Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

Mesjid dan Setitik Kisah Tentang Jepang

INI BUKAN FANFICTION, INI CERPEN FIKSI YANG SAYA KARANG. JADI NGA ADA SANGKUT PAUTNYA SAMA IDOL. SEMUA CHAR DISINI HANYA NAMA KARANGAN YANG SAYA BUAT. DAN CHAR TERSEBUT JUGA SEMUANYA KARANGAN SAYA.

HAPPY READING~

Mesjid dan Setitik Kisah Tentang Jepang


24 februari 2012

Siang ini terasa begitu melelahkan bagiku, walau tak ada pelajaran, tapi aku masih ditahan oleh segelintir orang yang ada urusan denganku, mereka masih meminta bantuanku untuk sekedar mengajari mereka belajar untuk persiapan lomba LKS tingkat DKI Jakarta.

Senin, 15 Agustus 2011

When You Have Baka Kazoku


When you have baka kazoku?


Why you mean lisa san?


A : I dont know.


I really dont know.


So, Why you write about BAKA KAZOKU?


A : Yes, Coz I think my family hontou ni baka.


When You Have Baka Kazoku


When you have baka kazoku?


Why you mean lisa san?


A : I dont know.


I really dont know.


So, Why you write about BAKA KAZOKU?


A : Yes, Coz I think my family hontou ni baka.


Sabtu, 23 Juli 2011

Fanfiction 'Senpai,Daisuki Yo!'

Fanfiction

Title                       : Senpai, Daisuki Yo!

Genre                   : Romance, I think.

Rating                   : PG, I think. hahaha

Author                  :Me (Morimoto Lisa)

Cast                       :

Hokuto Matsumura (B.I Shadow)



Nakayama Yuma (NYC)



Fuma Kukuchi (B.I Shadow)

Morimoto Lisa (OC)

Fanfiction 'Senpai,Daisuki Yo!'

Fanfiction

Title                       : Senpai, Daisuki Yo!

Genre                   : Romance, I think.

Rating                   : PG, I think. hahaha

Author                  :Me (Morimoto Lisa)

Cast                       :

Hokuto Matsumura (B.I Shadow)



Nakayama Yuma (NYC)



Fuma Kukuchi (B.I Shadow)

Morimoto Lisa (OC)

Kamis, 23 Juni 2011

Fanfiction 'More Love For You'

Fanfiction

Title : More Love For You

Cast : Kenichi Okamoto



Keito Okamoto



Kento Nakajima



Genre : Family,Romantis, (iya begitulah)

Author : Morimoto Lisa

“Eh? Jadi kau yang telah merebut Otoo sama?” Nada bicara Keisha sangat ketus didepan perempuan yang baru saja ia temui beberapa menit yang lalu. Otoosama sedang menelepon kliennya yang pasti sangat lama. Kebiasaan Otoosama yang membuat Okaasama tidak betah. Mementingkan pekerjaan.

Plaaaakkkk. Tamparan keras itu mendarat dipipi mulus Keisha.

“Kau? Setelah Ayahmu menjadi milikku, kau akan tunduk denganku” Perempuan yang manis didepan Otoosama, berebuah menjadi srigala enerkam manusia.

“Ha? Coba saja!” Keisha berlalu meninggalkan perempuan itu, calon ibu barunya.

“Dimana Keisha?” setelah sekian menit berlalu Otoosama menghampiri wanita tersebut. “Chotto matte ne” Otoo sama keluar dari restoran tempat pertemuan itu. Dan mendapati Keicha disebrang stasiun. “Nande Keisha chan?” Otoosama merangkul Keisha. Keisha hanya diam, telinganya masih tertutup dengan headset. Otoosama melepaskan headsetnya perlahan. “Dengarkan Otoosama. Minggu depan pernikahan akan dilaksanakan. Jadi kau tidak boleh bertingkah aneh. Sekarang masuklah kemobil. Kita akan segera pulang. Keisha menuruti perkataan otoosama.

“Dengar ya, aku tidak akan datang dihari pernikahan itu” Seru Keisha sembari merebahkan dirinya dibangku belakang mobil mewah itu.

WEDDING DAY

Dengan muka datar Keisha menggandeng seorang lelaki bermata sipit. “Are you Keisha? Ku dengar ibumu dari Inggris?” Lelaki sipit itu berbisik ditelinga Keisha. Keisha hanya diam. “Okamoto Keito desu. Aku akan menjadi kakakmu”. Keito masih tetap menggandeng Keisha dengan gandengan  ala kerajaan. Mereka berjalan dibelakang mempelai.

“Jangan seenaknya memakai marga Otoosama. Kau bukan anaknya!” Keisha masih tetap dengan wajah datar.

“Tapi sekarang sudah” Keito berbisik terlalu dekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga Keisha.

“Tidak!” Keisha melepaskan gandengan tangan Keito, membuat semua tamu mengalihkan perhatiannya kepada Keisha.

Acara tidak akan batal, janji suci tetap terucap. Kini Keito pun berhak menggunakan marga ‘Okamoto’.

***

“Apa yang kau lakukan?” Otoosama masuk dengan sedikit marah pada Keisha. Otoosama memang seseorang yang tegas.

Keisha masih tetap datar dan pandangannya tidak berpindah dari komik yang sedang diabacanya.

“Keisha, kau mendegarkan Otoosama?” Otoosama sedikit membantak. Lagi-lagi Keisah hanya diam. Otoosama melepaskan headsetnya.

“Eh? Nande Otoosama?” Dengan datar dan pandangannya masih pada komik yang dibacanya.

“Apa yang kau lakukan tadi?” Otoosama merangkul Keisah yang masih dengan wajah datarnya.

Tiba-tiba seorang wanita masuk. “Otoosan, ayo tidur” Perempuan itu merangkul pundak Otoosan.

“Chotto. Pergihlah kekamar duluan, aku akan menyusul” Perempuan itu lalu tersenyum, namun senyumnya berubah saat menatap Keisha.

“Hei. Are you listen me?” Otoosama menatap dalam pada satu-satunya anak kandungnya.

“Yes, Now I wanna sleep. Please go out” Keisha mematikan lampu baca yang tepat ada dimeja sebelah kamarnya. Membenamkan badannya dibalik selimut. Otoosama mengecup kening Keisha. Lalu meninggalkannya. Dibalik selimut air mata Keisha mengalir.

“Ohayou Keisha” Perempuan itu, yang sekarang dipanggil Okaasama oleh Otoosama menyapa manis Keisah yang baru saja turun, dan siap dengan seragamnya. “Makan lah, kau pasti lapar” Perempuan itu menyuruhnya untuk makan.

“Jadi Otoosama, dia akan satu sekolah dengan ku?” Keisha mengambil sepotong roti, bukan makanan dipiring yang sudah disediakan oleh perempuan itu.

“Iya sayang, Keito Niichan akan satu sekolah dengan mu” Perempuan itu mencoba manis didepan Keisha.

