baru saja ku alami.

Aku melihat secercah cahaya cinta dimata Yuma, aku tidak berfikir terlalu jauh, aku juga tidak yakin dia bisa suka padaku, perbedaan status yang membuat kita bagai lagit dan bumi.

Ohayou.Ohayou.Ohayou.Ohayooooooooooooooooooooooooooooo

Aku mematikan alarm berbentuk one pice pemberian Bee itu. Ku tekan kepalanya, lalu berhenti sudah bising ini.

“Harus bergegas” Seru ku dalam hati.

Aku menuruni tangga denga kekuatan ekspres, mencoba tidak telat dihari pertama.

“Ohayou gozaimasu” Yuma menghamiri ku. Astaga Tuhan, ku mohon kuatkan imanku.

“Ohayou, gomen, aku harus cepat pergi. Aku harus kekampus” Aku berlari sambil membawa setumpuk buku yang akan kupelajari.

“Wakatta” Seru ku. ketika ku menemukan stasiun krl. Di Jepang banyak sekali kRLnya, aman dan tertib pula, tidak sepeti di Indonesia hahaha.

Aku tersentak, ketika sampai di Universitas, tidak ada satu orangpun yang ku kenal. Tidak ada ospek juga. Menyebalkan.

“Risa Uran desu ka??” Seseorang mahasiswa menghampiriku. Dengan enak mengganti namaku menjadi Uran (Urang dibacanya)

Aku menagguk, mahasiswa itu cukup tampan, tapi tentu lebih tampan Yuma. Hahaha. Dia mengantarkan ku kesebuah kelas, ya, ini dia ruang kelasku. Besar dan megah.

“Where do you come from?” Tanya mahasiswa itu.

“Indonesia” Jawabku.

“Pintar sekali” Aku tersentak mendengar mahasiswa itu berbicara bahasa Indonesia.

“Loh? Kakak?”

“Iya, aku juga, anata wa no senpai” Mahasiswa itu tersenyum.

“Aku juga melanjutkan S2. Aku akan pulang satu tahun sebelummu”

Aku mengagguk,. Mengikuti langkah mahasiswa itu.

“Siapa namamu?” Tanyaku singkat.

“Kau tak tahu siapa aku?” Mahasiswa itu malah balik bertanya.”Sudahlah tidak penting juga” Mahasiswa itu berlari kecil, meniggalkan aku sendiri diruang kelas yang besarnya seperti sebuah mesjid megah di Jakarta.

Entah apa yang ada dipikranku. Aku memikirkan Yuma, dulu sebelum bertemu dengannya aku juga sering memikirkan Yuma, namun rasanya pikiran ini beda, aku rasa aku menyukainya bukan sebagai seorang fans terhadap idolanya, tapi sebagai seorang Lisa kepada Yuma.

From : Nakachan

To : lisa wulan

Subject : boleh?

Lisa san ne? aku akan main ke apartemenmu hari ini boleh, mungkin jam 7 malam.

Otak dan tangan ini bergerak sesukanya. Mengetik balasan lalu mengirimnya aku mengiyakan rencananya.

Malam Hari

Aku yang baru saja melakukan kewajibanku sebagai seorang muslim beranjak dari sejadah. Lalu membuka pintu, aku tahu, pasti Yuma.

“Eh? Kau pakai apa?” Tanya Yuma yang terkaget dengan mukenah ku.

“Ini, pakaian untuk beribadah” Sepertinya ucapanku membuat Yuma semakin bingung.

“Mau minum apa?” Tanyaku sembari menuju dapur kecil.

“Apa saja. Apartemenmu rapih dan bersih”

“Ahh, biasa saja, perempuan memang harus begini bukan?” Aku membuatkan the manis, minuman khas Indonesia. Lalu membawanya ke ruang tengah.

“Apa ini? Ocha yang manis?” Tanya Yuma bingung

“Karena kau minum sambil memandangiku. Hahahaha” Aku mencoba melawak, aku tahu Yuma suka pada lawakan.

Akhirnya kami berdua tertawa bersama saat itu.

“Eh, Lisa san, aku punya hutang traktiran dengan mu ne?” Yuma meneguk habis The manis buatan ku itu.

“Nani? Tidak ada ko” Aku mencoba menutupi. “Hari ini aku berbelanja, aku akan masak, kau boleh ikut makan jika kau mau” Aku beranjak dari tempat duduk, lalu menuju dapur dan mulai beraksi.

Ku lihat, Yuma perlahan menghampiri, lalu duduk di meja makan, memeperhatikan ku sambil tersenyum.

“Kau masak apa?” Tanya Yuma sesekali.

“Apa saja boleh, tunggu saja” Jawabku singkat.

“Harum” desisnya sambil menghirup aroma masakanku.

“Tadddaaaa” Aku menyajikan sepiring nasi goring dimeja makan, Yuma menyiapkan piring dan sumpit.

“Itadakimasu” Kami berdua makan behadapan.

