Tampilkan postingan dengan label japan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label japan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2011

Hey! Say! JUMP member Bowed For Ryutaro

Picture from Kenken18 Tumblr


ALL JUMP MEMBERS’ APOLOGY about Ryutaro



Group Idol Hey!Say!JUMP started their entertainment show [SUMMARY 2011] in TOKYO DOME CITY HALL at today, August 7.

Hey! Say! JUMP member Bowed For Ryutaro

Picture from Kenken18 Tumblr


ALL JUMP MEMBERS’ APOLOGY about Ryutaro



Group Idol Hey!Say!JUMP started their entertainment show [SUMMARY 2011] in TOKYO DOME CITY HALL at today, August 7.

Minggu, 31 Juli 2011

Chibi MaRYUTARO-Chan

Miina san. I wanna tell to you about one Japan Dorama.

hahahahaha.

Cast :

Ryutaro Morimoto as MaRYUTARO-chan

Ryosuke Yamada as Oneechan

Yuri Chinen as Hanawa Kazuhiko

Yuto Nakajima as Sueo Marou.

Buakakakkakakakaka. I wanna watch this dorama. huahahahhaa

Seandainya menjadi kenyaatan. hahahaha.

Amiiiiinnnnnn. hahahahaha

Prreeettt

#Gubbrrraaaakkk

Chibi MaRYUTARO-Chan

Miina san. I wanna tell to you about one Japan Dorama.

hahahahaha.

Cast :

Ryutaro Morimoto as MaRYUTARO-chan

Ryosuke Yamada as Oneechan

Yuri Chinen as Hanawa Kazuhiko

Yuto Nakajima as Sueo Marou.

Buakakakkakakakaka. I wanna watch this dorama. huahahahhaa

Seandainya menjadi kenyaatan. hahahaha.

Amiiiiinnnnnn. hahahahaha

Prreeettt

#Gubbrrraaaakkk

Minggu, 03 Juli 2011

Fanfiction 'Watashi No Yume 2-end'

-1 tahun kemudian-

“Suki desu” Aku menjawab dengan lantang, mungkin karena aku benar-benar menyukainya sekarang.

“Kalau begitu kita jadian? Ayo ikut, aku akan meneraktirmu makan” Yuma menarik tanganku lembut, membawa ku masuk kedalam mobilnya.

Fanfiction 'Watashi No Yume 2-end'

-1 tahun kemudian-

“Suki desu” Aku menjawab dengan lantang, mungkin karena aku benar-benar menyukainya sekarang.

“Kalau begitu kita jadian? Ayo ikut, aku akan meneraktirmu makan” Yuma menarik tanganku lembut, membawa ku masuk kedalam mobilnya.

Fanfiction 'Watashi No Yume 2-end'

-1 tahun kemudian-

“Suki desu” Aku menjawab dengan lantang, mungkin karena aku benar-benar menyukainya sekarang.

“Kalau begitu kita jadian? Ayo ikut, aku akan meneraktirmu makan” Yuma menarik tanganku lembut, membawa ku masuk kedalam mobilnya.

Fanfiction 'Watashi No Yume 1'

Fanfiction

Title : Watashi no Yume

Genre : nga tau T.T

Cast : Nakayama Yuma (NYC), Atashi,  Uci Pradipta, Dinchan tegoshi,

WATASHI NO YUME


Lisa-Nii belajar melulu sih. Ayo ero lagi. Kangen tau” Aku membuha ponselku yang berdering cukup keras. Belakangan ini aku memang fokus untuk belajar. Jadi jarang sekali aku berkomunikasi dengan semua teman yang ada.

Fanfiction 'Watashi No Yume 1'

Fanfiction

Title : Watashi no Yume

Genre : nga tau T.T

Cast : Nakayama Yuma (NYC), Atashi,  Uci Pradipta, Dinchan tegoshi,

WATASHI NO YUME


Lisa-Nii belajar melulu sih. Ayo ero lagi. Kangen tau” Aku membuha ponselku yang berdering cukup keras. Belakangan ini aku memang fokus untuk belajar. Jadi jarang sekali aku berkomunikasi dengan semua teman yang ada.

Fanfiction 'Watashi No Yume 1'

Fanfiction

Title : Watashi no Yume

Genre : nga tau T.T

Cast : Nakayama Yuma (NYC), Atashi,  Uci Pradipta, Dinchan tegoshi,

WATASHI NO YUME


Lisa-Nii belajar melulu sih. Ayo ero lagi. Kangen tau” Aku membuha ponselku yang berdering cukup keras. Belakangan ini aku memang fokus untuk belajar. Jadi jarang sekali aku berkomunikasi dengan semua teman yang ada.

Fanfiction 'Watashi No Yume 1'

Fanfiction

Title : Watashi no Yume

Genre : nga tau T.T

Cast : Nakayama Yuma (NYC), Atashi,  Uci Pradipta, Dinchan tegoshi,

WATASHI NO YUME


Lisa-Nii belajar melulu sih. Ayo ero lagi. Kangen tau” Aku membuha ponselku yang berdering cukup keras. Belakangan ini aku memang fokus untuk belajar. Jadi jarang sekali aku berkomunikasi dengan semua teman yang ada.

Gomen, demo aku harus masih apalin beberapa kata dasar bahasa Jepang ci” Aku mulai mengetik, membalas sms dari Uci, kita sama-sama fandom.

“Un. Iya deh yang dapet beasiswa. Jangan lupa kalo balik kesini oleh-oleh.hahaha” Uci membalas sms ku lagi. Namun aku tidak memablasnya, mataku masih tertuju pada kata-kata dasar ini.

Aku kuliah di Universitas Negri di Indonesia, seseorang mengubah hidup ku, dulu dia pernah bilang “Kalau kita berfikir bisa, kita bisa” Kata-kata itu masih jelas terukur dibenakku. Walau waktu telah berganti dari tahun ketahun. Mungkin karena dia juga begitu spesial bagiku. Sehingga membuatku berfikir mungkin tidak aka nada lagi lelaki yang bisa ku suka. Namun semua berubah begitu aku menjadi sorang Fansgirl.

#Bandara Soekarno Hatta#

“Jaga diri baik-baik. Jangan lupa belajar yang bener” Mama memeluk ku erat, pelukannya seakan bahagia, melihat putrid pertamanya berangkat menegjari cita-citanya.

“Iya ma, Bal, jaga mama baik-baik ya” Seruku singkat sembari menepuk pundak adik laki-laki ku.

Tak lama, aku mendengar sebuah panggilan, aku mengecek nomer pesawatku. Yay, it’s time to go.

Perlahan aku melambaikan tangan pada semua keluarga ku yang mengantar. Demi sebuah senyum yang indah.