“Shut Up Bitch! Aku tak bertanya padamu!” Mendengar ucapan Keisha Otoosama sedikit marah.dan hendak manampar Kesha

“Nani? Tampar saja!” Otoosama menahan tamparannya. Lalu menurunkan tangannya. Tanpa pamit Keisha pergi.

***

Dikelas, Keisha memperkenalkan diri, Menyebutkan nama dan asal sekolahnya. Keisha berasal dari Inggris, dulu, Ibunya orang inggris, namun kini sosok yang biasa Keisha panggil Mom, kini tiada dihadapannya. Mom, memilih untuk berpisah dengen Otoosama.

“jadi kau dari Inggris?” Kento menyapa Keisha yang sedang meminum susu saat makan siang, Kento adalah ketua kelas dikelas Kesha yang baru.

“Lalu apa urusannya denganmu?” Nadanya datar. Sedatar wajahnya yang tanpa ekspresi.

“Eh? Aku kan ketua kelasmu. Ku dengar Niichan mu juga disini ya? Keito Okamoto. Wajah kalian mirip. Hanya Keito Niichan sedikit lebih wajah Jepang, kalau kau lebih kebarat” Kento terus berbicra, tanpa sepatah katapun yang terlontar dari mulut Keisha.

Braaaakkkk. Keisha menggebrak meja. “Dengarkan aku baik-baik dia bukan kakakku!” Kesha lalu meninggalkan Kento yang masih tercengang dengan mulut menganga atas apa yang baru saja terjadi.

“Chotto Keisha chan. Meski aku bukan siapa-siapa, tapi aku ini adalah ketua kelas dan aku tidak akan lupa akan tanggung jawabku” Kento berteriak, namun Keisha hanya tetap berjalan tidak memperdulikan Kento.

Keisha berjalan, semua mata tertuju padanya. Entah karena kecantikannya atau karena Keito berjalan dibelakangnya.

“Pergi kau” Keisha mengeluarkan kata. Keito malah mempercepat lajunya lalu berhenti didepan Keisha.

“Nani? Kau kan adikku” Keito tersenyum manis.

Semua mata masih tertuju pada Keisha dan Keito, Banyak yang tau kalau mereka adik kakak, namun pernyataan itu hanya keluar dari bibir Keito, tidak dari Keisha.

“Cihhh. Aku tidak akan pernah sudi mempunyai kakak seperti mu. Awas!” Keisha menabrak sedikit tubuh Keito. Keito hanya bisa diam. Ditengah berpuluh pasang mata yang metatapnya. Keito menjatuhkan airmata.

***

“Jadi disini rupanya rumahmu?” Kento diam-diam menguntiti Keisha yang pulang sendiri. Kento masih sangat ingin tahu. Bagaimana keadaan Keisha, Kento merasa Keisha adalah tanggung jawabnya saat dikelas. “Besar sekali rumah mu Keisha chan”.

“Sumimasen, Kimi wa Kento desu?” Kento tersentak kaget dibalik tiang listrik tempat dia menguntut. “Apa yang kau lakukan disini?” Kento masih terdiam kaget. Dia tau percis siapa lelaki ini.

“Keito Senpai. Etto.” Kento menggantungkan kalimatnya.

“eh? Kau menguntit ya?” Keito mencoba menebak. Kento semakin panic, tubuhnya berkeringat.

“Etto, aku. Aa. Aku. Hanya ingin tahu bagaimana keluarga Keisha. Gomen” Kento tertunduk dalam malu.

“Ah, ikut aku” Keito menyuruh Kento mengikutinya.

Sepanjang jalan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.

“Kita bicara disini saja, biar aku yang traktir” Keito duduk dibangku disebuah cafĂ© kecil didekat sekolah.

“Aa. Etto Senpai, akuu” Kento menggantungkan kalimatnya lagi.

“Aku dan Keisha memang bukan soudara kandung” Keito memberikan daftar pesanan kepada pelayan.

“Maksud Keito Senpai?” Wajah Kento penasaran.

“Eh, sebelumnya aku ingin kau mengaku, kalau kau suka pada adikku. Sampai kau menguntiti adikku” Keito tersenyum menggoda Kento. Wajah kento malu. Tertunduk lagi, kini wajahnya memerah.

“Ah. Keito Senpai. Baka Janai” Kento semakin tertunduk dalam malu. Dia tidak dapat berkutik.

“Souka, ibuku dan ayahnya menikah, lalu kami menjadi soudara. End” Keito meneguk kopi yang diapesan. “Minumlah, jangan sungkan”

“Ahh, tapi, nama kalian, wajah kalian, meski memang Keisha lebih mirip orang barat, sedangkan Keito Senpai lebih mirip orang jepang, tapi kalian seperti soudara kandung” Kento memasukkan gula kedalam minumannya. Rasa minuman yang diapesan seperti air got pikir Kento dalam hati.

Keito hanya mengangguk dengan pasti. “Demo” Keito tersenyum, “Keisha tidak pernah menganggapku sebagai kakaknya kan?” Wajah Keito kini seperti orang yang tidak pernah makan semalam tujuh hari. Lemas dan lesu.

“Nande Senpai?” Kento mengaduk minuman yang rasanya seperti air got itu. Itu adalah kopi asal Russia.

“Nande monai. Entahlah. Padahal aku ingin sekali punya adik perempuan”.

***

“Tadaima” Otoosama datang membawa beberapa jinjingan. “Dimana Keisha dan Keito?” Otoosama memberikan jinjingan itu pada perempuan yang sekarang dipanggil Okaasama itu. Otoosama bergegas menuju kamar Keisha.

“Ahhh~ Sugeeee. Kalung ini untukku? Gelang ini? Perhiasan ini? Baju ini? Astaga~” Perempuan itu bergeming.

“Okaasama. Harusnya kau mencintai Otoosama apa adanya. Sesuai dengan janjimu padaku dulu.” Keito merebut semua barang yanga da ditangan perempuan itu.

“Nani? Ini adalah milikku. Yang penting sekarang kita hidup senang Kei chan” Perempuan itu merebut lagi barangnya. Keito hanya diam dan tidak bisa berkutik.

#KEISHA ROOM#

“Sayang, ayo cepat turun, makanan sudah siap” Otoosama menyalahkan lampu kamar Keisha.

“Aku tidak lapar” Keisha bergeming dibalik selimutnya.

Keisah sungguh tidak ingin bertemu dengan perempuan yang harusnya ia panggil Okaasama itu. Menurut Keisha perempuan itutidak lebih dari SAMPAH.

“Cepatlah, Okaasama sudah memasak makanan kesukaanmu.Sushi” Otoosama menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuh putrinya itu.

Keisha menarik selimutnya lagi. “Aku tidak akan memakan sushi buatan siapapun kecuali buatan Mom. Sudah sana. Aku tidak lapar” Keisha menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

***

“Moom, Wait” Keisha kecil berteriak desebrang jalan. Mom menghampiri Keisah.