“Sebenarnya ini apa? Susah sekali” Yuma kesulitan mengambil nasi gorengnya. Ku pikir aku bodoh, nasi goring itu memang susah kalau harus makan pakai sumpit, aku juga tidak memperingtakan dia. Aku memberinya sendok.

“Oishiiii” Yuma berteriak. Membuatku kaget.

“Ini apa?” Tanyanya lagi. Masih penasaran

“Nasi Goreng” Ucapku “Oishi desu ka?”

Yuma mengangguk, lalu kembali menyantap makanannya. Aku tersenyum malu melihat wajahnya yang lucu saat makan, Tuhan ku mohon semoga aku tidak semakin jauh terjebak dikeadaan ini.

“Oishiii. Ahhh kenyang” Ucapnya sembari mengelus perutnya.

“Aku sengaja tidak makan, agar aku bisa meneraktirmu, tapi malah kau yang meneraktirku, 2 kali. Jadi aku harus menggantinya nanti. Dan kau tidak boleh menolaknya”

Aku tersenyum dan mengagguk, mengiyakan permintaannya.

***

Minggu, 19 Juni 2011

If Dream Come True



Mungkin anda kira saya norak atau apalah. narsis juga mungkin. gila iya itu benar. hahahah

Q1: kenapa posting begituan sa udah jelek bgt lagi itu

A: Soalnya itu pikku bibi saya yang nikah sama Orang Jepang.

Q2: bisa jelasin sedikit nga?

A: ini pikku sering jadi motivasi buat saya. kenapa. jawabnya liat deh itu bibi saya (kaka nur) nikah sama orang Jepang. #plaaakkk

Yay, negara impian saya adalah Jepang. yaudah pasti pengen bgt kesana atau apalah. wkwkwkw. Dulu kaka nur ini cuma lulus SD. lulus SD loohhh. terus bantuin ibunya yang nga lain kakak kandung ayah saya. ibunya jualan ayam di pasar. jualan ayam lohh. Bapaknya kaga kerja. kagak kerja loo. Sampe suatu saat dia punya temen yang agency gitu deh. dia diajak buat kerja di Jepang. hellow kerja di Jepang *mupeng* tapi jadi bartender (pelajan bar). Nani? pelayan bar? ohh tiiiddaaak kesannya gimana gitu. dia bilang. kenapa? orang saya kerja uangnya halal. bukan dari yang nga-nga. akhirnya dia kursuslah 6 bulan. terus go to Japan. setahun kemudian dia balik ke Indo. eh, malah bawa gandengan. tuh yang dipoto diatas. Kengo Ushizima namanya. akhirnya Nikah dah tuh. yang paling diinget sih waktu om kengo baca kalimat sahadat. logatnya amppuuunnn bikin ketawa. setelah dia resmi masuk islam, baru deh ijap kabul. dan sekarang udah sah suami istri. karena om Kengo kerja di Jepang ya mereka balik lagi ke Jepang. sekarang udah punya anak namanya Sawa Ushijima. Kawaiiii desu itu si Sawa. wkwkwkwkw *envy m.o*

Sou desu. And sekitar 2 tahun lalu dia bilang "kalo emang mau ke Jepang. nanti kesini ya" kalo nga salah ya. udah lupa juga soalnya.

Edo Gawaku Shinozaki

/-295 Sanyhitu -/03

Tokyo Japan

00.181.80.651 687 35

Nga ngeri itu apaan. tapi kayangya alamat deh *dulu masih polos nga tau apa-apa*

for the end. suatu saat nanti. saya pasti bakal menginjakkan kaki di negara itu. Negara yang selalu membuat saya tersenyum saat mengingatnya. Negara yang membuat semangat saya terkumpul kembali saat saya lemah. Negara yang membuat saya yakin akan kehidupan yang pasti indah ini. Jepang. Nippon. Ganbarimasuuuuuuuuuuuuuuuuuuu


If Dream Come True



Mungkin anda kira saya norak atau apalah. narsis juga mungkin. gila iya itu benar. hahahah

Q1: kenapa posting begituan sa udah jelek bgt lagi itu

A: Soalnya itu pikku bibi saya yang nikah sama Orang Jepang.

Q2: bisa jelasin sedikit nga?

A: ini pikku sering jadi motivasi buat saya. kenapa. jawabnya liat deh itu bibi saya (kaka nur) nikah sama orang Jepang. #plaaakkk

Yay, negara impian saya adalah Jepang. yaudah pasti pengen bgt kesana atau apalah. wkwkwkw. Dulu kaka nur ini cuma lulus SD. lulus SD loohhh. terus bantuin ibunya yang nga lain kakak kandung ayah saya. ibunya jualan ayam di pasar. jualan ayam lohh. Bapaknya kaga kerja. kagak kerja loo. Sampe suatu saat dia punya temen yang agency gitu deh. dia diajak buat kerja di Jepang. hellow kerja di Jepang *mupeng* tapi jadi bartender (pelajan bar). Nani? pelayan bar? ohh tiiiddaaak kesannya gimana gitu. dia bilang. kenapa? orang saya kerja uangnya halal. bukan dari yang nga-nga. akhirnya dia kursuslah 6 bulan. terus go to Japan. setahun kemudian dia balik ke Indo. eh, malah bawa gandengan. tuh yang dipoto diatas. Kengo Ushizima namanya. akhirnya Nikah dah tuh. yang paling diinget sih waktu om kengo baca kalimat sahadat. logatnya amppuuunnn bikin ketawa. setelah dia resmi masuk islam, baru deh ijap kabul. dan sekarang udah sah suami istri. karena om Kengo kerja di Jepang ya mereka balik lagi ke Jepang. sekarang udah punya anak namanya Sawa Ushijima. Kawaiiii desu itu si Sawa. wkwkwkwkw *envy m.o*

