Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2011

Fanfiction 'True Love'

Fanfitction

Title                     : True Love

Genre                   : Romance. May be

Rating                   : PG. may be. Hahaha

Author                  : Me (Morimoto Lisa)

Chapter                : It's hard to say love you

Cast                       :

Morimoto Ryutaro (HEY!SAY!JUMP)

Chinen Yuri (HEY!SAY!JUMP)



Natsune Minamoto (OC), Karen Eriko (OC)

Fanfiction 'True Love'

Fanfitction

Title                     : True Love

Genre                   : Romance. May be

Rating                   : PG. may be. Hahaha

Author                  : Me (Morimoto Lisa)

Chapter                : It's hard to say love you

Cast                       :

Morimoto Ryutaro (HEY!SAY!JUMP)

Chinen Yuri (HEY!SAY!JUMP)



Natsune Minamoto (OC), Karen Eriko (OC)

Selasa, 19 Juli 2011

When I Really Love You

I dont know, why i can love you.

I dont know, why I can.

ahhhh. dame.

Yuma Nakayama.

One name, just one and only one.

ya, I dont know why I love you Yuma chaaann.

I really love you. T.T

but, I'm just your fan.

not more than it.

When I see this picture.

Ahhhh T.T noooooo. I'm cry. noooo

Yes, I know it just editing. And I thing I can make like as that picture.

But Yuma, you see I fell so "Urayamashi" T.T

T.T

But, Bunda Din say to me

"Harus ikhlas nak, mau gak mau idola kita bakal tumbuh dewasa. Dan bakal makin banyak adegan-adegan di film atau apalah yang begituan"

I always remember it.

And. yay, back to my self.

GW RELA ASAL YUMA DAPET YANG TERBAIK BUAT YUMA.

hahahhahahaha.

Still love you Yuma chan. I sill love you.

hahahahhahahahahahah

When I Really Love You

I dont know, why i can love you.

I dont know, why I can.

ahhhh. dame.

Yuma Nakayama.

One name, just one and only one.

ya, I dont know why I love you Yuma chaaann.

I really love you. T.T

but, I'm just your fan.

not more than it.

When I see this picture.

Ahhhh T.T noooooo. I'm cry. noooo

Yes, I know it just editing. And I thing I can make like as that picture.

But Yuma, you see I fell so "Urayamashi" T.T

T.T

But, Bunda Din say to me

"Harus ikhlas nak, mau gak mau idola kita bakal tumbuh dewasa. Dan bakal makin banyak adegan-adegan di film atau apalah yang begituan"

I always remember it.

And. yay, back to my self.

GW RELA ASAL YUMA DAPET YANG TERBAIK BUAT YUMA.

hahahhahahaha.

Still love you Yuma chan. I sill love you.

hahahahhahahahahahah

Kamis, 23 Juni 2011

Fanfiction 'More Love For You'

Fanfiction

Title : More Love For You

Cast : Kenichi Okamoto



Keito Okamoto



Kento Nakajima



Genre : Family,Romantis, (iya begitulah)

Author : Morimoto Lisa

“Eh? Jadi kau yang telah merebut Otoo sama?” Nada bicara Keisha sangat ketus didepan perempuan yang baru saja ia temui beberapa menit yang lalu. Otoosama sedang menelepon kliennya yang pasti sangat lama. Kebiasaan Otoosama yang membuat Okaasama tidak betah. Mementingkan pekerjaan.

Plaaaakkkk. Tamparan keras itu mendarat dipipi mulus Keisha.

“Kau? Setelah Ayahmu menjadi milikku, kau akan tunduk denganku” Perempuan yang manis didepan Otoosama, berebuah menjadi srigala enerkam manusia.

“Ha? Coba saja!” Keisha berlalu meninggalkan perempuan itu, calon ibu barunya.

“Dimana Keisha?” setelah sekian menit berlalu Otoosama menghampiri wanita tersebut. “Chotto matte ne” Otoo sama keluar dari restoran tempat pertemuan itu. Dan mendapati Keicha disebrang stasiun. “Nande Keisha chan?” Otoosama merangkul Keisha. Keisha hanya diam, telinganya masih tertutup dengan headset. Otoosama melepaskan headsetnya perlahan. “Dengarkan Otoosama. Minggu depan pernikahan akan dilaksanakan. Jadi kau tidak boleh bertingkah aneh. Sekarang masuklah kemobil. Kita akan segera pulang. Keisha menuruti perkataan otoosama.

“Dengar ya, aku tidak akan datang dihari pernikahan itu” Seru Keisha sembari merebahkan dirinya dibangku belakang mobil mewah itu.

WEDDING DAY

Dengan muka datar Keisha menggandeng seorang lelaki bermata sipit. “Are you Keisha? Ku dengar ibumu dari Inggris?” Lelaki sipit itu berbisik ditelinga Keisha. Keisha hanya diam. “Okamoto Keito desu. Aku akan menjadi kakakmu”. Keito masih tetap menggandeng Keisha dengan gandengan  ala kerajaan. Mereka berjalan dibelakang mempelai.

“Jangan seenaknya memakai marga Otoosama. Kau bukan anaknya!” Keisha masih tetap dengan wajah datar.

“Tapi sekarang sudah” Keito berbisik terlalu dekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga Keisha.

“Tidak!” Keisha melepaskan gandengan tangan Keito, membuat semua tamu mengalihkan perhatiannya kepada Keisha.

Acara tidak akan batal, janji suci tetap terucap. Kini Keito pun berhak menggunakan marga ‘Okamoto’.

***

“Apa yang kau lakukan?” Otoosama masuk dengan sedikit marah pada Keisha. Otoosama memang seseorang yang tegas.

Keisha masih tetap datar dan pandangannya tidak berpindah dari komik yang sedang diabacanya.

“Keisha, kau mendegarkan Otoosama?” Otoosama sedikit membantak. Lagi-lagi Keisah hanya diam. Otoosama melepaskan headsetnya.

“Eh? Nande Otoosama?” Dengan datar dan pandangannya masih pada komik yang dibacanya.

“Apa yang kau lakukan tadi?” Otoosama merangkul Keisah yang masih dengan wajah datarnya.

Tiba-tiba seorang wanita masuk. “Otoosan, ayo tidur” Perempuan itu merangkul pundak Otoosan.

“Chotto. Pergihlah kekamar duluan, aku akan menyusul” Perempuan itu lalu tersenyum, namun senyumnya berubah saat menatap Keisha.

“Hei. Are you listen me?” Otoosama menatap dalam pada satu-satunya anak kandungnya.

“Yes, Now I wanna sleep. Please go out” Keisha mematikan lampu baca yang tepat ada dimeja sebelah kamarnya. Membenamkan badannya dibalik selimut. Otoosama mengecup kening Keisha. Lalu meninggalkannya. Dibalik selimut air mata Keisha mengalir.

“Ohayou Keisha” Perempuan itu, yang sekarang dipanggil Okaasama oleh Otoosama menyapa manis Keisah yang baru saja turun, dan siap dengan seragamnya. “Makan lah, kau pasti lapar” Perempuan itu menyuruhnya untuk makan.

“Jadi Otoosama, dia akan satu sekolah dengan ku?” Keisha mengambil sepotong roti, bukan makanan dipiring yang sudah disediakan oleh perempuan itu.

“Iya sayang, Keito Niichan akan satu sekolah dengan mu” Perempuan itu mencoba manis didepan Keisha.

“Shut Up Bitch! Aku tak bertanya padamu!” Mendengar ucapan Keisha Otoosama sedikit marah.dan hendak manampar Kesha

“Nani? Tampar saja!” Otoosama menahan tamparannya. Lalu menurunkan tangannya. Tanpa pamit Keisha pergi.

***

Dikelas, Keisha memperkenalkan diri, Menyebutkan nama dan asal sekolahnya. Keisha berasal dari Inggris, dulu, Ibunya orang inggris, namun kini sosok yang biasa Keisha panggil Mom, kini tiada dihadapannya. Mom, memilih untuk berpisah dengen Otoosama.

“jadi kau dari Inggris?” Kento menyapa Keisha yang sedang meminum susu saat makan siang, Kento adalah ketua kelas dikelas Kesha yang baru.

“Lalu apa urusannya denganmu?” Nadanya datar. Sedatar wajahnya yang tanpa ekspresi.

“Eh? Aku kan ketua kelasmu. Ku dengar Niichan mu juga disini ya? Keito Okamoto. Wajah kalian mirip. Hanya Keito Niichan sedikit lebih wajah Jepang, kalau kau lebih kebarat” Kento terus berbicra, tanpa sepatah katapun yang terlontar dari mulut Keisha.

Braaaakkkk. Keisha menggebrak meja. “Dengarkan aku baik-baik dia bukan kakakku!” Kesha lalu meninggalkan Kento yang masih tercengang dengan mulut menganga atas apa yang baru saja terjadi.

“Chotto Keisha chan. Meski aku bukan siapa-siapa, tapi aku ini adalah ketua kelas dan aku tidak akan lupa akan tanggung jawabku” Kento berteriak, namun Keisha hanya tetap berjalan tidak memperdulikan Kento.