“You will be okay with me” Mom memeluk tubuh kecil Keisha.

Mom adalah ibu kandung Keisha. Mom orang yang snagat dekat dengan Keisha, di Inggris, Keisah belajar disekolah khusus orang Jepang. Dia banyak belajar bahasa Jepang dari sana.

“Mom, can I buy it?” Keisha kecil menunjuk es krim rasa stroberi. Mom menyuruh Keisha untuk menunggu.

“For you honey” Mom memberikan double scope s krim stroberi.

“Love you mom” Keisah kecil mencium mom dengan mulut yang belepotan eskrim.

“Too hoey, wait ne” Mom mengangkat telepon. Dari Otoosama rupanya.

“Nani? Kau tidak bisa hadir dihari ualng tahun Keisha sekali gus ulang tahun pernikahan kita?” Nada bicara Mom tampak sedih. Wajah mom murung. Perlahan air mata mom mengalir dari mata biru besarnya yang cantik. Keisha kecil hanya bisa diam, tidak mengerti apa-apa.

“Are you okay Mom?” Mom memeluk Keisha kecil yang masih sibuk dengan es krimnya.

“Let’s we go home” Mom menuntun Keisha kecil. Keisha hanya menurut

Dia benar-benar tidak datang dihari spesial ini. Seisi rumah sudah penuh dengan dekorasi, tamu yang hadirpun sudah banyak. Sampai acara selesaipun dia tidak datang.

Keisha kecil menagis dihari ulang tahunnya.

“Kenapa?” Mom memeluk tubuh kecil anak kesayangannya itu.

“Dimana dad?” Keisha kecil memang memanggil Otoosama dengan panggilan Dad.

Mom tersenyum, ada kilau bening dimatanya. “Dad sedang sibuk, sebaiknya kau tidur, ini sudah malam. Pesta sudah usai” Mom menuntun anak satu-satunya itu menuju kamar.

***

“Apa? Kau berhasil membuat Keisha menagis dihari ulang tahunnya. Kau ini kejam sekali!” Mom mencoba tenang, namun sikap Dad selalu saja membuat Mom tegang.

“Tapi aku banyak kerjaan” Dad mulai naik darah.

“Sampai kapan kau harus mementingkan pekerjaan?” Mom mambanting pintu, tanpa sadat mom membagunkan Keisha. Diam-diam Keisha mendengarkan semuanya. Air mata Keisha kecil menetes, mambasahi kepala Dori, boneka doraemon sahabanya.

#2 minggu kemudian#

“Keisha, kau ikut sama dad ya, mom harus pergi” mom memeluk erat Keisha, seperti enggan melepaskan hartanya yang paling berharga. Airmata mom membasahi pipinya. Keisha kecil hanya sibuk dengan es krimnya.

“memang Mom mau kemana?” Keisha bertanya pada Dad, Dad hanya diam, menuntun Keisha masuk kedalam mobil.

Semenjak saat itu, Keisha tidak lagi pernah bertemu dengan Mom.

***

Bersambung yaa...sekali lagi saya mau bikin beberapa part. hahahah. Jyaa. Mata ne.

Fanfiction 'More Love For You'

Fanfiction

Title : More Love For You

Cast : Kenichi Okamoto



Keito Okamoto



Kento Nakajima



Genre : Family,Romantis, (iya begitulah)

Author : Morimoto Lisa

“Eh? Jadi kau yang telah merebut Otoo sama?” Nada bicara Keisha sangat ketus didepan perempuan yang baru saja ia temui beberapa menit yang lalu. Otoosama sedang menelepon kliennya yang pasti sangat lama. Kebiasaan Otoosama yang membuat Okaasama tidak betah. Mementingkan pekerjaan.

Plaaaakkkk. Tamparan keras itu mendarat dipipi mulus Keisha.

“Kau? Setelah Ayahmu menjadi milikku, kau akan tunduk denganku” Perempuan yang manis didepan Otoosama, berebuah menjadi srigala enerkam manusia.

“Ha? Coba saja!” Keisha berlalu meninggalkan perempuan itu, calon ibu barunya.

“Dimana Keisha?” setelah sekian menit berlalu Otoosama menghampiri wanita tersebut. “Chotto matte ne” Otoo sama keluar dari restoran tempat pertemuan itu. Dan mendapati Keicha disebrang stasiun. “Nande Keisha chan?” Otoosama merangkul Keisha. Keisha hanya diam, telinganya masih tertutup dengan headset. Otoosama melepaskan headsetnya perlahan. “Dengarkan Otoosama. Minggu depan pernikahan akan dilaksanakan. Jadi kau tidak boleh bertingkah aneh. Sekarang masuklah kemobil. Kita akan segera pulang. Keisha menuruti perkataan otoosama.

“Dengar ya, aku tidak akan datang dihari pernikahan itu” Seru Keisha sembari merebahkan dirinya dibangku belakang mobil mewah itu.

WEDDING DAY

Dengan muka datar Keisha menggandeng seorang lelaki bermata sipit. “Are you Keisha? Ku dengar ibumu dari Inggris?” Lelaki sipit itu berbisik ditelinga Keisha. Keisha hanya diam. “Okamoto Keito desu. Aku akan menjadi kakakmu”. Keito masih tetap menggandeng Keisha dengan gandengan  ala kerajaan. Mereka berjalan dibelakang mempelai.

“Jangan seenaknya memakai marga Otoosama. Kau bukan anaknya!” Keisha masih tetap dengan wajah datar.

“Tapi sekarang sudah” Keito berbisik terlalu dekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga Keisha.

“Tidak!” Keisha melepaskan gandengan tangan Keito, membuat semua tamu mengalihkan perhatiannya kepada Keisha.

Acara tidak akan batal, janji suci tetap terucap. Kini Keito pun berhak menggunakan marga ‘Okamoto’.

***

“Apa yang kau lakukan?” Otoosama masuk dengan sedikit marah pada Keisha. Otoosama memang seseorang yang tegas.

Keisha masih tetap datar dan pandangannya tidak berpindah dari komik yang sedang diabacanya.

“Keisha, kau mendegarkan Otoosama?” Otoosama sedikit membantak. Lagi-lagi Keisah hanya diam. Otoosama melepaskan headsetnya.

“Eh? Nande Otoosama?” Dengan datar dan pandangannya masih pada komik yang dibacanya.

“Apa yang kau lakukan tadi?” Otoosama merangkul Keisah yang masih dengan wajah datarnya.

Tiba-tiba seorang wanita masuk. “Otoosan, ayo tidur” Perempuan itu merangkul pundak Otoosan.

“Chotto. Pergihlah kekamar duluan, aku akan menyusul” Perempuan itu lalu tersenyum, namun senyumnya berubah saat menatap Keisha.

“Hei. Are you listen me?” Otoosama menatap dalam pada satu-satunya anak kandungnya.