Sou desu. And sekitar 2 tahun lalu dia bilang "kalo emang mau ke Jepang. nanti kesini ya" kalo nga salah ya. udah lupa juga soalnya.

Edo Gawaku Shinozaki

/-295 Sanyhitu -/03

Tokyo Japan

00.181.80.651 687 35

Nga ngeri itu apaan. tapi kayangya alamat deh *dulu masih polos nga tau apa-apa*

for the end. suatu saat nanti. saya pasti bakal menginjakkan kaki di negara itu. Negara yang selalu membuat saya tersenyum saat mengingatnya. Negara yang membuat semangat saya terkumpul kembali saat saya lemah. Negara yang membuat saya yakin akan kehidupan yang pasti indah ini. Jepang. Nippon. Ganbarimasuuuuuuuuuuuuuuuuuuu


Selasa, 14 Juni 2011

Kunci DUIT

Aku kembaliiiiiii.

*lirik-lirik judul diatas.

(Apaan tuh sa? ko judulnya KUNCI DIUT? cepet jelasin, bikin orang penasaran aja)

Oke, setiap orang didunia pasti punya mimpi, saya juga punya (emang ada yang nanya?)

Buat wujudin tu mimpi pasti ada banyak cara (yakin pasti ada jalan)

kalo saya mau bahas tentang prinsip DUIT. (lagi-lagi sok misterius)

Oke langsung aja.

D = DO'A

U = USAHA

I = IKHTIAR

T = TAWAKAL.

 

Mimpi kita tanpa DO'A nga bakal bisa jalan. Apalagi yang namanya tanpa USAHA. nah yang IKHTIAR dan TAWAKAL itu faktor pendukung yang kalo mimpi kita udah mentooook kaga kewujud. Percaya atau nga. ALLAH pasti udah nyiapin hal yang menurutnya THE BEST buat umatnya. ALLAH tuh sayang banget sama kita-kita.

GANBARIKUDASAI °\(^▼^)/°

*semangat menuju masa depan yang CERAH.

Kunci DUIT

Aku kembaliiiiiii.

*lirik-lirik judul diatas.

(Apaan tuh sa? ko judulnya KUNCI DIUT? cepet jelasin, bikin orang penasaran aja)

Oke, setiap orang didunia pasti punya mimpi, saya juga punya (emang ada yang nanya?)

Buat wujudin tu mimpi pasti ada banyak cara (yakin pasti ada jalan)

kalo saya mau bahas tentang prinsip DUIT. (lagi-lagi sok misterius)

Oke langsung aja.

D = DO'A

U = USAHA

I = IKHTIAR

T = TAWAKAL.

 

Mimpi kita tanpa DO'A nga bakal bisa jalan. Apalagi yang namanya tanpa USAHA. nah yang IKHTIAR dan TAWAKAL itu faktor pendukung yang kalo mimpi kita udah mentooook kaga kewujud. Percaya atau nga. ALLAH pasti udah nyiapin hal yang menurutnya THE BEST buat umatnya. ALLAH tuh sayang banget sama kita-kita.

GANBARIKUDASAI °\(^▼^)/°

*semangat menuju masa depan yang CERAH.

Senin, 13 Juni 2011

Semangat

Miiiiinnnnaaaa sssaaaannnn. Akhirnya kita bertemu lagi.

Saya kembali dari pertapaan (apa ini pertapaan. Gazenya mulai)

Bahas dibahas, (apa yang dibahas?) oke, kita bahas tenteng MY DREAM atau WATASHI NO YUME atau MIMPI SAYA.

Dihari kepergian ayah ini (ayah lu pergi sa?) Pergi buat cari uang o(╥﹏╥)o

Ya mau nga mau direlainlah, kan dia pergi buat gw sama keluarga juga °\(^▼^)/°
eh,eh ada kejadian yang beeeehhhh biking w nga bisa nelen makanan.