Keisha berjalan, semua mata tertuju padanya. Entah karena kecantikannya atau karena Keito berjalan dibelakangnya.

“Pergi kau” Keisha mengeluarkan kata. Keito malah mempercepat lajunya lalu berhenti didepan Keisha.

“Nani? Kau kan adikku” Keito tersenyum manis.

Semua mata masih tertuju pada Keisha dan Keito, Banyak yang tau kalau mereka adik kakak, namun pernyataan itu hanya keluar dari bibir Keito, tidak dari Keisha.

“Cihhh. Aku tidak akan pernah sudi mempunyai kakak seperti mu. Awas!” Keisha menabrak sedikit tubuh Keito. Keito hanya bisa diam. Ditengah berpuluh pasang mata yang metatapnya. Keito menjatuhkan airmata.

***

“Jadi disini rupanya rumahmu?” Kento diam-diam menguntiti Keisha yang pulang sendiri. Kento masih sangat ingin tahu. Bagaimana keadaan Keisha, Kento merasa Keisha adalah tanggung jawabnya saat dikelas. “Besar sekali rumah mu Keisha chan”.

“Sumimasen, Kimi wa Kento desu?” Kento tersentak kaget dibalik tiang listrik tempat dia menguntut. “Apa yang kau lakukan disini?” Kento masih terdiam kaget. Dia tau percis siapa lelaki ini.

“Keito Senpai. Etto.” Kento menggantungkan kalimatnya.

“eh? Kau menguntit ya?” Keito mencoba menebak. Kento semakin panic, tubuhnya berkeringat.

“Etto, aku. Aa. Aku. Hanya ingin tahu bagaimana keluarga Keisha. Gomen” Kento tertunduk dalam malu.

“Ah, ikut aku” Keito menyuruh Kento mengikutinya.

Sepanjang jalan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.

“Kita bicara disini saja, biar aku yang traktir” Keito duduk dibangku disebuah cafĂ© kecil didekat sekolah.

“Aa. Etto Senpai, akuu” Kento menggantungkan kalimatnya lagi.

“Aku dan Keisha memang bukan soudara kandung” Keito memberikan daftar pesanan kepada pelayan.

“Maksud Keito Senpai?” Wajah Kento penasaran.

“Eh, sebelumnya aku ingin kau mengaku, kalau kau suka pada adikku. Sampai kau menguntiti adikku” Keito tersenyum menggoda Kento. Wajah kento malu. Tertunduk lagi, kini wajahnya memerah.

“Ah. Keito Senpai. Baka Janai” Kento semakin tertunduk dalam malu. Dia tidak dapat berkutik.

“Souka, ibuku dan ayahnya menikah, lalu kami menjadi soudara. End” Keito meneguk kopi yang diapesan. “Minumlah, jangan sungkan”

“Ahh, tapi, nama kalian, wajah kalian, meski memang Keisha lebih mirip orang barat, sedangkan Keito Senpai lebih mirip orang jepang, tapi kalian seperti soudara kandung” Kento memasukkan gula kedalam minumannya. Rasa minuman yang diapesan seperti air got pikir Kento dalam hati.

Keito hanya mengangguk dengan pasti. “Demo” Keito tersenyum, “Keisha tidak pernah menganggapku sebagai kakaknya kan?” Wajah Keito kini seperti orang yang tidak pernah makan semalam tujuh hari. Lemas dan lesu.

“Nande Senpai?” Kento mengaduk minuman yang rasanya seperti air got itu. Itu adalah kopi asal Russia.

“Nande monai. Entahlah. Padahal aku ingin sekali punya adik perempuan”.

***

“Tadaima” Otoosama datang membawa beberapa jinjingan. “Dimana Keisha dan Keito?” Otoosama memberikan jinjingan itu pada perempuan yang sekarang dipanggil Okaasama itu. Otoosama bergegas menuju kamar Keisha.

“Ahhh~ Sugeeee. Kalung ini untukku? Gelang ini? Perhiasan ini? Baju ini? Astaga~” Perempuan itu bergeming.

“Okaasama. Harusnya kau mencintai Otoosama apa adanya. Sesuai dengan janjimu padaku dulu.” Keito merebut semua barang yanga da ditangan perempuan itu.

“Nani? Ini adalah milikku. Yang penting sekarang kita hidup senang Kei chan” Perempuan itu merebut lagi barangnya. Keito hanya diam dan tidak bisa berkutik.

#KEISHA ROOM#

“Sayang, ayo cepat turun, makanan sudah siap” Otoosama menyalahkan lampu kamar Keisha.

“Aku tidak lapar” Keisha bergeming dibalik selimutnya.

Keisah sungguh tidak ingin bertemu dengan perempuan yang harusnya ia panggil Okaasama itu. Menurut Keisha perempuan itutidak lebih dari SAMPAH.

“Cepatlah, Okaasama sudah memasak makanan kesukaanmu.Sushi” Otoosama menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuh putrinya itu.

Keisha menarik selimutnya lagi. “Aku tidak akan memakan sushi buatan siapapun kecuali buatan Mom. Sudah sana. Aku tidak lapar” Keisha menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

***

“Moom, Wait” Keisha kecil berteriak desebrang jalan. Mom menghampiri Keisah.

“You will be okay with me” Mom memeluk tubuh kecil Keisha.

Mom adalah ibu kandung Keisha. Mom orang yang snagat dekat dengan Keisha, di Inggris, Keisah belajar disekolah khusus orang Jepang. Dia banyak belajar bahasa Jepang dari sana.

“Mom, can I buy it?” Keisha kecil menunjuk es krim rasa stroberi. Mom menyuruh Keisha untuk menunggu.

“For you honey” Mom memberikan double scope s krim stroberi.

“Love you mom” Keisah kecil mencium mom dengan mulut yang belepotan eskrim.

“Too hoey, wait ne” Mom mengangkat telepon. Dari Otoosama rupanya.

“Nani? Kau tidak bisa hadir dihari ualng tahun Keisha sekali gus ulang tahun pernikahan kita?” Nada bicara Mom tampak sedih. Wajah mom murung. Perlahan air mata mom mengalir dari mata biru besarnya yang cantik. Keisha kecil hanya bisa diam, tidak mengerti apa-apa.

“Are you okay Mom?” Mom memeluk Keisha kecil yang masih sibuk dengan es krimnya.

“Let’s we go home” Mom menuntun Keisha kecil. Keisha hanya menurut

Dia benar-benar tidak datang dihari spesial ini. Seisi rumah sudah penuh dengan dekorasi, tamu yang hadirpun sudah banyak. Sampai acara selesaipun dia tidak datang.

Keisha kecil menagis dihari ulang tahunnya.

“Kenapa?” Mom memeluk tubuh kecil anak kesayangannya itu.

“Dimana dad?” Keisha kecil memang memanggil Otoosama dengan panggilan Dad.

Mom tersenyum, ada kilau bening dimatanya. “Dad sedang sibuk, sebaiknya kau tidur, ini sudah malam. Pesta sudah usai” Mom menuntun anak satu-satunya itu menuju kamar.

***

“Apa? Kau berhasil membuat Keisha menagis dihari ulang tahunnya. Kau ini kejam sekali!” Mom mencoba tenang, namun sikap Dad selalu saja membuat Mom tegang.

“Tapi aku banyak kerjaan” Dad mulai naik darah.

“Sampai kapan kau harus mementingkan pekerjaan?” Mom mambanting pintu, tanpa sadat mom membagunkan Keisha. Diam-diam Keisha mendengarkan semuanya. Air mata Keisha kecil menetes, mambasahi kepala Dori, boneka doraemon sahabanya.

#2 minggu kemudian#

“Keisha, kau ikut sama dad ya, mom harus pergi” mom memeluk erat Keisha, seperti enggan melepaskan hartanya yang paling berharga. Airmata mom membasahi pipinya. Keisha kecil hanya sibuk dengan es krimnya.

“memang Mom mau kemana?” Keisha bertanya pada Dad, Dad hanya diam, menuntun Keisha masuk kedalam mobil.

Semenjak saat itu, Keisha tidak lagi pernah bertemu dengan Mom.

***

Bersambung yaa...sekali lagi saya mau bikin beberapa part. hahahah. Jyaa. Mata ne.

Fanfiction 'More Love For You'

Fanfiction

Title : More Love For You

Cast : Kenichi Okamoto



Keito Okamoto



Kento Nakajima



Genre : Family,Romantis, (iya begitulah)

Author : Morimoto Lisa

“Eh? Jadi kau yang telah merebut Otoo sama?” Nada bicara Keisha sangat ketus didepan perempuan yang baru saja ia temui beberapa menit yang lalu. Otoosama sedang menelepon kliennya yang pasti sangat lama. Kebiasaan Otoosama yang membuat Okaasama tidak betah. Mementingkan pekerjaan.

Plaaaakkkk. Tamparan keras itu mendarat dipipi mulus Keisha.

“Kau? Setelah Ayahmu menjadi milikku, kau akan tunduk denganku” Perempuan yang manis didepan Otoosama, berebuah menjadi srigala enerkam manusia.

“Ha? Coba saja!” Keisha berlalu meninggalkan perempuan itu, calon ibu barunya.