#

Aku duduk di bangku pesawat, nomer 13. Ku fikir nomer sial. Hahah, habis selalu banyak orang yang beranggapan bahwa 13 nomer sial. Tapi ya aku tidak perduli. Yang penting aku sampai selamat ditempat tujuan.

Sehari aku menginap di singapura. Negara tetangga. Pukul tujuh nanti, penerbangan akan berlanjut.

Mata ku terbelalak, aku sedikit mengusap mataku. Ada rasa sedikit tidak yakin

WELCOME TO NARITA AIRPORT

“Sugoooii” Lirih ku pelan.

“Lisa san. Lisa san” Sensei Eka menyambutku. Beliau sensei di universitas ku, sayang dia hanya menemani ku satu hari.

“Lisa san, semuanya sudah disiapkan, kau punya satu apartemen kecil” Sensei membatu mengangkat barang-barangku.

“Arigatou sensei” Aku mengangkat barang-barangku juga. Aku disini menyelesaikan S2. Sastra Jepang.

“Waaahhh, besarnya” Aku bergeming dalam hati. Saat sampai disemuah apart dekat Osaka.

“Sensei, bagaimana bisa online?” Pikiranku langsung tertuju pada setingan internet.

“Ini, pakai” Sensei memberiku sebuah modem internet.

“Seterusnya kau isi sendiri, anggap saja itu hadiah dari sensei” Aku menerimanya dengan lapang dada.

“Sensei harus pulang pukul 3 nanti” Sensei mengambil sebuah buku kecil dari sakunya.

“Untukmu” Diberikannya buku itu

“Eh? Sensei member buku ini? Apa maksudnya?” Aku terheran melihat buku dengan kanji dan berjudul ‘Cara Meluluhkan Hati Seorang Lelaki’

“Sekalian, siapa tahu jodoh mu ada disini” Sensei tertawa.

“Etto Sensei, bukannya jam 3 itu satu jam lagi ya?” Aku melihat ponselku yang sudah kuseting dengan jam Jepang.

“Eh? Hontoo ni?” Sensei sedikit panik. Sia langsung bergegas.

“Jaga dirimu baik-baik ya. Sensei akan kirim email untukmu” Sensei memberhantikan taksi yang lalu lalang didpan kami.

Aku melambaikan tangan dari kejauhan. Sampai taksi yang sensei naiki menghilang dipandanganku.

Aku menghembuskan nafas panjang. “Berbeda dengan Indonesia” Perlahan aku menaiki tangga. Apartemen sewaanku ada di lantai tiga.

“Hosh. Wakatta” Aku membuka, cukup besar untuk seorang gadis kecim seperti diriku.

Aku merapihkan semua barang bawaanku, semuanya, aku membawa banyak sabun dan shampoo, karena pikirku harga disini akan dua kali lipat. Hitung-hitung menghemat.

Krrryyuuukkk~ Aku mendengar suara perutku. “Lapar” gunggamku sambil memegang perutku.

Aku memutuskan untuk mencari supermarket disekitar sini. Aku berharap menemukan sesuatu yang murah.

“Astaga mahal” aku berteriak, inilah sikapku burukku berisik. Aku mengambil sepotong onigiri. Mungki jika dirupiah kan, akan seharga 12.000 harga yang sangat mahal untuk sepotong nasi dengan isi T.T

Akhirnya aku membeli sepotong dan beberpa minuman kaleng. Aku berjalan meuju apartemenku lagi.

“Astaga Etto, Etto” Aku tergagap, melihat seseorang yang berjalan dari kejauhan.

Otakku bekerja, memikirkan sesuatu. Aku berjalan mendekati pria itu, lalu

Braaaakkk. Aku pura-pura menabraknya.

“Maaf,maaf,maaf. Eh Yamapiii lupa, eh. Lupa, maaf lupa. Eh Sory” Ucapku latah.

Ku lihat raut pria itu bingung, namun ada segaris senyum diwajahnya.

“Sory, I’m Lisa. What your name?” Seruku berbahasa Inggris.

“Hmm, Nakayama Yuma” Lelaki itu sedikit terbata.

“Kyaaaaa. Ini benar Nakayama Yuma, artis yang udah dari dulu akuu suki. Yumaaa ohhh” Rasanya seperti ada hanabi didalam hatiku.

“Eh, Sory. I’m from Indonesia. Nice too meet you” Ucapku manis.

“Me too” Seru Yuma, lalu tersenyum lagi. Aku melaksanakan aksi ku, aku meneraktirnya makan disebuah restoran kecil dekat rumah. Cukup mahal, namun inilah pengorbanan.

“Aku menjadi tidak enak denganmu, padahal aku yang salah” Yuma mulai bersuara, tentunya dalam bahasa Jepang.

“Daijobu” Ucapku manis.

“Kau tinggal dimana?” tanyanya

“Dekat sini. Ini alamatku” Aku meberinya kartu nama ku, ku tulis alamat ku dibelakangnya.

“Hmm, kau benar-benar tidak tahu siapa aku?” Tanya Yuma penasaran

“Tidak” Jawabku tegas. Tuhan, aku terpaksa membohongi dia, maaf.maaf.maaf kalau aku bilang ‘iya’ pasti dia tidak mau dekat dengan ku.

“Ah, Yokatta” Seru Yuma sambil menyatap hidangannya

“Kau tinggal dimana?” Tanya ku lalu meneguk the Jepang yang rasanya aneh.

“Dekat dengan apartemenmu, hanya beda blok. Kapan-kapan aku akan main ke aparten mu. Boleh?” Tanyanya.

Astaga. Kini hanabi didalam hatiku semakin meletup-letup. Rasanya indah sekali.

Aku mengagguk dengan pasti.

Bipp. Bippp. Aku melihat ponselku

“Ini Uci, sudah di Jepang?” Ternyata sebuah sms dari Uci. Aku tidak akan lama menggunakan ponsel ini.

“Hubungi aku ke lisa.wulan@ymail.com” Aku mengirim kesemua kontak yang ada di ponselku. Entah berapa banyak pulsa yang ku pakai. Aku akan terus mengunakan ponsel format Jepang, bukan dengan format Indonesia lagi.

“Siapa? Pacarmu?” Tanya Yuma memperhatikan ekspresiku

“Hahahaha”. Aku tertawa, membuat semua pengunjung memperhatikan ku. “Mana ada yang mau dengan ku? aku ini tidak pernah kenal make up, aku juga makannya banyak” Seruku polos, bukan maksudku menjatuhkan diriku, tapi yang ku tahu karakter wanitanya Yuma memang begitu. “Terlebih lagi aku memiliki hoby memancing. Hahaha. Aneh bukan?”

Yuma terdiam, mulutnya sedikit mengangga

“Kakkoiiiiii” Seru hatiku yang menggila.

“Sugooiiiiii” Seru Yuma sambil tersenyum lebar.