“Yes, Now I wanna sleep. Please go out” Keisha mematikan lampu baca yang tepat ada dimeja sebelah kamarnya. Membenamkan badannya dibalik selimut. Otoosama mengecup kening Keisha. Lalu meninggalkannya. Dibalik selimut air mata Keisha mengalir.

“Ohayou Keisha” Perempuan itu, yang sekarang dipanggil Okaasama oleh Otoosama menyapa manis Keisah yang baru saja turun, dan siap dengan seragamnya. “Makan lah, kau pasti lapar” Perempuan itu menyuruhnya untuk makan.

“Jadi Otoosama, dia akan satu sekolah dengan ku?” Keisha mengambil sepotong roti, bukan makanan dipiring yang sudah disediakan oleh perempuan itu.

“Iya sayang, Keito Niichan akan satu sekolah dengan mu” Perempuan itu mencoba manis didepan Keisha.

“Shut Up Bitch! Aku tak bertanya padamu!” Mendengar ucapan Keisha Otoosama sedikit marah.dan hendak manampar Kesha

“Nani? Tampar saja!” Otoosama menahan tamparannya. Lalu menurunkan tangannya. Tanpa pamit Keisha pergi.

***

Dikelas, Keisha memperkenalkan diri, Menyebutkan nama dan asal sekolahnya. Keisha berasal dari Inggris, dulu, Ibunya orang inggris, namun kini sosok yang biasa Keisha panggil Mom, kini tiada dihadapannya. Mom, memilih untuk berpisah dengen Otoosama.

“jadi kau dari Inggris?” Kento menyapa Keisha yang sedang meminum susu saat makan siang, Kento adalah ketua kelas dikelas Kesha yang baru.

“Lalu apa urusannya denganmu?” Nadanya datar. Sedatar wajahnya yang tanpa ekspresi.

“Eh? Aku kan ketua kelasmu. Ku dengar Niichan mu juga disini ya? Keito Okamoto. Wajah kalian mirip. Hanya Keito Niichan sedikit lebih wajah Jepang, kalau kau lebih kebarat” Kento terus berbicra, tanpa sepatah katapun yang terlontar dari mulut Keisha.

Braaaakkkk. Keisha menggebrak meja. “Dengarkan aku baik-baik dia bukan kakakku!” Kesha lalu meninggalkan Kento yang masih tercengang dengan mulut menganga atas apa yang baru saja terjadi.

“Chotto Keisha chan. Meski aku bukan siapa-siapa, tapi aku ini adalah ketua kelas dan aku tidak akan lupa akan tanggung jawabku” Kento berteriak, namun Keisha hanya tetap berjalan tidak memperdulikan Kento.

Keisha berjalan, semua mata tertuju padanya. Entah karena kecantikannya atau karena Keito berjalan dibelakangnya.

“Pergi kau” Keisha mengeluarkan kata. Keito malah mempercepat lajunya lalu berhenti didepan Keisha.

“Nani? Kau kan adikku” Keito tersenyum manis.

Semua mata masih tertuju pada Keisha dan Keito, Banyak yang tau kalau mereka adik kakak, namun pernyataan itu hanya keluar dari bibir Keito, tidak dari Keisha.

“Cihhh. Aku tidak akan pernah sudi mempunyai kakak seperti mu. Awas!” Keisha menabrak sedikit tubuh Keito. Keito hanya bisa diam. Ditengah berpuluh pasang mata yang metatapnya. Keito menjatuhkan airmata.

***

“Jadi disini rupanya rumahmu?” Kento diam-diam menguntiti Keisha yang pulang sendiri. Kento masih sangat ingin tahu. Bagaimana keadaan Keisha, Kento merasa Keisha adalah tanggung jawabnya saat dikelas. “Besar sekali rumah mu Keisha chan”.

“Sumimasen, Kimi wa Kento desu?” Kento tersentak kaget dibalik tiang listrik tempat dia menguntut. “Apa yang kau lakukan disini?” Kento masih terdiam kaget. Dia tau percis siapa lelaki ini.

“Keito Senpai. Etto.” Kento menggantungkan kalimatnya.

“eh? Kau menguntit ya?” Keito mencoba menebak. Kento semakin panic, tubuhnya berkeringat.

“Etto, aku. Aa. Aku. Hanya ingin tahu bagaimana keluarga Keisha. Gomen” Kento tertunduk dalam malu.

“Ah, ikut aku” Keito menyuruh Kento mengikutinya.

Sepanjang jalan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.

“Kita bicara disini saja, biar aku yang traktir” Keito duduk dibangku disebuah cafĂ© kecil didekat sekolah.

“Aa. Etto Senpai, akuu” Kento menggantungkan kalimatnya lagi.

“Aku dan Keisha memang bukan soudara kandung” Keito memberikan daftar pesanan kepada pelayan.

“Maksud Keito Senpai?” Wajah Kento penasaran.

“Eh, sebelumnya aku ingin kau mengaku, kalau kau suka pada adikku. Sampai kau menguntiti adikku” Keito tersenyum menggoda Kento. Wajah kento malu. Tertunduk lagi, kini wajahnya memerah.

“Ah. Keito Senpai. Baka Janai” Kento semakin tertunduk dalam malu. Dia tidak dapat berkutik.

“Souka, ibuku dan ayahnya menikah, lalu kami menjadi soudara. End” Keito meneguk kopi yang diapesan. “Minumlah, jangan sungkan”

“Ahh, tapi, nama kalian, wajah kalian, meski memang Keisha lebih mirip orang barat, sedangkan Keito Senpai lebih mirip orang jepang, tapi kalian seperti soudara kandung” Kento memasukkan gula kedalam minumannya. Rasa minuman yang diapesan seperti air got pikir Kento dalam hati.

Keito hanya mengangguk dengan pasti. “Demo” Keito tersenyum, “Keisha tidak pernah menganggapku sebagai kakaknya kan?” Wajah Keito kini seperti orang yang tidak pernah makan semalam tujuh hari. Lemas dan lesu.

“Nande Senpai?” Kento mengaduk minuman yang rasanya seperti air got itu. Itu adalah kopi asal Russia.

“Nande monai. Entahlah. Padahal aku ingin sekali punya adik perempuan”.

***

“Tadaima” Otoosama datang membawa beberapa jinjingan. “Dimana Keisha dan Keito?” Otoosama memberikan jinjingan itu pada perempuan yang sekarang dipanggil Okaasama itu. Otoosama bergegas menuju kamar Keisha.

“Ahhh~ Sugeeee. Kalung ini untukku? Gelang ini? Perhiasan ini? Baju ini? Astaga~” Perempuan itu bergeming.

“Okaasama. Harusnya kau mencintai Otoosama apa adanya. Sesuai dengan janjimu padaku dulu.” Keito merebut semua barang yanga da ditangan perempuan itu.

“Nani? Ini adalah milikku. Yang penting sekarang kita hidup senang Kei chan” Perempuan itu merebut lagi barangnya. Keito hanya diam dan tidak bisa berkutik.