Om gw bilang “Lan, lu tuh jadi kiblat dikeluarga lu. Kalo lu nga jadi orang, adek lu mau patokan kemana?” Gw yang lagi makan biscuit dengan semangat ni ya langsung pelan ngunyahnya. Gw Cuma ngangguk-ngangguk aja. “Bapa lu nga selamanya dilaut lan, lu harus bisa sukses. Seenggaknya punya kerjaan sendiri dan nga ngandelin suami lu nanti. Gw Cuma nganguk-ngangguk aja. Nah dimobil gw mikir : “Gw cuma anak perempuan biasa, bukan dari keluarga yang berada, gw juga punya mimpi yang tingginya ngalahin tiang listrik, tugu monas, gadung bercakar langit, beh mimpi gw tuh setinggi apa ya? Nga bisa diukur kali ya. Padahal mimpi gw simple ko, gw Cuma mau SUKSES, MAKMUR, BISA HIJRAH KENEGARA MATAHARI TERBIT, NAEK HAJIIN EMA BAPAK. Tapi gw mikir lagi. Dengan keadaan diatas, apa gw bisa?. Sepanjang jalan gw mikir aja tuh, bisa nga nih gw. Eh, om gw nyetel radio. Nga tau radio apa. Gw nga perhatiin. Terus nyetus kata-kata. “DIMANA ADA KEMAUAN DISITU ADA JALAN”. Mata gw yang tadinya sayup gara-gara mikirn mimpi yang mungkin nga ya kewujud langsung melek. Langsung aja gw teriak “GANBARIMASU” sampe adek gw sama sepupu gw bangun. Disini gw bener-bener ngerasa motifasi diri sendiri. Tapi nyampe rumah gw kepikiran. “KENAPA KADANG GW BISA SEMANGAT, TAPI KADANG JUGA NGA YAKIN” ini ngambat gw banget. Sumpah. Ampe sekarang juga masih demen tuh yang namanya NGA YAKIN. So, mulai hari ini. Bismillah. Gw mau yakinin diri gw kalo gw BISAAAAAAAAA.

Minta do'anya ya Minna san. AAAAYYYOOOOO kita wujudin mimpi kita.

GANBARIKUDASAI \(´▽`)/ \(´▽`)/ \(´▽`)/

Semangat

Miiiiinnnnaaaa sssaaaannnn. Akhirnya kita bertemu lagi.

Saya kembali dari pertapaan (apa ini pertapaan. Gazenya mulai)

Bahas dibahas, (apa yang dibahas?) oke, kita bahas tenteng MY DREAM atau WATASHI NO YUME atau MIMPI SAYA.

Dihari kepergian ayah ini (ayah lu pergi sa?) Pergi buat cari uang o(╥﹏╥)o

Ya mau nga mau direlainlah, kan dia pergi buat gw sama keluarga juga °\(^▼^)/°
eh,eh ada kejadian yang beeeehhhh biking w nga bisa nelen makanan.

Om gw bilang “Lan, lu tuh jadi kiblat dikeluarga lu. Kalo lu nga jadi orang, adek lu mau patokan kemana?” Gw yang lagi makan biscuit dengan semangat ni ya langsung pelan ngunyahnya. Gw Cuma ngangguk-ngangguk aja. “Bapa lu nga selamanya dilaut lan, lu harus bisa sukses. Seenggaknya punya kerjaan sendiri dan nga ngandelin suami lu nanti. Gw Cuma nganguk-ngangguk aja. Nah dimobil gw mikir : “Gw cuma anak perempuan biasa, bukan dari keluarga yang berada, gw juga punya mimpi yang tingginya ngalahin tiang listrik, tugu monas, gadung bercakar langit, beh mimpi gw tuh setinggi apa ya? Nga bisa diukur kali ya. Padahal mimpi gw simple ko, gw Cuma mau SUKSES, MAKMUR, BISA HIJRAH KENEGARA MATAHARI TERBIT, NAEK HAJIIN EMA BAPAK. Tapi gw mikir lagi. Dengan keadaan diatas, apa gw bisa?. Sepanjang jalan gw mikir aja tuh, bisa nga nih gw. Eh, om gw nyetel radio. Nga tau radio apa. Gw nga perhatiin. Terus nyetus kata-kata. “DIMANA ADA KEMAUAN DISITU ADA JALAN”. Mata gw yang tadinya sayup gara-gara mikirn mimpi yang mungkin nga ya kewujud langsung melek. Langsung aja gw teriak “GANBARIMASU” sampe adek gw sama sepupu gw bangun. Disini gw bener-bener ngerasa motifasi diri sendiri. Tapi nyampe rumah gw kepikiran. “KENAPA KADANG GW BISA SEMANGAT, TAPI KADANG JUGA NGA YAKIN” ini ngambat gw banget. Sumpah. Ampe sekarang juga masih demen tuh yang namanya NGA YAKIN. So, mulai hari ini. Bismillah. Gw mau yakinin diri gw kalo gw BISAAAAAAAAA.

Minta do'anya ya Minna san. AAAAYYYOOOOO kita wujudin mimpi kita.