“Eh? Nande?” Tanyaku pura-pura tidak tahu

Yuma menggeleng. Lalu kami melanjutkan makan. Sepanjang perjalanan pulang, Yuma terus bertanya tentang memancing, ku rasa dia memang sangat suka dengan memancing. Aku jadi teringat, aku pernah membaca majalah, dimana isinya kalau dia suka sekali memancing. Aku terus menjawab sebisaku. Ku ceritakan keindahan Indonesia. Yuma kau masuk dalam perangkapku.

“Aku disini. Hati-hati. Jyaa mata” Aku masuk kedalam, masih menenteng belanjaan yang tadi kubeli.

Entah mungkin aku adalah orang yang paling jahat, membohongi diri sendiri demi kesenangan ku.

***

OMG. I meet Yuma. Sugooiii

Aku mulai mengetik, menulis judul untuk artikel kali ini. Aku memang suka blog, karena blog bisa menjadi wadah ku untuk mengekspresikan diriku.

Jari-jari tanganku bersentuhan dengan keyboard di tubuh Ryuma, sebuah laptop pemberian ayah.

Ya, aku meuliskan semunya. Aku mengecek email ku, ternyata sudah banyak sekali yang mengirim email.

From : Dinchan

To : lisa wulan

Subject : -

Bagaimana disana? Seru?

Selanjutnya email dari Ucii

Isinya hanya bertanya, sama seperti email dari bunda, mereka anak Fandom,

Aku membalas semua email itu satu persatu, lalu menceritakan apa yang baru saja ku alami.

Aku melihat secercah cahaya cinta dimata Yuma, aku tidak berfikir terlalu jauh, aku juga tidak yakin dia bisa suka padaku, perbedaan status yang membuat kita bagai lagit dan bumi.

Ohayou.Ohayou.Ohayou.Ohayooooooooooooooooooooooooooooo

Aku mematikan alarm berbentuk one pice pemberian Bee itu. Ku tekan kepalanya, lalu berhenti sudah bising ini.

“Harus bergegas” Seru ku dalam hati.

Aku menuruni tangga denga kekuatan ekspres, mencoba tidak telat dihari pertama.

“Ohayou gozaimasu” Yuma menghamiri ku. Astaga Tuhan, ku mohon kuatkan imanku.

“Ohayou, gomen, aku harus cepat pergi. Aku harus kekampus” Aku berlari sambil membawa setumpuk buku yang akan kupelajari.

“Wakatta” Seru ku. ketika ku menemukan stasiun krl. Di Jepang banyak sekali kRLnya, aman dan tertib pula, tidak sepeti di Indonesia hahaha.

Aku tersentak, ketika sampai di Universitas, tidak ada satu orangpun yang ku kenal. Tidak ada ospek juga. Menyebalkan.

“Risa Uran desu ka??” Seseorang mahasiswa menghampiriku. Dengan enak mengganti namaku menjadi Uran (Urang dibacanya)

Aku menagguk, mahasiswa itu cukup tampan, tapi tentu lebih tampan Yuma. Hahaha. Dia mengantarkan ku kesebuah kelas, ya, ini dia ruang kelasku. Besar dan megah.

“Where do you come from?” Tanya mahasiswa itu.

“Indonesia” Jawabku.

“Pintar sekali” Aku tersentak mendengar mahasiswa itu berbicara bahasa Indonesia.

“Loh? Kakak?”

“Iya, aku juga, anata wa no senpai” Mahasiswa itu tersenyum.

“Aku juga melanjutkan S2. Aku akan pulang satu tahun sebelummu”

Aku mengagguk,. Mengikuti langkah mahasiswa itu.

“Siapa namamu?” Tanyaku singkat.

“Kau tak tahu siapa aku?” Mahasiswa itu malah balik bertanya.”Sudahlah tidak penting juga” Mahasiswa itu berlari kecil, meniggalkan aku sendiri diruang kelas yang besarnya seperti sebuah mesjid megah di Jakarta.

Entah apa yang ada dipikranku. Aku memikirkan Yuma, dulu sebelum bertemu dengannya aku juga sering memikirkan Yuma, namun rasanya pikiran ini beda, aku rasa aku menyukainya bukan sebagai seorang fans terhadap idolanya, tapi sebagai seorang Lisa kepada Yuma.

From : Nakachan

To : lisa wulan

Subject : boleh?

Lisa san ne? aku akan main ke apartemenmu hari ini boleh, mungkin jam 7 malam.

Otak dan tangan ini bergerak sesukanya. Mengetik balasan lalu mengirimnya aku mengiyakan rencananya.

Malam Hari

Aku yang baru saja melakukan kewajibanku sebagai seorang muslim beranjak dari sejadah. Lalu membuka pintu, aku tahu, pasti Yuma.

“Eh? Kau pakai apa?” Tanya Yuma yang terkaget dengan mukenah ku.

“Ini, pakaian untuk beribadah” Sepertinya ucapanku membuat Yuma semakin bingung.

“Mau minum apa?” Tanyaku sembari menuju dapur kecil.

“Apa saja. Apartemenmu rapih dan bersih”

“Ahh, biasa saja, perempuan memang harus begini bukan?” Aku membuatkan the manis, minuman khas Indonesia. Lalu membawanya ke ruang tengah.

“Apa ini? Ocha yang manis?” Tanya Yuma bingung

“Karena kau minum sambil memandangiku. Hahahaha” Aku mencoba melawak, aku tahu Yuma suka pada lawakan.

Akhirnya kami berdua tertawa bersama saat itu.

“Eh, Lisa san, aku punya hutang traktiran dengan mu ne?” Yuma meneguk habis The manis buatan ku itu.

“Nani? Tidak ada ko” Aku mencoba menutupi. “Hari ini aku berbelanja, aku akan masak, kau boleh ikut makan jika kau mau” Aku beranjak dari tempat duduk, lalu menuju dapur dan mulai beraksi.

Ku lihat, Yuma perlahan menghampiri, lalu duduk di meja makan, memeperhatikan ku sambil tersenyum.

“Kau masak apa?” Tanya Yuma sesekali.

“Apa saja boleh, tunggu saja” Jawabku singkat.

“Harum” desisnya sambil menghirup aroma masakanku.

“Tadddaaaa” Aku menyajikan sepiring nasi goring dimeja makan, Yuma menyiapkan piring dan sumpit.

“Itadakimasu” Kami berdua makan behadapan.

“Sebenarnya ini apa? Susah sekali” Yuma kesulitan mengambil nasi gorengnya. Ku pikir aku bodoh, nasi goring itu memang susah kalau harus makan pakai sumpit, aku juga tidak memperingtakan dia. Aku memberinya sendok.

“Oishiiii” Yuma berteriak. Membuatku kaget.

“Ini apa?” Tanyanya lagi. Masih penasaran

“Nasi Goreng” Ucapku “Oishi desu ka?”