#KEISHA ROOM#

“Sayang, ayo cepat turun, makanan sudah siap” Otoosama menyalahkan lampu kamar Keisha.

“Aku tidak lapar” Keisha bergeming dibalik selimutnya.

Keisah sungguh tidak ingin bertemu dengan perempuan yang harusnya ia panggil Okaasama itu. Menurut Keisha perempuan itutidak lebih dari SAMPAH.

“Cepatlah, Okaasama sudah memasak makanan kesukaanmu.Sushi” Otoosama menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuh putrinya itu.

Keisha menarik selimutnya lagi. “Aku tidak akan memakan sushi buatan siapapun kecuali buatan Mom. Sudah sana. Aku tidak lapar” Keisha menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

***

“Moom, Wait” Keisha kecil berteriak desebrang jalan. Mom menghampiri Keisah.

“You will be okay with me” Mom memeluk tubuh kecil Keisha.

Mom adalah ibu kandung Keisha. Mom orang yang snagat dekat dengan Keisha, di Inggris, Keisah belajar disekolah khusus orang Jepang. Dia banyak belajar bahasa Jepang dari sana.

“Mom, can I buy it?” Keisha kecil menunjuk es krim rasa stroberi. Mom menyuruh Keisha untuk menunggu.

“For you honey” Mom memberikan double scope s krim stroberi.

“Love you mom” Keisah kecil mencium mom dengan mulut yang belepotan eskrim.

“Too hoey, wait ne” Mom mengangkat telepon. Dari Otoosama rupanya.

“Nani? Kau tidak bisa hadir dihari ualng tahun Keisha sekali gus ulang tahun pernikahan kita?” Nada bicara Mom tampak sedih. Wajah mom murung. Perlahan air mata mom mengalir dari mata biru besarnya yang cantik. Keisha kecil hanya bisa diam, tidak mengerti apa-apa.

“Are you okay Mom?” Mom memeluk Keisha kecil yang masih sibuk dengan es krimnya.

“Let’s we go home” Mom menuntun Keisha kecil. Keisha hanya menurut

Dia benar-benar tidak datang dihari spesial ini. Seisi rumah sudah penuh dengan dekorasi, tamu yang hadirpun sudah banyak. Sampai acara selesaipun dia tidak datang.

Keisha kecil menagis dihari ulang tahunnya.

“Kenapa?” Mom memeluk tubuh kecil anak kesayangannya itu.

“Dimana dad?” Keisha kecil memang memanggil Otoosama dengan panggilan Dad.

Mom tersenyum, ada kilau bening dimatanya. “Dad sedang sibuk, sebaiknya kau tidur, ini sudah malam. Pesta sudah usai” Mom menuntun anak satu-satunya itu menuju kamar.

***

“Apa? Kau berhasil membuat Keisha menagis dihari ulang tahunnya. Kau ini kejam sekali!” Mom mencoba tenang, namun sikap Dad selalu saja membuat Mom tegang.

“Tapi aku banyak kerjaan” Dad mulai naik darah.

“Sampai kapan kau harus mementingkan pekerjaan?” Mom mambanting pintu, tanpa sadat mom membagunkan Keisha. Diam-diam Keisha mendengarkan semuanya. Air mata Keisha kecil menetes, mambasahi kepala Dori, boneka doraemon sahabanya.

#2 minggu kemudian#

“Keisha, kau ikut sama dad ya, mom harus pergi” mom memeluk erat Keisha, seperti enggan melepaskan hartanya yang paling berharga. Airmata mom membasahi pipinya. Keisha kecil hanya sibuk dengan es krimnya.

“memang Mom mau kemana?” Keisha bertanya pada Dad, Dad hanya diam, menuntun Keisha masuk kedalam mobil.

Semenjak saat itu, Keisha tidak lagi pernah bertemu dengan Mom.

***

Bersambung yaa...sekali lagi saya mau bikin beberapa part. hahahah. Jyaa. Mata ne.

Sabtu, 04 Juni 2011

Fanfiction 'There Is You'

Fanfiction

Judul : There Is You (nga tau judul ama isi cerita nyambung apa kaga)

Genre : Romantis kali ya. nga tau jugalah (terserah yang baca ajalah)

Soundtrack : maunya sih Bon-Bonnya HS7 (pas dengerin bon-bon langsung jalan)

 

“Hajimemashite, Watashi wa Uzisima Anri desu. I am from New York, Yoroshiku” Perpaduan bahasa yang Anri  pakai benar-benar kacau, sesekali pakai bahasa Inggris dan sesekali pakai bahasa Jepang. Semua mata terbelalak melihat gadis yang baru aja masuk dikelas, penampilannya itu loh beda banget dari gadis Jepang sepantarannya. Badannya tinggi mukanya timur kaga ada Jepangnya sama-sekali.

“Are You Kento? Where Yuto?” Anri menghampiri Kento, Kento adalah anak dari partner ayah Anri sebelum pindah ke NY.  Kento membelokan matanya.

“Kau ini benar-benar Anri ne?” Kento menatap lekat pada sosok gadis berparas timur itu.

“Hai” Lagi-lagi Anri mencoba untuk berbahasa Jepang. “I really miss Yuto” Anri tersenyum sembari memegang wajah Kento.

“Ku rasa aku telah jatuh cinta padanya lagi” lelaki tampan itu bergeming dalam hati.

“Yuto chan, kau ingat pada Anri? Anak dari Uzisima Kengo partner kerja ayah?” Mata Yuto seperti mencari sesuatu.

“Wakatta, sepertinya aku ingat, nande ?” Yuto jentikkan jarinya

“Aa, dia sekarang disekolah kita, tadi dia mencarimu” Kento menepuk punggung kakak laki-lakinya ini.

“Nani? Hontoo?” Wajah Yuto datar. “Kau ini, bagaimana bisa kau tidak respek. Kau belum melihat dia kan?”

“Yutoooooooooooooo” Suara seorang wanita terdengar, ya, suara Anri. Anri langsung memeluk Yuto dari belakang. “I really miss you Yuto” Pelukan Anri untukYuto membuat Kento terbelalak, sepertinya ada yang berbeda dari sikap gadis ini kepada Yuto.

“Kau tahu tidak? Aku merindukanmu, sangat merindukanmu.” Anri tersenyum manis menatap Yuto lekat.

“Hontoo? Kemana saja kau selama ini? Tidak pernah mengirim surat. Sudahlah aku harus keperpustakaan. Yuto meninggalkan Anri dan Kento. Kini wajah Anri yang semula ceria menjadi murung.

Yuto,maafkan aku, aku yang sudah melanggarnya. Aku kehilangan semuanya Yuto.

“Kau kenapa dengan Yuto?” Kento duduk disamping Anri yang sedang menatap makananya.

“Kau tidak makan? Nanti kau sakit” Anri masih saja diam.

“Yuto kenapa?” Sepatah kata yang sepertinya tertuju untuk Yuto.