“Dimana Keisha?” setelah sekian menit berlalu Otoosama menghampiri wanita tersebut. “Chotto matte ne” Otoo sama keluar dari restoran tempat pertemuan itu. Dan mendapati Keicha disebrang stasiun. “Nande Keisha chan?” Otoosama merangkul Keisha. Keisha hanya diam, telinganya masih tertutup dengan headset. Otoosama melepaskan headsetnya perlahan. “Dengarkan Otoosama. Minggu depan pernikahan akan dilaksanakan. Jadi kau tidak boleh bertingkah aneh. Sekarang masuklah kemobil. Kita akan segera pulang. Keisha menuruti perkataan otoosama.

“Dengar ya, aku tidak akan datang dihari pernikahan itu” Seru Keisha sembari merebahkan dirinya dibangku belakang mobil mewah itu.

WEDDING DAY

Dengan muka datar Keisha menggandeng seorang lelaki bermata sipit. “Are you Keisha? Ku dengar ibumu dari Inggris?” Lelaki sipit itu berbisik ditelinga Keisha. Keisha hanya diam. “Okamoto Keito desu. Aku akan menjadi kakakmu”. Keito masih tetap menggandeng Keisha dengan gandengan  ala kerajaan. Mereka berjalan dibelakang mempelai.

“Jangan seenaknya memakai marga Otoosama. Kau bukan anaknya!” Keisha masih tetap dengan wajah datar.

“Tapi sekarang sudah” Keito berbisik terlalu dekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga Keisha.

“Tidak!” Keisha melepaskan gandengan tangan Keito, membuat semua tamu mengalihkan perhatiannya kepada Keisha.

Acara tidak akan batal, janji suci tetap terucap. Kini Keito pun berhak menggunakan marga ‘Okamoto’.

***

“Apa yang kau lakukan?” Otoosama masuk dengan sedikit marah pada Keisha. Otoosama memang seseorang yang tegas.

Keisha masih tetap datar dan pandangannya tidak berpindah dari komik yang sedang diabacanya.

“Keisha, kau mendegarkan Otoosama?” Otoosama sedikit membantak. Lagi-lagi Keisah hanya diam. Otoosama melepaskan headsetnya.

“Eh? Nande Otoosama?” Dengan datar dan pandangannya masih pada komik yang dibacanya.

“Apa yang kau lakukan tadi?” Otoosama merangkul Keisah yang masih dengan wajah datarnya.

Tiba-tiba seorang wanita masuk. “Otoosan, ayo tidur” Perempuan itu merangkul pundak Otoosan.

“Chotto. Pergihlah kekamar duluan, aku akan menyusul” Perempuan itu lalu tersenyum, namun senyumnya berubah saat menatap Keisha.

“Hei. Are you listen me?” Otoosama menatap dalam pada satu-satunya anak kandungnya.

“Yes, Now I wanna sleep. Please go out” Keisha mematikan lampu baca yang tepat ada dimeja sebelah kamarnya. Membenamkan badannya dibalik selimut. Otoosama mengecup kening Keisha. Lalu meninggalkannya. Dibalik selimut air mata Keisha mengalir.

“Ohayou Keisha” Perempuan itu, yang sekarang dipanggil Okaasama oleh Otoosama menyapa manis Keisah yang baru saja turun, dan siap dengan seragamnya. “Makan lah, kau pasti lapar” Perempuan itu menyuruhnya untuk makan.

“Jadi Otoosama, dia akan satu sekolah dengan ku?” Keisha mengambil sepotong roti, bukan makanan dipiring yang sudah disediakan oleh perempuan itu.

“Iya sayang, Keito Niichan akan satu sekolah dengan mu” Perempuan itu mencoba manis didepan Keisha.

“Shut Up Bitch! Aku tak bertanya padamu!” Mendengar ucapan Keisha Otoosama sedikit marah.dan hendak manampar Kesha

“Nani? Tampar saja!” Otoosama menahan tamparannya. Lalu menurunkan tangannya. Tanpa pamit Keisha pergi.

***

Dikelas, Keisha memperkenalkan diri, Menyebutkan nama dan asal sekolahnya. Keisha berasal dari Inggris, dulu, Ibunya orang inggris, namun kini sosok yang biasa Keisha panggil Mom, kini tiada dihadapannya. Mom, memilih untuk berpisah dengen Otoosama.

“jadi kau dari Inggris?” Kento menyapa Keisha yang sedang meminum susu saat makan siang, Kento adalah ketua kelas dikelas Kesha yang baru.

“Lalu apa urusannya denganmu?” Nadanya datar. Sedatar wajahnya yang tanpa ekspresi.

“Eh? Aku kan ketua kelasmu. Ku dengar Niichan mu juga disini ya? Keito Okamoto. Wajah kalian mirip. Hanya Keito Niichan sedikit lebih wajah Jepang, kalau kau lebih kebarat” Kento terus berbicra, tanpa sepatah katapun yang terlontar dari mulut Keisha.

Braaaakkkk. Keisha menggebrak meja. “Dengarkan aku baik-baik dia bukan kakakku!” Kesha lalu meninggalkan Kento yang masih tercengang dengan mulut menganga atas apa yang baru saja terjadi.

“Chotto Keisha chan. Meski aku bukan siapa-siapa, tapi aku ini adalah ketua kelas dan aku tidak akan lupa akan tanggung jawabku” Kento berteriak, namun Keisha hanya tetap berjalan tidak memperdulikan Kento.

Keisha berjalan, semua mata tertuju padanya. Entah karena kecantikannya atau karena Keito berjalan dibelakangnya.

“Pergi kau” Keisha mengeluarkan kata. Keito malah mempercepat lajunya lalu berhenti didepan Keisha.

“Nani? Kau kan adikku” Keito tersenyum manis.

Semua mata masih tertuju pada Keisha dan Keito, Banyak yang tau kalau mereka adik kakak, namun pernyataan itu hanya keluar dari bibir Keito, tidak dari Keisha.

“Cihhh. Aku tidak akan pernah sudi mempunyai kakak seperti mu. Awas!” Keisha menabrak sedikit tubuh Keito. Keito hanya bisa diam. Ditengah berpuluh pasang mata yang metatapnya. Keito menjatuhkan airmata.

***

“Jadi disini rupanya rumahmu?” Kento diam-diam menguntiti Keisha yang pulang sendiri. Kento masih sangat ingin tahu. Bagaimana keadaan Keisha, Kento merasa Keisha adalah tanggung jawabnya saat dikelas. “Besar sekali rumah mu Keisha chan”.

“Sumimasen, Kimi wa Kento desu?” Kento tersentak kaget dibalik tiang listrik tempat dia menguntut. “Apa yang kau lakukan disini?” Kento masih terdiam kaget. Dia tau percis siapa lelaki ini.

“Keito Senpai. Etto.” Kento menggantungkan kalimatnya.

“eh? Kau menguntit ya?” Keito mencoba menebak. Kento semakin panic, tubuhnya berkeringat.

“Etto, aku. Aa. Aku. Hanya ingin tahu bagaimana keluarga Keisha. Gomen” Kento tertunduk dalam malu.

“Ah, ikut aku” Keito menyuruh Kento mengikutinya.

Sepanjang jalan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.

“Kita bicara disini saja, biar aku yang traktir” Keito duduk dibangku disebuah cafĂ© kecil didekat sekolah.

“Aa. Etto Senpai, akuu” Kento menggantungkan kalimatnya lagi.

“Aku dan Keisha memang bukan soudara kandung” Keito memberikan daftar pesanan kepada pelayan.

“Maksud Keito Senpai?” Wajah Kento penasaran.

“Eh, sebelumnya aku ingin kau mengaku, kalau kau suka pada adikku. Sampai kau menguntiti adikku” Keito tersenyum menggoda Kento. Wajah kento malu. Tertunduk lagi, kini wajahnya memerah.

“Ah. Keito Senpai. Baka Janai” Kento semakin tertunduk dalam malu. Dia tidak dapat berkutik.

“Souka, ibuku dan ayahnya menikah, lalu kami menjadi soudara. End” Keito meneguk kopi yang diapesan. “Minumlah, jangan sungkan”

“Ahh, tapi, nama kalian, wajah kalian, meski memang Keisha lebih mirip orang barat, sedangkan Keito Senpai lebih mirip orang jepang, tapi kalian seperti soudara kandung” Kento memasukkan gula kedalam minumannya. Rasa minuman yang diapesan seperti air got pikir Kento dalam hati.

Keito hanya mengangguk dengan pasti. “Demo” Keito tersenyum, “Keisha tidak pernah menganggapku sebagai kakaknya kan?” Wajah Keito kini seperti orang yang tidak pernah makan semalam tujuh hari. Lemas dan lesu.

“Nande Senpai?” Kento mengaduk minuman yang rasanya seperti air got itu. Itu adalah kopi asal Russia.

“Nande monai. Entahlah. Padahal aku ingin sekali punya adik perempuan”.

***

“Tadaima” Otoosama datang membawa beberapa jinjingan. “Dimana Keisha dan Keito?” Otoosama memberikan jinjingan itu pada perempuan yang sekarang dipanggil Okaasama itu. Otoosama bergegas menuju kamar Keisha.