GANBARIKUDASAI \(´▽`)/ \(´▽`)/ \(´▽`)/

Selasa, 17 Mei 2011

1 Manusia 1.000.000 Impian

Selasa, 17 mei 2011

Impian, kata itu terdengar indah ketika kita melihatnya sebagai kenyataan dan bukan lagi hayal belaka. Siapa sih yang nga punya impian? saya sebagai murid SMK biasa tentunya mempunyai impian. Yang mau saya bahas disiniadalah usaha untuk mewujudkan impian. Saya sendiri masih cilik banget dan rasanya gak pantes buat ngasih saran atau apapun, saya juga masih punya banyak impian yang belum terwujud. Saya pernah membaca suatu artikel. "tulislah impian mu disebuah kertas sebanyak kau mau, lalu pajang dan pandangi impian itu. Percayalah Allah akan memberikan apa yang hambanya pikirkan dan apa  yang terbaik untuk hambanya" Saya sering memikirkan bagaimana masa depan saya. Bagaimana jika saja tidak bisa membuat kedua orang tua saya bangga. Setiap saja Sholat selesai berdoa saya sering sekali teringat akan hal itu. Sampai saya melakukan kiat-kiat diatas. Saya menuliskan semua impian saya. Saya simpan di notes dan setiap malam saya lihat. Saya merasa yakin atas apa yang saya impikan. Saya yakin Allah SWT pasti akan memberikan yang terbaik untuk saya. Yang terbaik menurutNYA. Saya merasa semangat setiap kali saya melihat impian saya. Seperti termotivasi dari dalam diri. Semangat saya bekobar setiap melihat itu. Mungin dengan cara seperti ini saya jadi selalu ingat bahwa saya mempunyai banyak impian, dan saya harus berusaha semaksimal mungkin dan berdo'a sebaik mungkin demi mewujudkan impian itu. Inilah salah satu usaha saya masih terus saya jalani. Semoga saja semua impian saya dapat terwujud. Amiinn..

Lisa Wulan Novianti

1 Manusia 1.000.000 Impian

Selasa, 17 mei 2011

Impian, kata itu terdengar indah ketika kita melihatnya sebagai kenyataan dan bukan lagi hayal belaka. Siapa sih yang nga punya impian? saya sebagai murid SMK biasa tentunya mempunyai impian. Yang mau saya bahas disiniadalah usaha untuk mewujudkan impian. Saya sendiri masih cilik banget dan rasanya gak pantes buat ngasih saran atau apapun, saya juga masih punya banyak impian yang belum terwujud. Saya pernah membaca suatu artikel. "tulislah impian mu disebuah kertas sebanyak kau mau, lalu pajang dan pandangi impian itu. Percayalah Allah akan memberikan apa yang hambanya pikirkan dan apa  yang terbaik untuk hambanya" Saya sering memikirkan bagaimana masa depan saya. Bagaimana jika saja tidak bisa membuat kedua orang tua saya bangga. Setiap saja Sholat selesai berdoa saya sering sekali teringat akan hal itu. Sampai saya melakukan kiat-kiat diatas. Saya menuliskan semua impian saya. Saya simpan di notes dan setiap malam saya lihat. Saya merasa yakin atas apa yang saya impikan. Saya yakin Allah SWT pasti akan memberikan yang terbaik untuk saya. Yang terbaik menurutNYA. Saya merasa semangat setiap kali saya melihat impian saya. Seperti termotivasi dari dalam diri. Semangat saya bekobar setiap melihat itu. Mungin dengan cara seperti ini saya jadi selalu ingat bahwa saya mempunyai banyak impian, dan saya harus berusaha semaksimal mungkin dan berdo'a sebaik mungkin demi mewujudkan impian itu. Inilah salah satu usaha saya masih terus saya jalani. Semoga saja semua impian saya dapat terwujud. Amiinn..

Lisa Wulan Novianti

Kamis, 07 April 2011

Mewujudkan Impian Dengan Menulis 100 Impian Dikertas

ini merupakan sebagian kisah hidupnya yang ambil di blog nya...

Sebuah Titik Penting Hidupku: Dua lembar Kertas Usang dan 100 Mimpi Dec 27, '07 9:33 AM
for everyone

Masih teringat jelas bagaimana aku menuliskan kalimat-kalimat itu pada dua lembar kertas buram setelah tiba di kamar asrama Tingkat Persiapan Bersama di IPB sore itu. Baru saja DKM Al Hurriyah usai menyelenggarakan acara Achievement Motivation Trainer (AMT) dengan menghadirkan seorang pembicara yang sangat luar biasa, Ustadz Aris Ahmad Jaya. Sosok yang di kemudian hari banyak menginspirasiku mencapai hal-hal menakjubkan yang semula hanya terlintas di mimpi belaka.

Untuk kesekian kalinya aku dibuat begitu takjub dengan penampilan dan materi motivasi yang diberikannya.

“Banyak orang yang memiliki mimpi, namun mimpinya itu akhirnya tetap menjadi impian dan khayalan belaka. Alasannya adalah karena mereka menuliskan mimpi-mimpi mereka di dalam ingatan saja. Padahal ingatan manusia itu terbatas. Akibatnya kebanyakan dari mereka itu lupa dengan mimpinya. Dan ketika ingat kembali, waktu mereka telah habis. Dan hanya penyesalan yang dirasa.”