“Eh? Mengapa kau selalu memikirkan Yuto? Kenapa? Kau suka padanya?” Nada bicara Kento mulai meninggi. Anri menatap Kento yang terbakar oleh amarah.

“Iya, aku menyukainya dari sebelum aku pindah ke NY dan aku tidak pernah menyukaimu.”

~Flasback~

“Anri, lihat ini seperti apa?” Yuto kecil menunjukan sebuah batu yang baru saja dia temukan.

“Eh? Hati ne?” Anri tersenyum sembari mengambil batu itu.

“Ini hatiku, aku ingin kau menyimpannya” Yuto yang umurnya satu tahun lebih tua dari Anri memeluk Anri.

“Un Yuto chan, aku akan menjaga hati ini” Dengan polos Anri mengambil dan berjanji akan menjada hati tersebut.

“Anri” Kento berlari mendekat, menyebunyikan sesuatu dibalik tubuhnya. Kento yang seumuran dengan Anri adalah adik kandung Yuto.

“Ini. Kimi ga daisuki. Anri mau kan menjadi pacar Kento?” Dengan polos Kento yang saat itu berumur 6 tahun mengatakan hal yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Anri dan Yuto.

“Eh? Aku. Anri menerima bunga yang disodorkan oleh Kento. Kento chan, aku”

“Ah, Doomo Arigatoo” Kento memeluk Anri didepan mata Yuto, Yuto kecil sepertinya cemburu.

***

Yuto berjalan menenteng sepedahnya

“Yuto chan, Chotto, aku harus mengatakan sesuatu” Anri berlari dari belakang Yuto, mengejar Yuto.

“Nani?” Wajah Yuto sedikit penasaran.

“Besok, kau dan Yuto temui aku di tempat biasa kita bermain pukul 8. Jangan telat” Yuto mengaguk, Anripun berlari meninggalkan Yuto.

“Lama sekali mereka” Sudah 20 menit Anri menunggu, namun kedua kaka beradik itu belum juga datang. Dari kejauhan terlihat dua sosok anak laki-laki berlari berusaha mencapai tempat yang dia inginkan.

“Ohayoo” Dengan napas yanga masih tersengal mereka berdua mencoba mengucapkan salam.

“Aku harus meninggalkan Jepang, kami sekeluarga akan pindah ke New York.” Suara Anri lirih.

“Nani?” Serentak kedua anak laki-laki itu berhenti dari sengalan napasnya. Wajah Kento seperti tak pecaya.

“Kau Jahat Anri” Kento berlari meninggalkan Yuto dan Anri.

“Kenapa?” Dengan tenang Yuto bertanya.

“Kenapa apa?” Anri malah bertanya kembali, Anri kurang mengerti pertanyaan yang Yuto berikan.

“Kau selalu membuat hatiku menagis, kapan kau akan pergi ke NY?” Suara Yuto berat, seperti tidak ingin mengatakan hal itu.

“Jam 10, Kimi ga daisuki Yuto chan. Jaa” Dengan berat hati Anri meninggalkan Yuto ditempat yang selalu menjadi kenangan untuk mereka betiga. Ditempat itu mereka bertiga sering bermain kejar-kejaran, lompat tali, tebak awan, dan masih banyak lagi. Namun sekarang tempat itu hanya tinggal kenagan tanpa adanya Anri.

~Flash Back end~

“Yuto chan, aku ingin berbicara padamu” Kento menahan Yuto yang hendak keluar dari gerbang sekolah.

“Nande?” Dengan santai Yuto mencoba mengadapi adiknya yang memiliki sikap lebih keras darinya.

Brrrrruuuuuukkkkk. Tinju yang Kento berikan tepat mengenai pipi kanan Yuto. Yuto mengelap darah yang sedikit keluar dari bibirnya.

“Kau kenapa Kento chan?” Yuto mencoba untuk berdiri.

“Kau apakan Anri ku? Anri bilang dia tidak pernah menyukaiku, dia menyukaimu Yuto chan” Dengan nada marah Kento menjelaskan permasalahannya.

“Hahahah. Yuto tertawa kencang. Aku tahu, memang dia tidak pernah menyukaimu, dia memang menyukaiku, namun sekarang setelah 10 tahun berlalu semuanya telah berubah Kento chan, jika kau mau ambillah saja Anri, aku sudah tidak menyukainya lagi” Yuto merapikan seragamnya, lalu meninggalkan Kento sendiri.

“Apa yang kau katakan? Aku ini adikmu, kau tidak bisa berbohong padaku Yuto chan”***

Anri berjalan menyusuri kota kecil yang sudah 10 tahun tidak ia datangi. Ia sadar akan kesalahannya pada Yuto. “Apa? Tempat ini masih seperti dulu? Seperti 10 tahun yang lalu?” Anri berlari menghampiri tempat yang menurutnya penuh kenangan itu. Anri duduk ditepian pohon, mencoba merasakan sejuknya udara yang jauh dari keramaian itu. Hening sekali. Anri membaringkan tubuhnya dibawah pohon. “Ah apa ini?” Anri meraba ukiran yang tertera dipermukaan batang  pohon itu. Ini kanji Yuto dan Aku. Ini dibuat tepat saat hari dimana aku pergi” Anri membaca kata demi kata yang terukir jelas dipermukaan batang pohon itu.

Aku ingat memberikan sebuah batu yang berbentuk hati, ku harap kau menyimpannya sampai nanti kita dipertemukan kembali. Kimi ga daisuki mo Anri chan.

Anri membuka tas kecil yang dia bawa, membuka dompet berwarna biru dengan ukuran yang cukup besar. “Aku masih menyimpannya Yuto chan”. Anri merebahkan badannya dibawah pohon, lalu menutup matanya. Sejenak Anri dapat merasakan masa-masa indah dulu, saat bermain bersama kedua bocah kecil yang menyenangkan.

“Anri chan?” Kento datang mengagetkan Anri yang tengah membayangkan kesenangan yang dulu dia rasa.

“Kento chan, kau sering kesini ne?” Anri bangki lalu duduk bersandar dibatang pohon.

“Tidak, tidak pernah sama sekali. Setiap aku ingat akan hal ini, aku akan selalu teringat padamu. Dan semakin membenci Yuto” Kento tertunduk dalam marah.

“Kenapa kau membenci kakak mu sendiri? Aku bukanlah ajang untuk diperebutkan Kento” Anri mencoba membuat wajah Kento terangkat.

“Menapa kau begitu membela Yuto? Memang apa lebihnya dia dibanding aku?” Kento menggengam kuat tangan Anri. Namun Anri segera menepis tangan Kento.

“Jelas, aku lebih keren dari Yuto” Dengan bangga Kento memainkan kerah bajunya.

Anri hanya tersenyum kecil. “Bukan seperti itu yang ku maksud”

“Ah, aku tidak mengerti perasaan perempuan, aku ada latihan baseball bersama club disekolah, kau mau ikut?” Anri menggeleng.