“Ahhh~ Sugeeee. Kalung ini untukku? Gelang ini? Perhiasan ini? Baju ini? Astaga~” Perempuan itu bergeming.

“Okaasama. Harusnya kau mencintai Otoosama apa adanya. Sesuai dengan janjimu padaku dulu.” Keito merebut semua barang yanga da ditangan perempuan itu.

“Nani? Ini adalah milikku. Yang penting sekarang kita hidup senang Kei chan” Perempuan itu merebut lagi barangnya. Keito hanya diam dan tidak bisa berkutik.

#KEISHA ROOM#

“Sayang, ayo cepat turun, makanan sudah siap” Otoosama menyalahkan lampu kamar Keisha.

“Aku tidak lapar” Keisha bergeming dibalik selimutnya.

Keisah sungguh tidak ingin bertemu dengan perempuan yang harusnya ia panggil Okaasama itu. Menurut Keisha perempuan itutidak lebih dari SAMPAH.

“Cepatlah, Okaasama sudah memasak makanan kesukaanmu.Sushi” Otoosama menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuh putrinya itu.

Keisha menarik selimutnya lagi. “Aku tidak akan memakan sushi buatan siapapun kecuali buatan Mom. Sudah sana. Aku tidak lapar” Keisha menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

***

“Moom, Wait” Keisha kecil berteriak desebrang jalan. Mom menghampiri Keisah.

“You will be okay with me” Mom memeluk tubuh kecil Keisha.

Mom adalah ibu kandung Keisha. Mom orang yang snagat dekat dengan Keisha, di Inggris, Keisah belajar disekolah khusus orang Jepang. Dia banyak belajar bahasa Jepang dari sana.

“Mom, can I buy it?” Keisha kecil menunjuk es krim rasa stroberi. Mom menyuruh Keisha untuk menunggu.

“For you honey” Mom memberikan double scope s krim stroberi.

“Love you mom” Keisah kecil mencium mom dengan mulut yang belepotan eskrim.

“Too hoey, wait ne” Mom mengangkat telepon. Dari Otoosama rupanya.

“Nani? Kau tidak bisa hadir dihari ualng tahun Keisha sekali gus ulang tahun pernikahan kita?” Nada bicara Mom tampak sedih. Wajah mom murung. Perlahan air mata mom mengalir dari mata biru besarnya yang cantik. Keisha kecil hanya bisa diam, tidak mengerti apa-apa.

“Are you okay Mom?” Mom memeluk Keisha kecil yang masih sibuk dengan es krimnya.

“Let’s we go home” Mom menuntun Keisha kecil. Keisha hanya menurut

Dia benar-benar tidak datang dihari spesial ini. Seisi rumah sudah penuh dengan dekorasi, tamu yang hadirpun sudah banyak. Sampai acara selesaipun dia tidak datang.

Keisha kecil menagis dihari ulang tahunnya.

“Kenapa?” Mom memeluk tubuh kecil anak kesayangannya itu.

“Dimana dad?” Keisha kecil memang memanggil Otoosama dengan panggilan Dad.

Mom tersenyum, ada kilau bening dimatanya. “Dad sedang sibuk, sebaiknya kau tidur, ini sudah malam. Pesta sudah usai” Mom menuntun anak satu-satunya itu menuju kamar.

***

“Apa? Kau berhasil membuat Keisha menagis dihari ulang tahunnya. Kau ini kejam sekali!” Mom mencoba tenang, namun sikap Dad selalu saja membuat Mom tegang.

“Tapi aku banyak kerjaan” Dad mulai naik darah.

“Sampai kapan kau harus mementingkan pekerjaan?” Mom mambanting pintu, tanpa sadat mom membagunkan Keisha. Diam-diam Keisha mendengarkan semuanya. Air mata Keisha kecil menetes, mambasahi kepala Dori, boneka doraemon sahabanya.

#2 minggu kemudian#

“Keisha, kau ikut sama dad ya, mom harus pergi” mom memeluk erat Keisha, seperti enggan melepaskan hartanya yang paling berharga. Airmata mom membasahi pipinya. Keisha kecil hanya sibuk dengan es krimnya.

“memang Mom mau kemana?” Keisha bertanya pada Dad, Dad hanya diam, menuntun Keisha masuk kedalam mobil.

Semenjak saat itu, Keisha tidak lagi pernah bertemu dengan Mom.

***

Bersambung yaa...sekali lagi saya mau bikin beberapa part. hahahah. Jyaa. Mata ne.

Jumat, 17 Juni 2011

Fanfiction 'Itsudemo'

Fanfiction

Title : Itsudemo

Cast : Ryutaro Morimoto (HSJ) Natsune Minamoto

Genre : Jangan Tanya genre sama saya. Nga pernah ngerti.

Author : Saya sendiri

Theme Song : “MOMOSU-HARE AME NOCHI SUKI” (denger lagi ini jadi ngalir ide)

Perlahan namun pasti salju turun, berjatuhan ditanah dan diatas kepala mereka, mereka masih terus berjalan, mereka memang biasa pulang berdua semenjak satu sekolah di SMU.

“Aa. Etto, Natsu chan” Ryu tertunduk, suaranya sama terdengar, mungkin karena wajanya tertutup syal dan jaket.

“Nande Ryutaro?” Natsu mendongkak wajahnya lalu menatap pada Ryu.

“Etto. Ryu terbata. Apa ada lelaki yang kau suka?” Ryu semakin tertunduk.

“Eh? Tidak, nanda yo?” Natsu semakin penasaran. Ryu sedikit berlari.

“Kajar aku kalau mau tahu jawabannya” Ryu berlari semakin kencang, Natsu mencoba mengejarnya.

Bruuuukkk Natsu terjatuh, membuat Ryu tersentak dan berlari untuk menolong. Ryu mencoba mengagkat Natsu, namun Ryu tudak kuat mengaggkat Natsu.

“Natsu chan, aku berat sekali. Daijobu ka?” Ryu memapar Natsu untuk menepi dari jalan.

“Uhhh, kukira kau akan mengendongku” Natsu menekuk wajanya.

“Hahahaha, gomen na, aku tidak kuat. Tadinya mau begitu, tapi apa mau dikata” Mendengar ucapan Ryu, Natsu malah tertawa, seakan rasa sakit akibat dia terjatuh sudah hilang seketika

“Kau belum menjawab” Nat mencoba bangkit untuk berjalan “ahhh. Itaaaii” Ryu panik dan memapar Natsu lagi.

“Natsu chan, kimi ga Daisuki yo. Mau kah kau menjadi pacarku?” Nat langsung dapat berdiri tegak. “Nat, apa itu dihidungmu? Kau mimisan” Ryu mengambil sapu tangan dari sakunya. Mengelap darah yang keluar dari hidung Natsu. “Ini” Ryu melepas jaketnya dan memasangkannya pada Natsu. “Jadi? Kau terima atau tiidak?” Ryu masih menunggu jawaban dari Natsu, wajah Ryu HHC (Harap-Harap Cemas).

“Atashi mo Ryu chan, Kimi ga daisuki mo” Natsu memeluk Ryu. Ditengah rintiknya salju, didekat jembatan sekolah, hari itu menjadi kenangan yang sangat Indah untuk Natsune dan Ryutaro.

“Sampai disini dulu kekasihku, Jaa” Ryu tersenyum sembari mengecup kening Natsu. Lalu pergi menuju rumahnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Natsu.

Bagaimana ini?

Aku sudah benar-benar jadian dengannya.

Ku harap Kita akan langgeng.

Tuhan, jadikan dia yang pertama dan terakhir.

Uhuk.uhuk.uhkuk . Natsu terbatuk. Menghampiri Okaasama yang masih menonton TV.

“Okaa sama, diamana?” Natsu terus memnagngi perut dan kepalanya.

“Astaga, kau ini, sudah Okaasama katakan janga terlalu letih” Okaa sama memapar Natsu kekamar lalu membari Natsu sedikit obat.

***

“Selamat Anda mendapatkan bayi perempuan yang cantik” Okaa sama tersenyum menatap Natsu yang baru lahir. “Sumimasen, apa anda suaminya?” Dokter itu bertanya pada Otoosama. “Bisakah kami berbicara sebentar?” Dokter itu mengajak Otoosama keruangannya. Tak lama Otoosama kembali dan melihat bagaimana keadaan Okaasama.

“Otoo sama, kemari. Lihatlah bayi kita cantik sekali” Okaa sama tersenyum dikasurnya. Senyuman seorang ibu yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata.

“Okaa sama mau beri nama siapa?” Otoosama mengelur rambut Natsu yang baru lahir dan istrinya.

“Natsune” Lagi-lagi Okaa sama tersenyum. Indah sekali

“Natsune chan. Kireii desu. Okaa sama, Natsu chan terlahir dengan hanya….”

***

“Natsu, sudah waktunya sekolah sayang, ayo bangun” Okaa sama membangunkan Natsu yang masih tertidur pulas.

Perlahan Natsu membuka mata. “Ahhh, itaiiii” lagi-lagi Natsu memegangi perutnya. “Astaga, sudah jam berapa ini?” Natsu bergegas menu kamar mandi dan meninggalkan Okaa sama.

“Natsu jangan lupa sarapan” Okaa sama sudah standby di meja makan.