Demikian kurang lebih kata-kata yang beliau sampaikan sebagai pembuka materi beriringan dengan tampilan slide di layar dan backsound yang sangat menawan. Kemudian dengan setengah menghentak beliau berteriak!

“Ubah! Ubah cara pandang anda! Ubah bagaimana anda menuliskan mimpi-mimpi anda. Jangan tulis dalam ingatan anda yang terbatas, karena hal itu ibarat anda menulis di atas pasir. Ketika angin bertiup, hilanglah tulisan itu. Tuliskan secara nyata. Di atas kertas. Tuliskan mimpi-mimpi anda di atasnya. Tempatkan dimana anda akan sering melihatnya. Jika anda ragu... tulis saja 100 target yang ingin anda capai selama di IPB!”

Alunan backsound dari speaker yang memainkan musik instrumental gubahan komponis terkenal Jepang, Kitaro berjudul Koi itu seolah turut menyihir kata-kata yang beliau ucapkan hingga mampu merasuk ke dalam dada setiap peserta yang hadir. Masing-masing peserta seolah tersihir oleh suasana. Semuanya khusyuk mendengarkan kata demi kata dari Sang Trainer, termasuk diriku yang dengan serius mencatat kata-kata tersebut dalam buku catatan.

“...dan nanti anda akan lihat. Bagaimana luar biasanya Allah mewujudkan setiap mimpi-mimpi itu, jauh lebih luar biasa daripada yang bisa anda bayangkan... tuliskan segera, dan suatu hari yang akan anda lihat dari tulisan anda itu hanyalah coretan-coretan. Coretan karena anda telah mencapainya...”

Dan itulah yang aku lakukan. Di atas dua lembar kertas buram itulah aku menuliskannya. 100 target. Target-target sederhana hingga impian-impianku, tanpa banyak berpikir rumit, aku benar-benar menuliskan apa yang terlintas di pikiranku saat itu, seperti yang Ustadz Aris katakan waktu itu. Dan jadilah, 100 target itu. Aku tempel di pintu lemari bajuku hingga setiap saat aku bisa melihatnya. Ada kepuasan tersendiri ketika melihatnya. Namun tak sedikit juga yang berkomentar setiap kali melihat target-target yang tertulis di sana.

”Buat apa Nang kamu nulis repot-repot begitu”. “Sombong banget sih lo...” atau bahkan dengan nada meremehkan “Udah Nang, ini mah bukan lagi zamannya untuk bermimpi. Realistis sedikitlah”

Setelah begitu banyak komentar, akhirnya aku melepas dua lembar kertas itu dan memindahkannya di atas tempat tidurku hingga setiap akan tidur atau bangun pagi aku bisa melihatnya. Setidaknya komentar-komentar itu tak lagi terdengar setelah itu.

Aku baru benar-benar menyadari bahwa dua lembar kertas itu kini sudah begitu usangnya... usang oleh berbagai macam coretan-coretan di atasnya, dan usang oleh keringat di tanganku setiap kali memegangnya. Tapi yang pasti... kini setiap aku melihatnya kembali yang bisa aku katakan adalah: “Subhanallah...Luar biasa...”

Apa yang aku tuliskan di atas dua lembar kertas itu, yang dahulu begitu banyak orang yang mencemooh dan meremehkannya... kini... satu persatu tanpa aku sadari benar-benar terwujud. Dan benar... seberapapun luar biasanya rencana dan kalimat yang kutuliskan di atasnya... rencana Allah jauh lebih luar biasa, persis seperti yang dikatakan Ustadz Aris waktu itu.

Mahasiswa Berprestasi.. Meski awalnya hanya aku tuliskan setelah mendengar cerita Mas Anuraga Jayanegara, dan terinspirasi dari majalah-majalah mahasiswa.Ternyata... tak aku sangka aku akan bisa mencapainya, bahkan hingga tingkat nasional dan menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang begitu bergengsi dan MTQ Mahasiswa Nasional... tak aku sangka aku bisa ke sana dengan cara-cara luar biasa dan tak terkira, padahal mulanya semua itu terinspirasi dari penuturan penuturan kakak tingkat atau teman-teman di kampus.

Setiap kali mengingat semua itu, sepenggal lirik Nasyid dari Justice Voice yang terinspirasi dari surat Ar Rahman terdengar begitu nyaring di kepalaku ”...Nikmat yang manakah lagi yang akan kau dustai, setelah begitu banyak nikmat yang Ia beri...”

Dan kini ketika menatap dua lembar kertas usang yang hampir tercerai berai itu... delapanpuluhtiga. Ya... target nomor 83 bertuliskan “Aku ingin melanjutkan sekolah keluar negeri setelah tamat IPB!”

Tapi tahukah apa yang terjadi?...semuanya seolah terulang kembali... seberapapun luar biasanya rencana yang kita buat... rencana Allah jauh lebih luar biasa...

***

Burung besi kebanggaan bangsa itu akhirnya mendarat di Narita International Airport. Sambil menunggu pilot selesai memarkirkan Sang Garuda, negeri para Samurai dulu itu terlihat begitu dingin dari jendela pesawat yang basah oleh air hujan. Mungkin musim gugur telah hadir di bulan ini seperti yang aku baca di internet sebelumnya.