Yuma mengangguk, lalu kembali menyantap makanannya. Aku tersenyum malu melihat wajahnya yang lucu saat makan, Tuhan ku mohon semoga aku tidak semakin jauh terjebak dikeadaan ini.

“Oishiii. Ahhh kenyang” Ucapnya sembari mengelus perutnya.

“Aku sengaja tidak makan, agar aku bisa meneraktirmu, tapi malah kau yang meneraktirku, 2 kali. Jadi aku harus menggantinya nanti. Dan kau tidak boleh menolaknya”

Aku tersenyum dan mengagguk, mengiyakan permintaannya.

***

Sing With KAT-TUN

Ciiiillluuukkk buaaaaaaaaaaa.

Miina san. Genki desu ne?

Walah. saya ini ketinggalan jaman banget ya?

Hari gini baru bangun dari ke jadulan.

Miina, masa saya baru tau yang namanya KAT-TUN.



Itu liat om.om kakkoi itu, mereka punya suara yang beeehhh menyentuh saya.

Fall in love with SHE SAID. wkwkwkw

asli ini lagu maknyoooozz

keterangan lebih lanjut sihlakan cari di google. (info maca apa ini?)

Sudah sudah sekian dulu. hahah

Jyaa

Kamis, 09 Juni 2011

Fanfiction 'Long Distance Relationship'

Fanfiction

Judul : Long Distance Relationship

Cast : Tegoshi Yuya

Din-Chan Tegoshi

Genre : nga tau (baca aja dan nilai aja sendiri)

Musim panas ini sepi sekali tanpamu, mungkin tidak ya?

“Hmm, Din chan, bagaimana jika liburan ini kau main ke Hokkaido?” Din terkejut atas ucapan pacarnya itu.

“Baiklah. Bye” Din menutup teleponnya dengan `perasaan gembira.

Perguruan tinggi Din dan Tego memeng berbeda, Tego memilih di Universitas yang lama diimpikannya di Hokkaido. Mereka sudah lama berpacaran sekitar 1,5 tahun.

“Jadi Din sudah punya pacar ya? Lalu aku harus apa?” Ryu yang masih kelas satu SMA bergeming sambil menggelap meja kasir.

“Kau ini, bercandamu ketelaluan!” Rinrin menjitak kepala adiknya. “Jadi kau akan berlibur ke Hokaido? Kau sudah siap dengan apa yang akan terjadi?”

“Eh? Semoga saja” Din tersenyum manis pada Rin.

“Tapi, pacaran jarak jauh itukan susah ya Neechan? Din chan, mending sama aku saja” Ryu mengedipkan matanya pada Din.

“Iya, pasti rindu tidak bertemu hampir tiga bulan. Kalau aku tidak mungkin bisa melakukan hal itu” Rinrin tertawa sambil terus menjitak kepala Ryu.

“Hah? Kau akan pergi ke Hokaido? Kalau begitu ini” Neechan Erika, senpai Din sewaktu SMA dan sekarang saat menjadi mahasiswa memberikan tiket diskon hotel star. Din menerimanya dnegan lapang dada. “Kamu sudah siap mental?” Nada bicara Erika serius.

“Jangan bicara seperti itu dong Senpai” Din mulai sedikit panic.

“Hahahahaha Lupakan”

Aku takut, sejak tiga bulan lalu aku menjadi mahasiswa, banyak orang yang kutemui misalnya orang-orang dikampus, pelanggan di toko roti tempat ku bekerja. Aku jadi takut hal ini akan terjadi pada Tego di Hokkaido yang jauh itu.

Liburan 3 hari 2 malam di Hokkaido membawa semua harapan dan kekhawatiran

From : Tegoshiyuya

To : Din-chan

Subject : Sampai

Din chan, jika sudah sampai segera hubungi aku ya.

Hokaido itu besar sekali ya, aku ingin segera bersamanya

“Apa dia sudah ada disini? Aku kan sudah mengirim e-mail padanya” Din mencari kesana kemari, mencoba menemukan sosok pujaan hatinya.

Bruuuuuukkkkk. Din terkapar ketika seseorang menabraknya, barang bawaan Din berantakan.

“Wakatta. Kau disini rupanya Din chan, aku mencari mu kemana-mana” Tegoshi memeluk Din detengah keramaian bandara Hokaido. “Aku memnjam mobil paman, jadi tidak perlu naik kereta atau bis lagi” Tegoshi menyetir sambil terus memandangi Din.

“Aku sudah membuat daftar yang aku ingin kunjungi saat di Hokaido. Pertama Jam Besar, Kampus Tegoshi, Club Tegoshi, Tempat tinggal Tegoshi, Tempat nongkrong Tegoshi” Din tersenyum manis pada Tegoshi.

“Jadi sudah buat daftar ya? Baiklah aku akan mengantarmu kemanapun kau mau” Mereka melaju dijalan Hokaido yang terus lurus, hanya sedikit belokannya.

“Wah, ternyata jam besarnya tak sebesar yang digambarkan orang-orang ya?” Din menunjuk kearah jam besar.

“Iya, segitulah ukurannya. Kita akan tahu yang sebenarnya jika sudah melihat yang aslinya, tapi cantikkan? Tego tersenyu pada Din

“Iya cantik sekali”

Din dan Tego berkunjung kesemua tempat yang ingin Din kunjungi, makan ramen, melihat akuarium dan lainnya.

Aku ingin berpengangan tangan.

“Ah, apa mungkin?” Din sedikit berteriak.

“EH? Nande Din chan?

“Nanda monai. Disini banyak wanita cantik ya?” Din merapikan rambutnya yang tertiup angin.

“eh? Cincinnya? Masih menempel dijarmu” Tego menunjuk pinky ring pemberiaany yang masih Din pakai.

“Iya, aku tidak akan melepaskannya” Din tersenyum.

“Din, ini maksudnya hari ini atau besok? Tempat tinggal Tego” tego melihat daftar tempat yang ingin Din kunjungi.

“Kalau tidak mengganggu hari ini” Wajah din memerah.

“Tidak akan mengganggu ko Din chan” Tego bergegas menuju mobilnya Din mengikuti dari belakang.

***

“Waaaahhhh, baru pertama kali aku melihat kamar cowo banyak bukunya” Din bergeming, matanya melihat seisi kamar tego.

“Masih banyak yang kurang, tapi aku sudah bisa hidup tanpa ada tambahan, kau mau minum apa?” tego beranjak kedapur. “Aku malah jadi suka masak, kemarin saja aku memasak kare” Tego mulai beraksi dengan teko dan teh.

“nanti malam kita buat makan malam yu?” Din menyusul Tego kedapur.

“Kita makn diluar saja”

“Ah, tidak, aku ingin makan masakan Tego” Din tersenyum lalu mendekap Tego dari belakang.