“Aku haru berangkat. Bento sudah ku bawa. Itte kimasu” Natsu langsung pegi berlari kecil, tanpa mempardulikan kesehatannya. Natsu tidak sabar ingin bertemu dengan Ryu.

“Ohayou Ryu chan” Natsu menyapa Ryu dari kajauhan.

“Ohayou. Bagaimana keadaanmu, semalam sudah tidak apa-apa? E-mailku yang teakhir kenapa tidak dibalas?” Ryu menggandeng tangan Natsu. Natsu emnunduk, wajahnya memerah.

“Aku malu Ryu chan, ku mohon lepaskan” Ryu melepaskan tangan Natsu, wajah Natsu tenang, namun Ryu malah cemberut.

“Nanti kita makan siang bersama, aku membawa bento, Jaa~” Natsu masuk kekelasnya, mereka memang berbeda kelas, dulu satu sekolah saat sekolah dasar, saat SMP berpisah, dan sekarang berastu kembali.

From : Nastsu_tsu

To : Ryutaro

Subject : gomen

Gomen na Ryu chan, hari ini aku tidak bisa menemani makan siang. Aku harus mengurus club paduan suara. Mungkin juga samapi sore. Jika kau mau pulang duluan, pulanglah.

I love you

Natsu menekan tombol ‘send’dan terkirimlah pesan itu kepada Ryu.

“Uhhhhhh. Natsu chan, kenapa sih? Aku kan ingin berduaan. Masa nga bisa terus. Sibuk banget sama clubnya, padahal kan kita udah jadian lama. Masa aku dinomer duakan sih, yang nomer satu selalu saja paduan suara” Ryu membatin, sembari memberekan bukunya saat akan pulang sekolah.

Seisi sekolah sudah sepi. Ryu yang piket sengaja pulang belakangan. “Eh? Natsu chan?”

“Natsu chan, aku suka pada mu” Yuri senpai memeluk Natsu ditengah kesunyian ruang club. Ryu hanya bisa diam menyaksikan hal itu.

Perlahan wajah Yuri senpai mendekat pada wajah Natsu. Ryu sudah tidak kuat melihatnya. Ryu berlari dengan sekuat tenaga.

“Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh. Aku tahu dia lebih baik dari ku!!!!!!!” Ryu berteriak dijembatan dekat sekolah, tempat Ryu dan Natsu jadian.

From : Ryutaro

To : Natsu_tsu

Subject : End

Natsu chan, aku tahu dia lebih baik dariku. Ku harap kau bahagia bersamanya.

Setelah ada laporan pesan terkirim, Ryu mematikan ponselnya.

“Biar saja, aku tak ingin kau menghubungi ku!” Ryu membenamkan tubuhnya dalam kasur dan selimut.

***

“Ayoo balas Ryu chan, ku mohon” Natsu mundar-mandir dikamarnya yang sunyi itu. “Ku mohon, aktiflah. Duuuhhh, kau kenapa sih Ryu chan?” Natsu masih tetap mundar-mandir. Pikiran Natsu kacau.

“Natsu chan, cepat makan malam, lalu istirahat” Okaa sama memanggil dari meja makan.

“Chotto Okaa sama. Aku sedang ada urusan” Natsu masih terus mencoba menghubungi Ryu. “Akktiiiffff. Cepat angkat Ryu chan. Moshi.moshi, Ryu chan, nande yo kau berkata seperti itu?” Natsu benar-benar tidak tahu apa-apa.

“Nani? Kau berciuman dengan Yuri senpai kan? Jika kau ingin menjelaskan sesuatu datanglah kerumahku sekarang!” Tiba-tiba sambungan telepon terputus. Air mata Natsu jatuh, Natsu memegang perutnya yang agak sakit.

“Okaa sama, aku izin keluar sebentar” Natsu memakai mantel tipis, kelihatannya mala mini tidak aka nada salju. Sial, ditengah perjalanan hujan turun deras, Natsu tetep memaksa untuk bertemu dengan Ryu, dia melanjutkan perjalanan, Natsu berjalan perlahan, badannya mulai lunglai, kepalanya terasa berat dan perutnya terasa amat sakit. Natsu masih terus berjalan. Kini pandangannya mulai kabur.

“Sumimasen” brrruuuukkk Natsu terjatuh pingsan didepan rumah Ryu. Dengan repleks Ryu membawanya kerumah sakit.

“Bagaimana keadaan Natsu chan dok?” Ryu panik sekali. Pikirannya kacau.

“Apa kau keluarga dari Natsune?’ Dokter tersebut bertanya pada Ryu.

“Bukan dok, aku kekasihnya. Bagaimana keadaan Natsune?”Ryu semakin panik saat dokter tersebut tidak menjawab apapun.

Ryu masuk kedalam ruang ICU. Menemani Natsu yang masih terkapar lemas dihadapannya.

“Gomen na Natsu chan. Ku mohon kau kuat. Kau harus kuat!” Ryu mengguncang tubuh Natsu. Tiba-tiba Ryu mendengar seseorang membuka pintu.

Plaaaaaaaakkkk. Sebuah tamparan mendarat dipipi Ryu. “Kau yang bernama Ryutaro ne? kau yang membuat natsu seperti ini kan?” Okaa sama menunjukkan ponsel Natsu yang tertinggal dikamar. “Pergi kau! Kau ini perusak anakku!” Mendengar kata-kata yang begitu menohoknya. Ryu hanya bisa diam, lalu menuruti permintaan Okaasama.

***

 

“Tuha, ku mohon, kuatkanlah dia untukku” Ryu membunyikan lonceng dikuil kecil dekat sekolah itu. Meminta agar Natsu diberi kekuatan. RYu sama sekali tidak punya keberanian untuk mendatangi rumah sakit. Ryu tahu. Ini semua salahnya.

“Ahh. Aku harus kalahkan rasa takut ini!” Ryu membatin. Perlahan kaki besarnya melangkah menuju rumah sakit.

“Ada yang bisa kami bantu?” Seorang suster bertanya pada Ryu yang berdiri di depan meja resepsionis.

“Hmm, ano, pasien yang bernama Natsune Minamoto. Dia sakit apa?” Ryu mengisi buku tamu yang disediakan rumah sakit. Dengan sabar suster itu mengimput data dikomputer.

“Wakatta. Natsune Minamoto, umur 16 tahun, dia terlahir dengan hanya memiliki satu ginjal. Dan sekarang ginjalnya sudah rusak parah. Keadaan kritis dituang ICU. Ada apa ya?” Suster itu memberikan semua yang terdata dikomputer data pasien.

Ryu mengagguk. “Tidak ada apa-apa, aku teman sekelasnya. Pa guru mrnyuruhku untuk menanyakan keadaanya. Arigatou” Ryu meninggalkan meja itu. Perlahan airmatanya jatuh, membasahi pipinya. “Suster tadi bilang terlahir dengan satu ginjal? Dan yang satunya sudah rusak parah. Dan sekarang dia Kritis?” Ryu termenung dijembatan dekat sekolah, tempat yang selalu mengingatkan dirinya akan Natsune.

“Maaf, kita harus cepat melakukan operasi, jika tidak nyawanya tidak akan terselamatkan”

***

Perlahan Natsu membuka matanya. Lalu memegang perutnya yang sedikit sakit.

“Jangan bangun dulu Natsu chan” Okaa sama menyuruhnya untuk tidur lagi. Natus menurut.

“Bagaimana sekarang?” Otoo sama tersenyum pada putrid satu-satunya itu.

“Enak, hanya badanku lemas, sedikit perih bekas jahitannya” Natsu mencoba tersenyu kepada orang tuanya. “Kalau boleh tau siapa?” Natsu menggenggam tangan Okaa sama. Okaa sama hanya tersenyum.

“Berjanjilah, kau akan tersenyum” Okaa sama mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Okaa sama memberinya sebuah surat.

Natsu chan,

Aku meminta maaf padamu. Kau begini pun karena salahku kan?

Percayalah Natsu chan, aku ingin kau terus hidup karena aku mencintaimu.

Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah ada disurga. Dan ketahuilah,

Aku disini akan bahagia jika melihatmu terus tersenyum.

Otanjoubi Omedetou Natsune chan. Aishiteru.

Ryutaro Morimoto

Perlahan air mata Natsu berjatuhan. Semakin lama semakin kencang air bening itu keluar dari bendungannya. Okaa sama memberinya sebuah kotak berwarna pink warna kesukaan Natsu. Dengan gemetar, Natsu membuka tutup kota itu. Airmatanya benar-benar mengalir deras. Natsu melihat sepasang kalung dengan bandul kunci dan gembok, dan dibelakang bantul tersebut ada ukiran ‘Ryutaro♥Natsune’. Natsu memflas back pikirannya. Ryu pernah berjanji akan membalikan sepasang kalung yang Natsu mau, saat tabungannya sudah cukup. Kalung itu akan mengunci Natsu untuk Ryu dan hanya bisa dibuka oleh kunci yang dipengan Ryu. Air mata Natsu benar-benar tidak bisa terbendung.