“Baiklah, Jaa” Kento meninggalkan Anri sendiri. Anri memasang headphone untuk mendengarkan musik.

“Sumimasen, kita main tebak langit yu” Yuto datang dengan wajah gembira lalu mecopot headphone dari telinga Anri.

“Yuto chan” Anri memeluk erat Yuto. “Aaa, Itaiii” Yuto merintih sakit.

“Eh, gomen nasai. Aku hanya senang bisa melihatmu disini” Anri tersenyum manis pada Yuto.

“Kau pasti sudah melihatnya?” Yuto menunjuk pada ukiran yang ia buat 10 tahun yang lalu.

“Kore” Anri memperlihatkan  batu berbentuk hati. “Aku masih menyimpannya untukmu. Ku mohon katakanlah” Anri menyodorkan batu itu kepada Yuto.

“Eh? Apa yang haurus ku katakana? Wakatta. Anri chan, Kimi ga daisuki yo” Yuto mengambil bantu itu.

“Watashi mo Yuto chan”

Ditengah tempat yang penuh dengan kenangan itu, menjelang matahari terbenam, mereka dipertemukan, kini bukanlah sebagai anak kecil yang polos, namun menjadi sepasang kekasih. Diam-diam Kento memperhatikan mereka berdua.

“Yasudahlah, mungkin Anri bukan ditaktirkan untukku” Perlahan Kento Mendekat. Mendapati mereka yang sedang berciuman. Kento tersenyum didepan Yuto da Anri, wajah keduanya seperti kesal dan malu.

“Nii-chan, Anri milikmu, dia memang bukan ditakdirkan untukku. Anri, aku hanya ingin kau jaga Nii-chan dengan baik” Kento tersenyum lalu mengambur memeluk Yuto.

Disini, ditempat yang sama sekali belum berubah dari 10 tahun yang lalu, kejadian indah akan terulang.

End



 

Project SKS. maafkan jika banyak salah ketik. saya ngerjaiinya dari jam 12an tengah malem (kaya setan ya mennya tengah malem).

Fanfiction 'There Is You'

Fanfiction

Judul : There Is You (nga tau judul ama isi cerita nyambung apa kaga)

Genre : Romantis kali ya. nga tau jugalah (terserah yang baca ajalah)

Soundtrack : maunya sih Bon-Bonnya HS7 (pas dengerin bon-bon langsung jalan)

 

“Hajimemashite, Watashi wa Uzisima Anri desu. I am from New York, Yoroshiku” Perpaduan bahasa yang Anri  pakai benar-benar kacau, sesekali pakai bahasa Inggris dan sesekali pakai bahasa Jepang. Semua mata terbelalak melihat gadis yang baru aja masuk dikelas, penampilannya itu loh beda banget dari gadis Jepang sepantarannya. Badannya tinggi mukanya timur kaga ada Jepangnya sama-sekali.

“Are You Kento? Where Yuto?” Anri menghampiri Kento, Kento adalah anak dari partner ayah Anri sebelum pindah ke NY.  Kento membelokan matanya.

“Kau ini benar-benar Anri ne?” Kento menatap lekat pada sosok gadis berparas timur itu.

“Hai” Lagi-lagi Anri mencoba untuk berbahasa Jepang. “I really miss Yuto” Anri tersenyum sembari memegang wajah Kento.

“Ku rasa aku telah jatuh cinta padanya lagi” lelaki tampan itu bergeming dalam hati.

“Yuto chan, kau ingat pada Anri? Anak dari Uzisima Kengo partner kerja ayah?” Mata Yuto seperti mencari sesuatu.

“Wakatta, sepertinya aku ingat, nande ?” Yuto jentikkan jarinya

“Aa, dia sekarang disekolah kita, tadi dia mencarimu” Kento menepuk punggung kakak laki-lakinya ini.

“Nani? Hontoo?” Wajah Yuto datar. “Kau ini, bagaimana bisa kau tidak respek. Kau belum melihat dia kan?”

“Yutoooooooooooooo” Suara seorang wanita terdengar, ya, suara Anri. Anri langsung memeluk Yuto dari belakang. “I really miss you Yuto” Pelukan Anri untukYuto membuat Kento terbelalak, sepertinya ada yang berbeda dari sikap gadis ini kepada Yuto.

“Kau tahu tidak? Aku merindukanmu, sangat merindukanmu.” Anri tersenyum manis menatap Yuto lekat.

“Hontoo? Kemana saja kau selama ini? Tidak pernah mengirim surat. Sudahlah aku harus keperpustakaan. Yuto meninggalkan Anri dan Kento. Kini wajah Anri yang semula ceria menjadi murung.

Yuto,maafkan aku, aku yang sudah melanggarnya. Aku kehilangan semuanya Yuto.

“Kau kenapa dengan Yuto?” Kento duduk disamping Anri yang sedang menatap makananya.

“Kau tidak makan? Nanti kau sakit” Anri masih saja diam.

“Yuto kenapa?” Sepatah kata yang sepertinya tertuju untuk Yuto.

“Eh? Mengapa kau selalu memikirkan Yuto? Kenapa? Kau suka padanya?” Nada bicara Kento mulai meninggi. Anri menatap Kento yang terbakar oleh amarah.

“Iya, aku menyukainya dari sebelum aku pindah ke NY dan aku tidak pernah menyukaimu.”

~Flasback~

“Anri, lihat ini seperti apa?” Yuto kecil menunjukan sebuah batu yang baru saja dia temukan.

“Eh? Hati ne?” Anri tersenyum sembari mengambil batu itu.

“Ini hatiku, aku ingin kau menyimpannya” Yuto yang umurnya satu tahun lebih tua dari Anri memeluk Anri.

“Un Yuto chan, aku akan menjaga hati ini” Dengan polos Anri mengambil dan berjanji akan menjada hati tersebut.

“Anri” Kento berlari mendekat, menyebunyikan sesuatu dibalik tubuhnya. Kento yang seumuran dengan Anri adalah adik kandung Yuto.

“Ini. Kimi ga daisuki. Anri mau kan menjadi pacar Kento?” Dengan polos Kento yang saat itu berumur 6 tahun mengatakan hal yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Anri dan Yuto.

“Eh? Aku. Anri menerima bunga yang disodorkan oleh Kento. Kento chan, aku”

“Ah, Doomo Arigatoo” Kento memeluk Anri didepan mata Yuto, Yuto kecil sepertinya cemburu.

***

Yuto berjalan menenteng sepedahnya

“Yuto chan, Chotto, aku harus mengatakan sesuatu” Anri berlari dari belakang Yuto, mengejar Yuto.

“Nani?” Wajah Yuto sedikit penasaran.

“Besok, kau dan Yuto temui aku di tempat biasa kita bermain pukul 8. Jangan telat” Yuto mengaguk, Anripun berlari meninggalkan Yuto.

“Lama sekali mereka” Sudah 20 menit Anri menunggu, namun kedua kaka beradik itu belum juga datang. Dari kejauhan terlihat dua sosok anak laki-laki berlari berusaha mencapai tempat yang dia inginkan.