“Iya Din chan, aku akan memasak untukmu tuan putri” Tego mencium kening Din.

Berbelanja dan memasak makan malam bersamamu, penuh tawa dan canda, akankah? Akankah hal itu terjadi? Aku jadi khawatir

“Bintangnya indah ya?” Din menatap keluar Jendela.

“Apa ya? Ini kan dibagian kota, jadi tidak terlalu indah, kalau didaerah perdesaan mungkin akan lebih indah karena tidak tertutupi oleh bangunan berckar langit” Tego beranjak dari tempat duduknya.

“Kalau lampunya dimatikan pasti lebih indah” Tego mematikan lampu.

Duuuukkk. “Ah” Din meringis, karena gelap saat ingin bangun dia terjedot.

“Daijobu ka Din chan?” Tego mengelus kepala Din.

“Iya. Hahahah maaf ya” Din tersenyum ditengah kegelapan.

“Nga usah deg-degan gitu, walau gelap, aku tidak akan berani berbuat macam-macam” Tego tersenyum lalu tertawa kecil. Namun wajah Din murung. “Din, lihat bintangnya terlihat lebih besar” Tego menunjuk kearah langit.

“Aapa itu? Cahayanya terang sekali” Din sedikit mengusap matanya yang silau.

“Mungkin bintang jatuh, heheheh senangnya” Tego tersenyum manis.

“Senang? Kenapa?” Wajah Din penuh Tanya.

“Karena aku bisa melihat bintang seperti itu bersama Din chan, dan mungkin hanya sekali seumur hidup.”

“Aa, Tegoshi, Aku ingin pegangan tangan” Din sedikit terbata.

“Nga bisa” Nada suara Tego nyaris tak terdengar

“Nande?” Din sedikit panic.

“Gomen na, tapi nanti tidak bisa berhenti” Wajah Tego murung.

“Nande? Kalau memang suka kenapa harus berhenti?” Din menahan air matanya.

Tiba-tiba tego meraih tangan Din dan mecium bibir Din.

“hmmm, Tego” Din menarik dirinya. Namun Tego malah menggendong Din dan membawanya ketempat tidur.

Tuhan. Hanya orang ini. Ku serahkan seutuhnya diriku untuknya.

“Ku mohon jangan katakana tidak” Ise bergeming ditengah hangatnya malam itu.

***

“Aku pergi membeli sarapan. Kamu boleh mandi atau apapun. Tegoshi Yuya” Din membaca surat singkat yang ditinggalkan Tego dimeja dekat kasur.

“Sepertinya darah yang keluar tidak terlalu banyak. Syukurlah. Tapi sakit. Aku melakukannya dengan Tego. Tidak, aku melakukannya” Dibawah pancuran Din sedikit panik. Tenang Din, apa boleh buat, sudah terjadi. Tenang!” Din mencoba tenang, tubuhnya gemetar hebat

“Tadaima” Suara Tego terdengar ditelinga Din. Din tambah panic.

“O-Kaeri”. “Astaga aku harus apa? Wajahku harus seperti apa?” Din membatin.

Mereka sarapan dengan roti dan ocha.

“Aku tidak berani menatap wajah Tego” Din membatin lagi. Wajahnya memerah.

“Ano, Din bekerja sambilan ditoko roti ya?” Tego bertanya. Din sedikit tersentak.

“Ah. Iya. Eh? Lipstik siapa ini?” Din mengambil liptik disela lemari buku milik Tego. Wajah din sedikit cemas.

“Eh? Itu milik Matsuda, dia manager clubku, waktu itu teman-teman mampir” Tego mencoba menenangkan Din.

“Jadi, aku bukan oerempuan pertama yang main kesini?” Din menunduk lesu.

“Cuma teman ko, betul”

“Ah, aku tidak menuduh ko, mulai sekarang aku harus menjadi New Din, Din yang mengerti akan keadaan hubungan jarak jauh” Din mencoba tegar. Sementara Tego hanya tersenyum melihat semangat Din yang membara.

“Din chan, hanya hari ini kita bisa berjalan-jalan, kau mau kemana?”

“Keman ya?” Din berfikir sejenak

Aku ingin terus berduaan dengannya. Aku ingin terus dipeluknya.

“Aku ingin melihat universitas Hokkaido” Din menundukan wajanya.

“Eh? Apa asiknya melihat sekolahan?”

***

“Hmm, jadi ini yang membuat Tego terkesima sehingga meninggalkan kota?” Din bergeming dalam hati, matanya melirik kesepenjuru kampus.

“Yang luas itu universitas pertanian” Tego menunjuk kearah gedung yang cukup luas.

Rasanya Tego memeng tidak memperdulikan aku, Tego, aku ingn bergandengan tangan. Aku jadi kesepian nih Tego. Suatu saat apa akan tiba saatnya kita bersama terus?

“Lihat orang yang diposter ini, Ini Prof. Tsugumi Obha” Tego menunjuk sebuah poster.

“Jadi? Orang ini ya? Jadi sebel deh!” Din memajukan bibirnya.

“Eh? Nande?”

“Habis, dia yang merebut Tego meninggalkan kota dan sekolah di Hokkaido kan?” Din menunjuk pada poster yang terpampang, wajahnya kesal.

“hahahah mungkin juga, tapi beliau orang hebat loh”

Din memeohon didepan poster itu “Semoga tetap menjadi dosen yang hebat, dan membuat Tego tidak menyesal bersekolah disini. Tapi, walaupun begitu, tetap saja aku merasa kesal!” Din tertawa.

“ Tegoshi” Seorang wanita dan beberapa lelaki menghampiri Tego.

“Kamu sembunyi dulu ya, itu teman-teman clubku” Tego menyuruh Din untuk sembunyi.

Dia, mengapa genit sekali pada Tego? Dia wanita pertama yang main kerumah Tego ya? Ah, mengapa aku jadi tidak bersemangat. Tapi kenapa aku harus sembunyi?

***

Aku ingin berpengangan tanagan, ingin disisinya, ingin bertemu setiap hari, ingin tidak ingin berjauahan

Air mata Din menetes, kini bendungan itu benar-benar tumpah. Din melepaskan Pinky Ring.

“Maaf, Nona Din sudah check out. Apa anda tuan Tegoshi? Kami dititipkan pesan ini” Resepsionis memberikan sepucuk surat pada Tego. “Maaf tuan, ini terjatuh dari dalam surat” Resepsionis itu memberikan Pinky Ring milik Din.

***

“Terus kamu pulang begitu aja?” Rinrin Tercengang dengan kedatangan Din ditoko roti.

“Din, kalau begitu langsung saja kita pacaran yu” Ryu nyeletus seenaknya.

“Rinrin, aku ini bodoh sekali, aku kira dengan ikatan seperti itu aku bisa tenang, dan aku jadi punya keyakinan untuk terus berhubungan” Din menahan airmatanya.