“Ryu chan, I always love you. And I will always smile for you. Berjanjilah, kita akan betemu kembali disurga nanti” Air mata nat membasahi papan nisan dengan tulisan nama Ryu dan wafat tepat dihari ulang tahun Natsu.



~END~

Gomen kalo ada salah kata atau ngetik. Ini FF aku bikin jam 23.00 (kaya kunti m

FF singkat yang gaze (maklum yang bikin juga gaze)

Fanfiction 'Itsudemo'

Fanfiction

Title : Itsudemo

Cast : Ryutaro Morimoto (HSJ) Natsune Minamoto

Genre : Jangan Tanya genre sama saya. Nga pernah ngerti.

Author : Saya sendiri

Theme Song : “MOMOSU-HARE AME NOCHI SUKI” (denger lagi ini jadi ngalir ide)

Perlahan namun pasti salju turun, berjatuhan ditanah dan diatas kepala mereka, mereka masih terus berjalan, mereka memang biasa pulang berdua semenjak satu sekolah di SMU.

“Aa. Etto, Natsu chan” Ryu tertunduk, suaranya sama terdengar, mungkin karena wajanya tertutup syal dan jaket.

“Nande Ryutaro?” Natsu mendongkak wajahnya lalu menatap pada Ryu.

“Etto. Ryu terbata. Apa ada lelaki yang kau suka?” Ryu semakin tertunduk.

“Eh? Tidak, nanda yo?” Natsu semakin penasaran. Ryu sedikit berlari.

“Kajar aku kalau mau tahu jawabannya” Ryu berlari semakin kencang, Natsu mencoba mengejarnya.

Bruuuukkk Natsu terjatuh, membuat Ryu tersentak dan berlari untuk menolong. Ryu mencoba mengagkat Natsu, namun Ryu tudak kuat mengaggkat Natsu.

“Natsu chan, aku berat sekali. Daijobu ka?” Ryu memapar Natsu untuk menepi dari jalan.

“Uhhh, kukira kau akan mengendongku” Natsu menekuk wajanya.

“Hahahaha, gomen na, aku tidak kuat. Tadinya mau begitu, tapi apa mau dikata” Mendengar ucapan Ryu, Natsu malah tertawa, seakan rasa sakit akibat dia terjatuh sudah hilang seketika

“Kau belum menjawab” Nat mencoba bangkit untuk berjalan “ahhh. Itaaaii” Ryu panik dan memapar Natsu lagi.

“Natsu chan, kimi ga Daisuki yo. Mau kah kau menjadi pacarku?” Nat langsung dapat berdiri tegak. “Nat, apa itu dihidungmu? Kau mimisan” Ryu mengambil sapu tangan dari sakunya. Mengelap darah yang keluar dari hidung Natsu. “Ini” Ryu melepas jaketnya dan memasangkannya pada Natsu. “Jadi? Kau terima atau tiidak?” Ryu masih menunggu jawaban dari Natsu, wajah Ryu HHC (Harap-Harap Cemas).

“Atashi mo Ryu chan, Kimi ga daisuki mo” Natsu memeluk Ryu. Ditengah rintiknya salju, didekat jembatan sekolah, hari itu menjadi kenangan yang sangat Indah untuk Natsune dan Ryutaro.

“Sampai disini dulu kekasihku, Jaa” Ryu tersenyum sembari mengecup kening Natsu. Lalu pergi menuju rumahnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Natsu.

Bagaimana ini?

Aku sudah benar-benar jadian dengannya.

Ku harap Kita akan langgeng.

Tuhan, jadikan dia yang pertama dan terakhir.

Uhuk.uhuk.uhkuk . Natsu terbatuk. Menghampiri Okaasama yang masih menonton TV.

“Okaa sama, diamana?” Natsu terus memnagngi perut dan kepalanya.

“Astaga, kau ini, sudah Okaasama katakan janga terlalu letih” Okaa sama memapar Natsu kekamar lalu membari Natsu sedikit obat.

***

“Selamat Anda mendapatkan bayi perempuan yang cantik” Okaa sama tersenyum menatap Natsu yang baru lahir. “Sumimasen, apa anda suaminya?” Dokter itu bertanya pada Otoosama. “Bisakah kami berbicara sebentar?” Dokter itu mengajak Otoosama keruangannya. Tak lama Otoosama kembali dan melihat bagaimana keadaan Okaasama.

“Otoo sama, kemari. Lihatlah bayi kita cantik sekali” Okaa sama tersenyum dikasurnya. Senyuman seorang ibu yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata.

“Okaa sama mau beri nama siapa?” Otoosama mengelur rambut Natsu yang baru lahir dan istrinya.

“Natsune” Lagi-lagi Okaa sama tersenyum. Indah sekali

“Natsune chan. Kireii desu. Okaa sama, Natsu chan terlahir dengan hanya….”

***

“Natsu, sudah waktunya sekolah sayang, ayo bangun” Okaa sama membangunkan Natsu yang masih tertidur pulas.

Perlahan Natsu membuka mata. “Ahhh, itaiiii” lagi-lagi Natsu memegangi perutnya. “Astaga, sudah jam berapa ini?” Natsu bergegas menu kamar mandi dan meninggalkan Okaa sama.

“Natsu jangan lupa sarapan” Okaa sama sudah standby di meja makan.

“Aku haru berangkat. Bento sudah ku bawa. Itte kimasu” Natsu langsung pegi berlari kecil, tanpa mempardulikan kesehatannya. Natsu tidak sabar ingin bertemu dengan Ryu.

“Ohayou Ryu chan” Natsu menyapa Ryu dari kajauhan.

“Ohayou. Bagaimana keadaanmu, semalam sudah tidak apa-apa? E-mailku yang teakhir kenapa tidak dibalas?” Ryu menggandeng tangan Natsu. Natsu emnunduk, wajahnya memerah.

“Aku malu Ryu chan, ku mohon lepaskan” Ryu melepaskan tangan Natsu, wajah Natsu tenang, namun Ryu malah cemberut.

“Nanti kita makan siang bersama, aku membawa bento, Jaa~” Natsu masuk kekelasnya, mereka memang berbeda kelas, dulu satu sekolah saat sekolah dasar, saat SMP berpisah, dan sekarang berastu kembali.

From : Nastsu_tsu

To : Ryutaro

Subject : gomen

Gomen na Ryu chan, hari ini aku tidak bisa menemani makan siang. Aku harus mengurus club paduan suara. Mungkin juga samapi sore. Jika kau mau pulang duluan, pulanglah.

I love you

Natsu menekan tombol ‘send’dan terkirimlah pesan itu kepada Ryu.

“Uhhhhhh. Natsu chan, kenapa sih? Aku kan ingin berduaan. Masa nga bisa terus. Sibuk banget sama clubnya, padahal kan kita udah jadian lama. Masa aku dinomer duakan sih, yang nomer satu selalu saja paduan suara” Ryu membatin, sembari memberekan bukunya saat akan pulang sekolah.

Seisi sekolah sudah sepi. Ryu yang piket sengaja pulang belakangan. “Eh? Natsu chan?”

“Natsu chan, aku suka pada mu” Yuri senpai memeluk Natsu ditengah kesunyian ruang club. Ryu hanya bisa diam menyaksikan hal itu.

Perlahan wajah Yuri senpai mendekat pada wajah Natsu. Ryu sudah tidak kuat melihatnya. Ryu berlari dengan sekuat tenaga.

“Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh. Aku tahu dia lebih baik dari ku!!!!!!!” Ryu berteriak dijembatan dekat sekolah, tempat Ryu dan Natsu jadian.

From : Ryutaro

To : Natsu_tsu

Subject : End

Natsu chan, aku tahu dia lebih baik dariku. Ku harap kau bahagia bersamanya.

Setelah ada laporan pesan terkirim, Ryu mematikan ponselnya.

“Biar saja, aku tak ingin kau menghubungi ku!” Ryu membenamkan tubuhnya dalam kasur dan selimut.

***

“Ayoo balas Ryu chan, ku mohon” Natsu mundar-mandir dikamarnya yang sunyi itu. “Ku mohon, aktiflah. Duuuhhh, kau kenapa sih Ryu chan?” Natsu masih tetap mundar-mandir. Pikiran Natsu kacau.

“Natsu chan, cepat makan malam, lalu istirahat” Okaa sama memanggil dari meja makan.

“Chotto Okaa sama. Aku sedang ada urusan” Natsu masih terus mencoba menghubungi Ryu. “Akktiiiffff. Cepat angkat Ryu chan. Moshi.moshi, Ryu chan, nande yo kau berkata seperti itu?” Natsu benar-benar tidak tahu apa-apa.

“Nani? Kau berciuman dengan Yuri senpai kan? Jika kau ingin menjelaskan sesuatu datanglah kerumahku sekarang!” Tiba-tiba sambungan telepon terputus. Air mata Natsu jatuh, Natsu memegang perutnya yang agak sakit.

“Okaa sama, aku izin keluar sebentar” Natsu memakai mantel tipis, kelihatannya mala mini tidak aka nada salju. Sial, ditengah perjalanan hujan turun deras, Natsu tetep memaksa untuk bertemu dengan Ryu, dia melanjutkan perjalanan, Natsu berjalan perlahan, badannya mulai lunglai, kepalanya terasa berat dan perutnya terasa amat sakit. Natsu masih terus berjalan. Kini pandangannya mulai kabur.