Dikejauhan perlahan tampak tulisan berwarna merah menyala. Yokoso Japan. Yang di kemudian hari aku ketahui artinya sebagai: “Selamat Datang di Jepang”. Kututup buku catatan dan dua lembar kertas usang bertuliskan 100 targetku dengan coretan-coretannya itu... air mata ini menetes dengan perihnya dan panasnya mata. “Nikmat yang manakah lagi yang akan kau dustasi?” Nang... hanya tarikan nafas panjang yang bisa aku lakukan...

Seolah suara merdu Celine Dion dalam video motivasi tentang para peserta paralympic, olimpiade bagi orang-orang yang cacat namun mampu mengukir sejarah itu, yang diputar Ustadz Aris 2 tahun lalu itu terdengar kembali... Realize the Power of The Dreams... ternyata Allah membukakan jalan bagiku ke Jepang... sebelum tamat dari IPB...

Dan dimulailah jejak-jejak ini... dibuat....

Pembuat Jejak

Ini Penampakan orangnya



Danang A. Prabowo

Kalo mau tau tentang orangnya langsung buka blognya :

http://danangap7.multiply.com/

http://profiles.friendster.com/pembuatjejak#moreabout

Mewujudkan Impian Dengan Menulis 100 Impian Dikertas

ini merupakan sebagian kisah hidupnya yang ambil di blog nya...

Sebuah Titik Penting Hidupku: Dua lembar Kertas Usang dan 100 Mimpi Dec 27, '07 9:33 AM
for everyone

Masih teringat jelas bagaimana aku menuliskan kalimat-kalimat itu pada dua lembar kertas buram setelah tiba di kamar asrama Tingkat Persiapan Bersama di IPB sore itu. Baru saja DKM Al Hurriyah usai menyelenggarakan acara Achievement Motivation Trainer (AMT) dengan menghadirkan seorang pembicara yang sangat luar biasa, Ustadz Aris Ahmad Jaya. Sosok yang di kemudian hari banyak menginspirasiku mencapai hal-hal menakjubkan yang semula hanya terlintas di mimpi belaka.

Untuk kesekian kalinya aku dibuat begitu takjub dengan penampilan dan materi motivasi yang diberikannya.

“Banyak orang yang memiliki mimpi, namun mimpinya itu akhirnya tetap menjadi impian dan khayalan belaka. Alasannya adalah karena mereka menuliskan mimpi-mimpi mereka di dalam ingatan saja. Padahal ingatan manusia itu terbatas. Akibatnya kebanyakan dari mereka itu lupa dengan mimpinya. Dan ketika ingat kembali, waktu mereka telah habis. Dan hanya penyesalan yang dirasa.”

Demikian kurang lebih kata-kata yang beliau sampaikan sebagai pembuka materi beriringan dengan tampilan slide di layar dan backsound yang sangat menawan. Kemudian dengan setengah menghentak beliau berteriak!

“Ubah! Ubah cara pandang anda! Ubah bagaimana anda menuliskan mimpi-mimpi anda. Jangan tulis dalam ingatan anda yang terbatas, karena hal itu ibarat anda menulis di atas pasir. Ketika angin bertiup, hilanglah tulisan itu. Tuliskan secara nyata. Di atas kertas. Tuliskan mimpi-mimpi anda di atasnya. Tempatkan dimana anda akan sering melihatnya. Jika anda ragu... tulis saja 100 target yang ingin anda capai selama di IPB!”

Alunan backsound dari speaker yang memainkan musik instrumental gubahan komponis terkenal Jepang, Kitaro berjudul Koi itu seolah turut menyihir kata-kata yang beliau ucapkan hingga mampu merasuk ke dalam dada setiap peserta yang hadir. Masing-masing peserta seolah tersihir oleh suasana. Semuanya khusyuk mendengarkan kata demi kata dari Sang Trainer, termasuk diriku yang dengan serius mencatat kata-kata tersebut dalam buku catatan.

“...dan nanti anda akan lihat. Bagaimana luar biasanya Allah mewujudkan setiap mimpi-mimpi itu, jauh lebih luar biasa daripada yang bisa anda bayangkan... tuliskan segera, dan suatu hari yang akan anda lihat dari tulisan anda itu hanyalah coretan-coretan. Coretan karena anda telah mencapainya...”

Dan itulah yang aku lakukan. Di atas dua lembar kertas buram itulah aku menuliskannya. 100 target. Target-target sederhana hingga impian-impianku, tanpa banyak berpikir rumit, aku benar-benar menuliskan apa yang terlintas di pikiranku saat itu, seperti yang Ustadz Aris katakan waktu itu. Dan jadilah, 100 target itu. Aku tempel di pintu lemari bajuku hingga setiap saat aku bisa melihatnya. Ada kepuasan tersendiri ketika melihatnya. Namun tak sedikit juga yang berkomentar setiap kali melihat target-target yang tertulis di sana.