“Aku tahu ko, cinta yang seperti itu, hanya satu seumur hidup, apa kau rela melepasnya hanya karena jarang bertemu? Menurutku itu konyol” Rinrin berlalu, menuju dapur untuk membuat roti.

“Sumimasen, aku boleh meminta gajiku bulan ini dimuka dan aku juga mau ambil cuti lagi” Din menunduk takut dihadapan pak boss.

“Hmm, kau kan baru saja ambil cuti Din chan, tapi baiklah, jika roti hari ini terjual habis” Pak Boss bersemangat sekali.

“Baiklah. Kami akan pakai koneksi yang kami punya untuk membatumu” Rinrin dan Ryu menelepon semua teman dan saudaranya untuk membeli roti ditempatnya bekerja. Din juga tidak mau kalah dengan mereka.

“Ini yang terakhir” Pa Boss keluar dengan satu Loyang roti yang baru saja dibakar.

“Eh? Curang sekali. Ini kan sudah lima menit mau tutup. Kalau begitu, biar kami yang beli” Ryu mengeluarkan dompetnya.

“Oh, tidak bisa, itu pelanggaran namanya”

“Kalau begitu biar aku yang beli semuanya” Tego datang membuat yang ada disana tercengang.

“Tego, kau pakai pintu kemana saja ya?” Rinrin terkejut sekali melihat kedatangan Tego.

“Jadi kau yang namanya Tego?” Ryu merangkul pundak Tego.

“Kau yang namanya Ryu ya?” Brrruuuukkkk Tego memelintir sedikit tangan Ryu. Ryu meringis. “Maaf, tapi ku mohon jangan ganggu Din chan lagi”. Tego menarik tangan Din, dan membawa Din keluar toko.

“Maaf, aku tiba-tiba datang”

Air mata din mulai menetes. Din memegang tubuh Tego. “Benar-benar asli dan bukan khayalanku”.

“Aku lebih baik berhenti kuliah dan terus berada disini, aku akan selalu ada disini Din chan”

Imipan Tego, aku akan selalu mendukungnya.

“Bukan begitu, aku akan bertahan dengan hubungan jarak jauh ko, AKU CUMA INGIN KAMU LEBIH MENYAYANGIKU” Din sedikit berteriak, air mata Din benar-benar tumpah.

“Din, Ini” Tego memakaikan Pinky Ring jari manis tanagn kiri Din. “Kalau Din tidak ada semuanya jadi gelap” Tego memeluk Din.

Tego tebang jauh-jauh dari Hokkaido, secepat kilat hanya untuk ku, Tuhan, orang ini, seumur hidup aku hanya ingin dengan orang ini.

Tegoshi Yuya to Din-chan End

Fanfiction 'Long Distance Relationship'

Fanfiction

Judul : Long Distance Relationship

Cast : Tegoshi Yuya

Din-Chan Tegoshi

Genre : nga tau (baca aja dan nilai aja sendiri)

Musim panas ini sepi sekali tanpamu, mungkin tidak ya?

“Hmm, Din chan, bagaimana jika liburan ini kau main ke Hokkaido?” Din terkejut atas ucapan pacarnya itu.

“Baiklah. Bye” Din menutup teleponnya dengan `perasaan gembira.

Perguruan tinggi Din dan Tego memeng berbeda, Tego memilih di Universitas yang lama diimpikannya di Hokkaido. Mereka sudah lama berpacaran sekitar 1,5 tahun.

“Jadi Din sudah punya pacar ya? Lalu aku harus apa?” Ryu yang masih kelas satu SMA bergeming sambil menggelap meja kasir.

“Kau ini, bercandamu ketelaluan!” Rinrin menjitak kepala adiknya. “Jadi kau akan berlibur ke Hokaido? Kau sudah siap dengan apa yang akan terjadi?”

“Eh? Semoga saja” Din tersenyum manis pada Rin.

“Tapi, pacaran jarak jauh itukan susah ya Neechan? Din chan, mending sama aku saja” Ryu mengedipkan matanya pada Din.

“Iya, pasti rindu tidak bertemu hampir tiga bulan. Kalau aku tidak mungkin bisa melakukan hal itu” Rinrin tertawa sambil terus menjitak kepala Ryu.

“Hah? Kau akan pergi ke Hokaido? Kalau begitu ini” Neechan Erika, senpai Din sewaktu SMA dan sekarang saat menjadi mahasiswa memberikan tiket diskon hotel star. Din menerimanya dnegan lapang dada. “Kamu sudah siap mental?” Nada bicara Erika serius.

“Jangan bicara seperti itu dong Senpai” Din mulai sedikit panic.

“Hahahahaha Lupakan”

Aku takut, sejak tiga bulan lalu aku menjadi mahasiswa, banyak orang yang kutemui misalnya orang-orang dikampus, pelanggan di toko roti tempat ku bekerja. Aku jadi takut hal ini akan terjadi pada Tego di Hokkaido yang jauh itu.

Liburan 3 hari 2 malam di Hokkaido membawa semua harapan dan kekhawatiran

From : Tegoshiyuya

To : Din-chan

Subject : Sampai

Din chan, jika sudah sampai segera hubungi aku ya.

Hokaido itu besar sekali ya, aku ingin segera bersamanya

“Apa dia sudah ada disini? Aku kan sudah mengirim e-mail padanya” Din mencari kesana kemari, mencoba menemukan sosok pujaan hatinya.

Bruuuuuukkkkk. Din terkapar ketika seseorang menabraknya, barang bawaan Din berantakan.

“Wakatta. Kau disini rupanya Din chan, aku mencari mu kemana-mana” Tegoshi memeluk Din detengah keramaian bandara Hokaido. “Aku memnjam mobil paman, jadi tidak perlu naik kereta atau bis lagi” Tegoshi menyetir sambil terus memandangi Din.

“Aku sudah membuat daftar yang aku ingin kunjungi saat di Hokaido. Pertama Jam Besar, Kampus Tegoshi, Club Tegoshi, Tempat tinggal Tegoshi, Tempat nongkrong Tegoshi” Din tersenyum manis pada Tegoshi.

“Jadi sudah buat daftar ya? Baiklah aku akan mengantarmu kemanapun kau mau” Mereka melaju dijalan Hokaido yang terus lurus, hanya sedikit belokannya.

“Wah, ternyata jam besarnya tak sebesar yang digambarkan orang-orang ya?” Din menunjuk kearah jam besar.

“Iya, segitulah ukurannya. Kita akan tahu yang sebenarnya jika sudah melihat yang aslinya, tapi cantikkan? Tego tersenyu pada Din

“Iya cantik sekali”

Din dan Tego berkunjung kesemua tempat yang ingin Din kunjungi, makan ramen, melihat akuarium dan lainnya.