“Sumimasen” brrruuuukkk Natsu terjatuh pingsan didepan rumah Ryu. Dengan repleks Ryu membawanya kerumah sakit.

“Bagaimana keadaan Natsu chan dok?” Ryu panik sekali. Pikirannya kacau.

“Apa kau keluarga dari Natsune?’ Dokter tersebut bertanya pada Ryu.

“Bukan dok, aku kekasihnya. Bagaimana keadaan Natsune?”Ryu semakin panik saat dokter tersebut tidak menjawab apapun.

Ryu masuk kedalam ruang ICU. Menemani Natsu yang masih terkapar lemas dihadapannya.

“Gomen na Natsu chan. Ku mohon kau kuat. Kau harus kuat!” Ryu mengguncang tubuh Natsu. Tiba-tiba Ryu mendengar seseorang membuka pintu.

Plaaaaaaaakkkk. Sebuah tamparan mendarat dipipi Ryu. “Kau yang bernama Ryutaro ne? kau yang membuat natsu seperti ini kan?” Okaa sama menunjukkan ponsel Natsu yang tertinggal dikamar. “Pergi kau! Kau ini perusak anakku!” Mendengar kata-kata yang begitu menohoknya. Ryu hanya bisa diam, lalu menuruti permintaan Okaasama.

***

 

“Tuha, ku mohon, kuatkanlah dia untukku” Ryu membunyikan lonceng dikuil kecil dekat sekolah itu. Meminta agar Natsu diberi kekuatan. RYu sama sekali tidak punya keberanian untuk mendatangi rumah sakit. Ryu tahu. Ini semua salahnya.

“Ahh. Aku harus kalahkan rasa takut ini!” Ryu membatin. Perlahan kaki besarnya melangkah menuju rumah sakit.

“Ada yang bisa kami bantu?” Seorang suster bertanya pada Ryu yang berdiri di depan meja resepsionis.

“Hmm, ano, pasien yang bernama Natsune Minamoto. Dia sakit apa?” Ryu mengisi buku tamu yang disediakan rumah sakit. Dengan sabar suster itu mengimput data dikomputer.

“Wakatta. Natsune Minamoto, umur 16 tahun, dia terlahir dengan hanya memiliki satu ginjal. Dan sekarang ginjalnya sudah rusak parah. Keadaan kritis dituang ICU. Ada apa ya?” Suster itu memberikan semua yang terdata dikomputer data pasien.

Ryu mengagguk. “Tidak ada apa-apa, aku teman sekelasnya. Pa guru mrnyuruhku untuk menanyakan keadaanya. Arigatou” Ryu meninggalkan meja itu. Perlahan airmatanya jatuh, membasahi pipinya. “Suster tadi bilang terlahir dengan satu ginjal? Dan yang satunya sudah rusak parah. Dan sekarang dia Kritis?” Ryu termenung dijembatan dekat sekolah, tempat yang selalu mengingatkan dirinya akan Natsune.

“Maaf, kita harus cepat melakukan operasi, jika tidak nyawanya tidak akan terselamatkan”

***

Perlahan Natsu membuka matanya. Lalu memegang perutnya yang sedikit sakit.

“Jangan bangun dulu Natsu chan” Okaa sama menyuruhnya untuk tidur lagi. Natus menurut.

“Bagaimana sekarang?” Otoo sama tersenyum pada putrid satu-satunya itu.

“Enak, hanya badanku lemas, sedikit perih bekas jahitannya” Natsu mencoba tersenyu kepada orang tuanya. “Kalau boleh tau siapa?” Natsu menggenggam tangan Okaa sama. Okaa sama hanya tersenyum.

“Berjanjilah, kau akan tersenyum” Okaa sama mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Okaa sama memberinya sebuah surat.

Natsu chan,

Aku meminta maaf padamu. Kau begini pun karena salahku kan?

Percayalah Natsu chan, aku ingin kau terus hidup karena aku mencintaimu.

Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah ada disurga. Dan ketahuilah,

Aku disini akan bahagia jika melihatmu terus tersenyum.

Otanjoubi Omedetou Natsune chan. Aishiteru.

Ryutaro Morimoto

Perlahan air mata Natsu berjatuhan. Semakin lama semakin kencang air bening itu keluar dari bendungannya. Okaa sama memberinya sebuah kotak berwarna pink warna kesukaan Natsu. Dengan gemetar, Natsu membuka tutup kota itu. Airmatanya benar-benar mengalir deras. Natsu melihat sepasang kalung dengan bandul kunci dan gembok, dan dibelakang bantul tersebut ada ukiran ‘Ryutaro♥Natsune’. Natsu memflas back pikirannya. Ryu pernah berjanji akan membalikan sepasang kalung yang Natsu mau, saat tabungannya sudah cukup. Kalung itu akan mengunci Natsu untuk Ryu dan hanya bisa dibuka oleh kunci yang dipengan Ryu. Air mata Natsu benar-benar tidak bisa terbendung.

“Ryu chan, I always love you. And I will always smile for you. Berjanjilah, kita akan betemu kembali disurga nanti” Air mata nat membasahi papan nisan dengan tulisan nama Ryu dan wafat tepat dihari ulang tahun Natsu.



~END~

Gomen kalo ada salah kata atau ngetik. Ini FF aku bikin jam 23.00 (kaya kunti m

FF singkat yang gaze (maklum yang bikin juga gaze)

Jumat, 10 Juni 2011

Fanfiction 'Diary Cintaku'

Fanfiction

Title : Diary Cintaku

Genre : Nga tau (baca aja sendiri)

Cast :  Morimoto Ryutaro

Ucii-chan

Author : Me (Morimoto Lisa)

 

“Nga, bukan kaya begitu Uci, Tapi kaya begini!” Ryu sedikit membentak pada Uci. Uci hanya tertunduk mendengar nada bicara Ryu. “Gomen na, aku tidak bermaksud untuk membentakmu” Uci hanya tertunduk, Ryu meraih tangan Uci.

“Daijobu Ryu chan” Uci meninggalkan Ryu didalam hening perpustakaan.

Aku tahu, sampai kapanpun, aku tidak akan pantas untukmu, aku hanyalah seorang gadis biasa yang tidak ada apa-apanya untukmu.

“Uci chan, chotto. Ini tadi punyamu tertinggal” Ryu memebrikan buku kecil bersampul biru. Wajah Uci sedikit panik.

“Eh? Arigatoo Ryu chan” Uci mengambil buku yang sebenarnya adalah buku diary Uci.

“Kau tahu tidak, aku tadi berniat untuk membacanya” Mendengar ucapan Ryu, wajah Uci semakin panik. “Namun ku urungkan niatku” Ryu tertawa. Sedangkan Uci hanya diam.

Kenapa sih? Kau mau dekat denganku? Aku bukannya hanya gadis miskin biasa ya? Aku kan tak pantas dekat dengan mu.

“Uci chan, Jaa” Ryu melambaikan tangan, Ryu sudah sampai dirumahnya yang besar, sedangkan Uci masih harus melalui gang sempit dibelakang rumah Ryu.
***

Dear Diary,

Saat istirahat, Ryu chan membentakku hanya karena aku salah menggambar manga yang dia mau. Dia memang keras kepala. Tapi kenapa dia selalu meminta tolong menggambarkan manga? Dasar Tuan ku memang aneh.

Ehh, aku selalu bertanya, apakah Ryu chan menyukaiku? Dia kan orang kaya, statusnya tak sama dengan ku. tadi hampir saja dia membacamu, ahhh aku panik sekali. Untungnya dia tidak jadi membacamu, aku jadi tenang.

Dikamar kecilnya Uci perlahan menutup diarainya, lalu menuju tempat tidur. Diteramanya lampu kamar, Uci berdo’a semoga besok lebih baik dari hari ini.

***

“Ohayou gozaimasu” Sapaan setiap siswa terdengar disekolah yang cukup besar itu.

“Uci chan, ohayou” Ryu menggandeng tangan Uci.

“Ohayou tuan Ryu” Ryu melepaskan gandengannya.

“Aku tahu, ibumu adalah pembantu dirumah ku, namuan ku mohon jangan memanggilku dengan sapaan seperti itu, kau ini kan temanku, kau ini sering sekali lupa ya!” Ryu menggandeng lengan Uci lagi. Uci hanya tersenyum.

Kau adalah Tuan ku Ryu, meski aku menyukaimu. Sampai kapanpun kau tetap akan menjadi tuanku.

“Tolong buatkan aku mangga, hari ini ibumu membawakan bento untuk ku, kita makan sama-sama ya”

“Un. Tuan, eh Ryu chan” Ryu tertawa melihat tingkah Uci. Uci hanya menunduk dalam malu.

“Eh, kau sudah mengerjakan PR? Nanti kita makan berasama ne?”

“Un, aku sudah mengerjakan PR. Baiklah” Lagi-lagi Uci tidak berani menatap Ryu.

Angin ini, berhembus menerpa tubuhku, terasa dinging sekali, namun kau selalu disisiku, membuat suasana menjadi hangat.