“Ohayoo” Dengan napas yanga masih tersengal mereka berdua mencoba mengucapkan salam.

“Aku harus meninggalkan Jepang, kami sekeluarga akan pindah ke New York.” Suara Anri lirih.

“Nani?” Serentak kedua anak laki-laki itu berhenti dari sengalan napasnya. Wajah Kento seperti tak pecaya.

“Kau Jahat Anri” Kento berlari meninggalkan Yuto dan Anri.

“Kenapa?” Dengan tenang Yuto bertanya.

“Kenapa apa?” Anri malah bertanya kembali, Anri kurang mengerti pertanyaan yang Yuto berikan.

“Kau selalu membuat hatiku menagis, kapan kau akan pergi ke NY?” Suara Yuto berat, seperti tidak ingin mengatakan hal itu.

“Jam 10, Kimi ga daisuki Yuto chan. Jaa” Dengan berat hati Anri meninggalkan Yuto ditempat yang selalu menjadi kenangan untuk mereka betiga. Ditempat itu mereka bertiga sering bermain kejar-kejaran, lompat tali, tebak awan, dan masih banyak lagi. Namun sekarang tempat itu hanya tinggal kenagan tanpa adanya Anri.

~Flash Back end~

“Yuto chan, aku ingin berbicara padamu” Kento menahan Yuto yang hendak keluar dari gerbang sekolah.

“Nande?” Dengan santai Yuto mencoba mengadapi adiknya yang memiliki sikap lebih keras darinya.

Brrrrruuuuuukkkkk. Tinju yang Kento berikan tepat mengenai pipi kanan Yuto. Yuto mengelap darah yang sedikit keluar dari bibirnya.

“Kau kenapa Kento chan?” Yuto mencoba untuk berdiri.

“Kau apakan Anri ku? Anri bilang dia tidak pernah menyukaiku, dia menyukaimu Yuto chan” Dengan nada marah Kento menjelaskan permasalahannya.

“Hahahah. Yuto tertawa kencang. Aku tahu, memang dia tidak pernah menyukaimu, dia memang menyukaiku, namun sekarang setelah 10 tahun berlalu semuanya telah berubah Kento chan, jika kau mau ambillah saja Anri, aku sudah tidak menyukainya lagi” Yuto merapikan seragamnya, lalu meninggalkan Kento sendiri.

“Apa yang kau katakan? Aku ini adikmu, kau tidak bisa berbohong padaku Yuto chan”***

Anri berjalan menyusuri kota kecil yang sudah 10 tahun tidak ia datangi. Ia sadar akan kesalahannya pada Yuto. “Apa? Tempat ini masih seperti dulu? Seperti 10 tahun yang lalu?” Anri berlari menghampiri tempat yang menurutnya penuh kenangan itu. Anri duduk ditepian pohon, mencoba merasakan sejuknya udara yang jauh dari keramaian itu. Hening sekali. Anri membaringkan tubuhnya dibawah pohon. “Ah apa ini?” Anri meraba ukiran yang tertera dipermukaan batang  pohon itu. Ini kanji Yuto dan Aku. Ini dibuat tepat saat hari dimana aku pergi” Anri membaca kata demi kata yang terukir jelas dipermukaan batang pohon itu.

Aku ingat memberikan sebuah batu yang berbentuk hati, ku harap kau menyimpannya sampai nanti kita dipertemukan kembali. Kimi ga daisuki mo Anri chan.

Anri membuka tas kecil yang dia bawa, membuka dompet berwarna biru dengan ukuran yang cukup besar. “Aku masih menyimpannya Yuto chan”. Anri merebahkan badannya dibawah pohon, lalu menutup matanya. Sejenak Anri dapat merasakan masa-masa indah dulu, saat bermain bersama kedua bocah kecil yang menyenangkan.

“Anri chan?” Kento datang mengagetkan Anri yang tengah membayangkan kesenangan yang dulu dia rasa.

“Kento chan, kau sering kesini ne?” Anri bangki lalu duduk bersandar dibatang pohon.

“Tidak, tidak pernah sama sekali. Setiap aku ingat akan hal ini, aku akan selalu teringat padamu. Dan semakin membenci Yuto” Kento tertunduk dalam marah.

“Kenapa kau membenci kakak mu sendiri? Aku bukanlah ajang untuk diperebutkan Kento” Anri mencoba membuat wajah Kento terangkat.

“Menapa kau begitu membela Yuto? Memang apa lebihnya dia dibanding aku?” Kento menggengam kuat tangan Anri. Namun Anri segera menepis tangan Kento.

“Jelas, aku lebih keren dari Yuto” Dengan bangga Kento memainkan kerah bajunya.

Anri hanya tersenyum kecil. “Bukan seperti itu yang ku maksud”

“Ah, aku tidak mengerti perasaan perempuan, aku ada latihan baseball bersama club disekolah, kau mau ikut?” Anri menggeleng.

“Baiklah, Jaa” Kento meninggalkan Anri sendiri. Anri memasang headphone untuk mendengarkan musik.

“Sumimasen, kita main tebak langit yu” Yuto datang dengan wajah gembira lalu mecopot headphone dari telinga Anri.

“Yuto chan” Anri memeluk erat Yuto. “Aaa, Itaiii” Yuto merintih sakit.

“Eh, gomen nasai. Aku hanya senang bisa melihatmu disini” Anri tersenyum manis pada Yuto.

“Kau pasti sudah melihatnya?” Yuto menunjuk pada ukiran yang ia buat 10 tahun yang lalu.

“Kore” Anri memperlihatkan  batu berbentuk hati. “Aku masih menyimpannya untukmu. Ku mohon katakanlah” Anri menyodorkan batu itu kepada Yuto.

“Eh? Apa yang haurus ku katakana? Wakatta. Anri chan, Kimi ga daisuki yo” Yuto mengambil bantu itu.

“Watashi mo Yuto chan”

Ditengah tempat yang penuh dengan kenangan itu, menjelang matahari terbenam, mereka dipertemukan, kini bukanlah sebagai anak kecil yang polos, namun menjadi sepasang kekasih. Diam-diam Kento memperhatikan mereka berdua.

“Yasudahlah, mungkin Anri bukan ditaktirkan untukku” Perlahan Kento Mendekat. Mendapati mereka yang sedang berciuman. Kento tersenyum didepan Yuto da Anri, wajah keduanya seperti kesal dan malu.

“Nii-chan, Anri milikmu, dia memang bukan ditakdirkan untukku. Anri, aku hanya ingin kau jaga Nii-chan dengan baik” Kento tersenyum lalu mengambur memeluk Yuto.

Disini, ditempat yang sama sekali belum berubah dari 10 tahun yang lalu, kejadian indah akan terulang.

End



 

Project SKS. maafkan jika banyak salah ketik. saya ngerjaiinya dari jam 12an tengah malem (kaya setan ya mennya tengah malem).