Aku ingin berpengangan tangan.

“Ah, apa mungkin?” Din sedikit berteriak.

“EH? Nande Din chan?

“Nanda monai. Disini banyak wanita cantik ya?” Din merapikan rambutnya yang tertiup angin.

“eh? Cincinnya? Masih menempel dijarmu” Tego menunjuk pinky ring pemberiaany yang masih Din pakai.

“Iya, aku tidak akan melepaskannya” Din tersenyum.

“Din, ini maksudnya hari ini atau besok? Tempat tinggal Tego” tego melihat daftar tempat yang ingin Din kunjungi.

“Kalau tidak mengganggu hari ini” Wajah din memerah.

“Tidak akan mengganggu ko Din chan” Tego bergegas menuju mobilnya Din mengikuti dari belakang.

***

“Waaaahhhh, baru pertama kali aku melihat kamar cowo banyak bukunya” Din bergeming, matanya melihat seisi kamar tego.

“Masih banyak yang kurang, tapi aku sudah bisa hidup tanpa ada tambahan, kau mau minum apa?” tego beranjak kedapur. “Aku malah jadi suka masak, kemarin saja aku memasak kare” Tego mulai beraksi dengan teko dan teh.

“nanti malam kita buat makan malam yu?” Din menyusul Tego kedapur.

“Kita makn diluar saja”

“Ah, tidak, aku ingin makan masakan Tego” Din tersenyum lalu mendekap Tego dari belakang.

“Iya Din chan, aku akan memasak untukmu tuan putri” Tego mencium kening Din.

Berbelanja dan memasak makan malam bersamamu, penuh tawa dan canda, akankah? Akankah hal itu terjadi? Aku jadi khawatir

“Bintangnya indah ya?” Din menatap keluar Jendela.

“Apa ya? Ini kan dibagian kota, jadi tidak terlalu indah, kalau didaerah perdesaan mungkin akan lebih indah karena tidak tertutupi oleh bangunan berckar langit” Tego beranjak dari tempat duduknya.

“Kalau lampunya dimatikan pasti lebih indah” Tego mematikan lampu.

Duuuukkk. “Ah” Din meringis, karena gelap saat ingin bangun dia terjedot.

“Daijobu ka Din chan?” Tego mengelus kepala Din.

“Iya. Hahahah maaf ya” Din tersenyum ditengah kegelapan.

“Nga usah deg-degan gitu, walau gelap, aku tidak akan berani berbuat macam-macam” Tego tersenyum lalu tertawa kecil. Namun wajah Din murung. “Din, lihat bintangnya terlihat lebih besar” Tego menunjuk kearah langit.

“Aapa itu? Cahayanya terang sekali” Din sedikit mengusap matanya yang silau.

“Mungkin bintang jatuh, heheheh senangnya” Tego tersenyum manis.

“Senang? Kenapa?” Wajah Din penuh Tanya.

“Karena aku bisa melihat bintang seperti itu bersama Din chan, dan mungkin hanya sekali seumur hidup.”

“Aa, Tegoshi, Aku ingin pegangan tangan” Din sedikit terbata.

“Nga bisa” Nada suara Tego nyaris tak terdengar

“Nande?” Din sedikit panic.

“Gomen na, tapi nanti tidak bisa berhenti” Wajah Tego murung.

“Nande? Kalau memang suka kenapa harus berhenti?” Din menahan air matanya.

Tiba-tiba tego meraih tangan Din dan mecium bibir Din.

“hmmm, Tego” Din menarik dirinya. Namun Tego malah menggendong Din dan membawanya ketempat tidur.

Tuhan. Hanya orang ini. Ku serahkan seutuhnya diriku untuknya.

“Ku mohon jangan katakana tidak” Ise bergeming ditengah hangatnya malam itu.

***

“Aku pergi membeli sarapan. Kamu boleh mandi atau apapun. Tegoshi Yuya” Din membaca surat singkat yang ditinggalkan Tego dimeja dekat kasur.

“Sepertinya darah yang keluar tidak terlalu banyak. Syukurlah. Tapi sakit. Aku melakukannya dengan Tego. Tidak, aku melakukannya” Dibawah pancuran Din sedikit panik. Tenang Din, apa boleh buat, sudah terjadi. Tenang!” Din mencoba tenang, tubuhnya gemetar hebat

“Tadaima” Suara Tego terdengar ditelinga Din. Din tambah panic.

“O-Kaeri”. “Astaga aku harus apa? Wajahku harus seperti apa?” Din membatin.

Mereka sarapan dengan roti dan ocha.

“Aku tidak berani menatap wajah Tego” Din membatin lagi. Wajahnya memerah.

“Ano, Din bekerja sambilan ditoko roti ya?” Tego bertanya. Din sedikit tersentak.

“Ah. Iya. Eh? Lipstik siapa ini?” Din mengambil liptik disela lemari buku milik Tego. Wajah din sedikit cemas.

“Eh? Itu milik Matsuda, dia manager clubku, waktu itu teman-teman mampir” Tego mencoba menenangkan Din.

“Jadi, aku bukan oerempuan pertama yang main kesini?” Din menunduk lesu.

“Cuma teman ko, betul”

“Ah, aku tidak menuduh ko, mulai sekarang aku harus menjadi New Din, Din yang mengerti akan keadaan hubungan jarak jauh” Din mencoba tegar. Sementara Tego hanya tersenyum melihat semangat Din yang membara.

“Din chan, hanya hari ini kita bisa berjalan-jalan, kau mau kemana?”

“Keman ya?” Din berfikir sejenak

Aku ingin terus berduaan dengannya. Aku ingin terus dipeluknya.

“Aku ingin melihat universitas Hokkaido” Din menundukan wajanya.

“Eh? Apa asiknya melihat sekolahan?”

***

“Hmm, jadi ini yang membuat Tego terkesima sehingga meninggalkan kota?” Din bergeming dalam hati, matanya melirik kesepenjuru kampus.

“Yang luas itu universitas pertanian” Tego menunjuk kearah gedung yang cukup luas.

Rasanya Tego memeng tidak memperdulikan aku, Tego, aku ingn bergandengan tangan. Aku jadi kesepian nih Tego. Suatu saat apa akan tiba saatnya kita bersama terus?

“Lihat orang yang diposter ini, Ini Prof. Tsugumi Obha” Tego menunjuk sebuah poster.

“Jadi? Orang ini ya? Jadi sebel deh!” Din memajukan bibirnya.

“Eh? Nande?”

“Habis, dia yang merebut Tego meninggalkan kota dan sekolah di Hokkaido kan?” Din menunjuk pada poster yang terpampang, wajahnya kesal.

“hahahah mungkin juga, tapi beliau orang hebat loh”

Din memeohon didepan poster itu “Semoga tetap menjadi dosen yang hebat, dan membuat Tego tidak menyesal bersekolah disini. Tapi, walaupun begitu, tetap saja aku merasa kesal!” Din tertawa.