”Buat apa Nang kamu nulis repot-repot begitu”. “Sombong banget sih lo...” atau bahkan dengan nada meremehkan “Udah Nang, ini mah bukan lagi zamannya untuk bermimpi. Realistis sedikitlah”

Setelah begitu banyak komentar, akhirnya aku melepas dua lembar kertas itu dan memindahkannya di atas tempat tidurku hingga setiap akan tidur atau bangun pagi aku bisa melihatnya. Setidaknya komentar-komentar itu tak lagi terdengar setelah itu.

Aku baru benar-benar menyadari bahwa dua lembar kertas itu kini sudah begitu usangnya... usang oleh berbagai macam coretan-coretan di atasnya, dan usang oleh keringat di tanganku setiap kali memegangnya. Tapi yang pasti... kini setiap aku melihatnya kembali yang bisa aku katakan adalah: “Subhanallah...Luar biasa...”

Apa yang aku tuliskan di atas dua lembar kertas itu, yang dahulu begitu banyak orang yang mencemooh dan meremehkannya... kini... satu persatu tanpa aku sadari benar-benar terwujud. Dan benar... seberapapun luar biasanya rencana dan kalimat yang kutuliskan di atasnya... rencana Allah jauh lebih luar biasa, persis seperti yang dikatakan Ustadz Aris waktu itu.

Mahasiswa Berprestasi.. Meski awalnya hanya aku tuliskan setelah mendengar cerita Mas Anuraga Jayanegara, dan terinspirasi dari majalah-majalah mahasiswa.Ternyata... tak aku sangka aku akan bisa mencapainya, bahkan hingga tingkat nasional dan menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang begitu bergengsi dan MTQ Mahasiswa Nasional... tak aku sangka aku bisa ke sana dengan cara-cara luar biasa dan tak terkira, padahal mulanya semua itu terinspirasi dari penuturan penuturan kakak tingkat atau teman-teman di kampus.

Setiap kali mengingat semua itu, sepenggal lirik Nasyid dari Justice Voice yang terinspirasi dari surat Ar Rahman terdengar begitu nyaring di kepalaku ”...Nikmat yang manakah lagi yang akan kau dustai, setelah begitu banyak nikmat yang Ia beri...”

Dan kini ketika menatap dua lembar kertas usang yang hampir tercerai berai itu... delapanpuluhtiga. Ya... target nomor 83 bertuliskan “Aku ingin melanjutkan sekolah keluar negeri setelah tamat IPB!”

Tapi tahukah apa yang terjadi?...semuanya seolah terulang kembali... seberapapun luar biasanya rencana yang kita buat... rencana Allah jauh lebih luar biasa...

***

Burung besi kebanggaan bangsa itu akhirnya mendarat di Narita International Airport. Sambil menunggu pilot selesai memarkirkan Sang Garuda, negeri para Samurai dulu itu terlihat begitu dingin dari jendela pesawat yang basah oleh air hujan. Mungkin musim gugur telah hadir di bulan ini seperti yang aku baca di internet sebelumnya.

Dikejauhan perlahan tampak tulisan berwarna merah menyala. Yokoso Japan. Yang di kemudian hari aku ketahui artinya sebagai: “Selamat Datang di Jepang”. Kututup buku catatan dan dua lembar kertas usang bertuliskan 100 targetku dengan coretan-coretannya itu... air mata ini menetes dengan perihnya dan panasnya mata. “Nikmat yang manakah lagi yang akan kau dustasi?” Nang... hanya tarikan nafas panjang yang bisa aku lakukan...

Seolah suara merdu Celine Dion dalam video motivasi tentang para peserta paralympic, olimpiade bagi orang-orang yang cacat namun mampu mengukir sejarah itu, yang diputar Ustadz Aris 2 tahun lalu itu terdengar kembali... Realize the Power of The Dreams... ternyata Allah membukakan jalan bagiku ke Jepang... sebelum tamat dari IPB...

Dan dimulailah jejak-jejak ini... dibuat....

Pembuat Jejak

Ini Penampakan orangnya



Danang A. Prabowo

Kalo mau tau tentang orangnya langsung buka blognya :

http://danangap7.multiply.com/

http://profiles.friendster.com/pembuatjejak#moreabout

10 Rahasia Sukses Orang Jepang


Apa sajakah sikap-sikap orang Jepang yang bisa kita contoh biar bisa sukses kayak bangsa mereka ??
Berikut adalah 10 rahasia Sukses orang Jepang :

1. Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.


3. Hidup Hemat


Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.


4. Loyalitas


Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.


5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.


6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.


8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.


10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.


Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.


Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

10 Rahasia Sukses Orang Jepang


Apa sajakah sikap-sikap orang Jepang yang bisa kita contoh biar bisa sukses kayak bangsa mereka ??
Berikut adalah 10 rahasia Sukses orang Jepang :

1. Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.


3. Hidup Hemat


Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.


4. Loyalitas


Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.


5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.


6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.


8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.


10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.


Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.


Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.