“ Tegoshi” Seorang wanita dan beberapa lelaki menghampiri Tego.

“Kamu sembunyi dulu ya, itu teman-teman clubku” Tego menyuruh Din untuk sembunyi.

Dia, mengapa genit sekali pada Tego? Dia wanita pertama yang main kerumah Tego ya? Ah, mengapa aku jadi tidak bersemangat. Tapi kenapa aku harus sembunyi?

***

Aku ingin berpengangan tanagan, ingin disisinya, ingin bertemu setiap hari, ingin tidak ingin berjauahan

Air mata Din menetes, kini bendungan itu benar-benar tumpah. Din melepaskan Pinky Ring.

“Maaf, Nona Din sudah check out. Apa anda tuan Tegoshi? Kami dititipkan pesan ini” Resepsionis memberikan sepucuk surat pada Tego. “Maaf tuan, ini terjatuh dari dalam surat” Resepsionis itu memberikan Pinky Ring milik Din.

***

“Terus kamu pulang begitu aja?” Rinrin Tercengang dengan kedatangan Din ditoko roti.

“Din, kalau begitu langsung saja kita pacaran yu” Ryu nyeletus seenaknya.

“Rinrin, aku ini bodoh sekali, aku kira dengan ikatan seperti itu aku bisa tenang, dan aku jadi punya keyakinan untuk terus berhubungan” Din menahan airmatanya.

“Aku tahu ko, cinta yang seperti itu, hanya satu seumur hidup, apa kau rela melepasnya hanya karena jarang bertemu? Menurutku itu konyol” Rinrin berlalu, menuju dapur untuk membuat roti.

“Sumimasen, aku boleh meminta gajiku bulan ini dimuka dan aku juga mau ambil cuti lagi” Din menunduk takut dihadapan pak boss.

“Hmm, kau kan baru saja ambil cuti Din chan, tapi baiklah, jika roti hari ini terjual habis” Pak Boss bersemangat sekali.

“Baiklah. Kami akan pakai koneksi yang kami punya untuk membatumu” Rinrin dan Ryu menelepon semua teman dan saudaranya untuk membeli roti ditempatnya bekerja. Din juga tidak mau kalah dengan mereka.

“Ini yang terakhir” Pa Boss keluar dengan satu Loyang roti yang baru saja dibakar.

“Eh? Curang sekali. Ini kan sudah lima menit mau tutup. Kalau begitu, biar kami yang beli” Ryu mengeluarkan dompetnya.

“Oh, tidak bisa, itu pelanggaran namanya”

“Kalau begitu biar aku yang beli semuanya” Tego datang membuat yang ada disana tercengang.

“Tego, kau pakai pintu kemana saja ya?” Rinrin terkejut sekali melihat kedatangan Tego.

“Jadi kau yang namanya Tego?” Ryu merangkul pundak Tego.

“Kau yang namanya Ryu ya?” Brrruuuukkkk Tego memelintir sedikit tangan Ryu. Ryu meringis. “Maaf, tapi ku mohon jangan ganggu Din chan lagi”. Tego menarik tangan Din, dan membawa Din keluar toko.

“Maaf, aku tiba-tiba datang”

Air mata din mulai menetes. Din memegang tubuh Tego. “Benar-benar asli dan bukan khayalanku”.

“Aku lebih baik berhenti kuliah dan terus berada disini, aku akan selalu ada disini Din chan”

Imipan Tego, aku akan selalu mendukungnya.

“Bukan begitu, aku akan bertahan dengan hubungan jarak jauh ko, AKU CUMA INGIN KAMU LEBIH MENYAYANGIKU” Din sedikit berteriak, air mata Din benar-benar tumpah.

“Din, Ini” Tego memakaikan Pinky Ring jari manis tanagn kiri Din. “Kalau Din tidak ada semuanya jadi gelap” Tego memeluk Din.

Tego tebang jauh-jauh dari Hokkaido, secepat kilat hanya untuk ku, Tuhan, orang ini, seumur hidup aku hanya ingin dengan orang ini.

Tegoshi Yuya to Din-chan End

Kamis, 07 April 2011

Jepang Gempa Lagi

#Pray For Japan

Jepang diguncang gempa lagi tepatnya di provinsi Tohoku jam 2:32 PM ber skala 7.4 :(

http://www.documentingreality.com/forum/f225/japan-tsunami-warning-north-east-after-earthquake-7th-april-2011-a-75384/
7 April 2011 Last updated at 16:19 GMT 

A tsunami warning has been issued for north-eastern Japan after an earthquake with a magnitude of 7.4 struck off the east coast of Honshu.

The tsunami is predicted to have a wave 2m (6ft) high. The Japanese authorities have ordered an evacuation from the warning zone.

The area was ravaged by an earthquake and tsunami last month which severely damaged the Fukushima nuclear plant.

Thursday's quake was 118km (78 miles) north of Fukushima, 40km offshore.

The Tokyo Electric Power Company (Tepco), which operates Fukushima, says it is checking on the situation at the damaged plant following the latest earthquake.

The quake was strong enough to shake buildings in Tokyo.

Hundreds of aftershocks have shaken north-eastern Japan in the wake of the earthquake on 11 March, but few have measured higher than 7.0.

About 28,000 are dead or missing, and hundreds of thousands were left homeless after the tsunami which ripped through Miyagi prefecture.


Source : http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-13005110

#Let's We Pray For Japan.

Jepang Gempa Lagi

#Pray For Japan

Jepang diguncang gempa lagi tepatnya di provinsi Tohoku jam 2:32 PM ber skala 7.4 :(

http://www.documentingreality.com/forum/f225/japan-tsunami-warning-north-east-after-earthquake-7th-april-2011-a-75384/
7 April 2011 Last updated at 16:19 GMT 

A tsunami warning has been issued for north-eastern Japan after an earthquake with a magnitude of 7.4 struck off the east coast of Honshu.

The tsunami is predicted to have a wave 2m (6ft) high. The Japanese authorities have ordered an evacuation from the warning zone.

The area was ravaged by an earthquake and tsunami last month which severely damaged the Fukushima nuclear plant.

Thursday's quake was 118km (78 miles) north of Fukushima, 40km offshore.

The Tokyo Electric Power Company (Tepco), which operates Fukushima, says it is checking on the situation at the damaged plant following the latest earthquake.

The quake was strong enough to shake buildings in Tokyo.

Hundreds of aftershocks have shaken north-eastern Japan in the wake of the earthquake on 11 March, but few have measured higher than 7.0.

About 28,000 are dead or missing, and hundreds of thousands were left homeless after the tsunami which ripped through Miyagi prefecture.


Source : http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-13005110

#Let's We Pray For Japan.