“Ayoooo, Cepatlah” Ryu menggandeng tangan Uci, Uci hanya menurut. “Ah, kita makan disini saja” Ryu berhenti ditaman belakang sekolah. “Indah ne Uci chan?” Ryu duduk dibawah pohon sakura yang sedang mekar.

“Hai. Kau mau kulukis dibawah pohon sakura?” Uci mengeluarkan kertas gambar dan pensilnya.

“Hontoo ni? Ahhhh aku mauuu” Senyum mengembang dari bibir Ryu. Perlahan Uci mulai menggoreskan pinsilnya dikertas gambar. Ryu terus tersenyum sembari bergaya.

“Aa, Tuan, kau jangan banyak bergerak, nanti gambarnya tidak jadi” Uci sedikit protes saat Ryu mulai kelelahan bergaya.

“Eh, Chotto, kau panggil aku apa tadi? Ahhh kau ini, jangan memanggilku seperti itu” Ryu malah memarahi balik Uci.

“Hahahahah Gomen na, aku keceplosan, sekarang bisakah kau kembali keposisimu? Sedikit lagi jadi” Ryu mengikuti perintah Uci, diapun kembali bergaya dibawah pohon sakura.

Dimusim semi yang indah ini, ditaman belakang sekolah mereka menghabiskan bento buatan ibu Ucii, ada tawa dan canda diantara mereka.

“Waaaahhh, sugoiiiiii” Ryu berteriak memecah hening.

“Urusai Ryu chan, kau ini” Ucii menutup mulut Ryu.

“Hahahah, gomen, aku hanya senang, kenapa disini aku terlihat lebih tampan?” Ryu sedikit berberfikir.

“Ah, kau memang tampan Ryu chan” Wajah uci memerah, uci hanya menunduk.

“Ahhh, Uso ja Uci chan. Hahahaha” Ryu terbahak mendengar ucapan Uci.

Mungkin Ryu tidak benar-benar memenyukaiku ya? Mungkin dia hanya iba padaku.

***

Tadaima” Ryu membuka pintu rumahnya yang besar.

“Selamat datang tuan Ryu” Seorang wanita membukakan pintu untuknya.

“Okaa sama” Uci melakukan ojigi pada ibunya.

“Sedang apa kau nak?” Okaa sama menarik tubuh Uci

“Bi, Uci mampir kemari karena aku yang mengajaknya, Ayo Uci chan” Ryu menarik tangan Ryu dan membawanya kedalam rumah.

“laporannya harus selesai sekarang, kalau tidak kita tidak akan boleh ikut ujian tes masuk perguruan tinggi. Menyebalkan sekali” Ryu ngedumel sembari menyalakn laptopnya

“Ryu chan, arigatoo, kau sudah mau meminjami aku laptopmu, aku tidak tahu harus meminjam pada siapa lagi, dikelaskan hanya aku yang tidak punya laptop” Uci melakukan ojigi dalam.

“Ah, kau ini, sudah tidak apa-apa” Ryu tersenyum sembari menyodorkan laptonya pada Uci.

***

“Uci, Okaa sama beria tahu pada mu, kau tidak boleh bermain dengan tuan Ryu lagi!” Okaa sama mencengkram sedikit lengan Uci.

“Okaa sama, Itaii yo, aku tidak ada maksud apa-apa” Uci menunduk, airmatanya mulai tumpah.

Plaaakkkk sebuah tamparan mendarat dipipi Uci.

“Uso ja! Aku tahu kau menyukainya kan? Kau harus tahu, kau ini hanya anak pembatu, sedangkan Tuan Ryu adalah orang kaya, sampai kapanpun kau tidak akan mampu bersanding dengannya. Diperingatkan Uci, jangan dekat-dekat dengan Tuan Ryu, atau kau mau Okaa sama kehilangan pekerjaan?” Uci memengang pipinya yang memerah karena tamparan, airmatanya kini sudah benar-benar tumpah.

Dear Diary,

Iya, Okaa sama benar, aku tidak pantas untuknya.

TIDAK AKAN PERNAH PANTAS UNTUKNYA.

Air mata Uci membasahi buku harian itu. Uci menagis diatasnya.

***

Minggu depan adalah pengumuman kelulusan, Seperti layaknya siswa yang lain, Ryu dan Uci pun merasakn ketegangan yang sama. Mereka memiliki mimpi masing-masing. Uci ingin melanjutkan kuliah, itupun jika dia mendapat beasiswa full, karena Uci pikir dia tidak akan mampu membayar biaya kuliah jika tidak mendapat beasiswa. Sedangkan Ryu dia akan melanjutkan kuliah diluar negri NYC tgepatnya. Dia akan melanjutkan bisnis keluarganya.

Dear diary

Sepertinya aku akan berpisah dengan Ryu chan, mungkin ini adalah jalan yang terbaik

Aku memang tidak pantas untuknya, aku kan hanya anak seorang pembantu, sedangkan dia anak orang kaya, dan sampai kapanpun aku tidak akan bisa bersanding dengannya.

***

“Uci, selamat atas beasiswa full mu, aku ikut bangga” Ryu memberi selamat ditengah keramaian sekolah.

“Arigatoo Ryu chan, kau baik-baik ya di luar negri” Uci tersenyum manis pada Ryu.

“Uci chan, Kimi ga daisuki” Ryu menggenggam kedua tangan Uci. Uci tercengang mendengar perkataan yang mencekiknya itu. Seolah nafasnya berhenti, namun jantungnya bagai genderang yang ditabuh oleh Nakajima Yuto si drummer handal Hey!Say!Jump. Aliran darahnya serasa mengalir secepat kilat.

“Nani?” Uci mencoba meyakinkan pendengarannya lagi.

“Kimi ga daisuki Uci chan” Ryu tersenyum manis. Namun Uci mulai menagis, perlahan namun pasti air matanya terjatuh, membuat senyuman Ryu yang berkembang menjadi kempis, Ryu merasa bingung. “Daijobuka Uci chan?” Ryu mencoba untuk bertanya pada Uci. Uci tidak menjawab sepatah kata pun. Uci melepaskan genggaman tangan Ryu, lalu meninggalkannya.

Dear Diary

Aku kira hal ini tidak akan terjadi, namun aku mendengarnya sendiri. Sungguh aku senang bikan main. Ini merupakan keajaiban yang luar biasa. Namuan aku tidak berani mengatakannya. Aku malu. Lagi pula aku ini kan siapa. Ku mohon, bantu aku untuk mengatakan suka pada Ryu.

***

“Uci Chan, kau belum mengeluarakan kata apapun” Ryu mendapati Uci yang tenagh menulis dibawah pohon sakura temapt biasa mereka menghabiskan waktu makan siang.

“Astaga Ryu, aku harus segera pergi” Uci bangkit dari duduknya lalu menghilang bagai kilat.

“Eh? Buku biru ini lagi?” Ryu mengambil buku diary Uci yang tertinggal. Kini tanpa ragu Ryu membacanya satu persatu. Halaman demi halaman Ryu baca dengan teliti.

“Uci chan, ini” Ryu meberikan buku diary uci. Uci hanya tertunduk malu. Ryu memeluk Uci, lalu mencium kening Uci. “Kenapa kau malu mengatakan suka padaku, hanya karena kau seorang anak pembantu? Menurutku kau adalah gadis yang istimewa dalam kehidupanku, kau selalu menjadi pelangi dikehidupanku, berterimakasihlah pada buku diarymu, sebab karenanya aku mengetahui semuanya. Aku masih belum mendengar kata apapun darimu. Uci chan, kimi ga daisuki” Ryu masih terus memeluk Uci.

“Atashi mo Ryu chan” Untuk pertama kalinya Uci berani menatap Ryu, bukan sebagai Tuan, bukan sebagai teman namun sebagai seseorang yang kini menjadi tambatan hati Ryu.



End.

Maaf kalo gaze dan terlalu singkat. Tapi ini emang ff yang bener-bener gila. Hahaha

Maaf juga kalo banyak salah-salah kata dan banyak salah-salah ketik.

Fanfiction 'Diary Cintaku'

Fanfiction

Title : Diary Cintaku

Genre : Nga tau (baca aja sendiri)

Cast :  Morimoto Ryutaro

Ucii-chan

Author : Me (Morimoto Lisa)

 

“Nga, bukan kaya begitu Uci, Tapi kaya begini!” Ryu sedikit membentak pada Uci. Uci hanya tertunduk mendengar nada bicara Ryu. “Gomen na, aku tidak bermaksud untuk membentakmu” Uci hanya tertunduk, Ryu meraih tangan Uci.

“Daijobu Ryu chan” Uci meninggalkan Ryu didalam hening perpustakaan.

Aku tahu, sampai kapanpun, aku tidak akan pantas untukmu, aku hanyalah seorang gadis biasa yang tidak ada apa-apanya untukmu.

“Uci chan, chotto. Ini tadi punyamu tertinggal” Ryu memebrikan buku kecil bersampul biru. Wajah Uci sedikit panik.

“Eh? Arigatoo Ryu chan” Uci mengambil buku yang sebenarnya adalah buku diary Uci.

“Kau tahu tidak, aku tadi berniat untuk membacanya” Mendengar ucapan Ryu, wajah Uci semakin panik. “Namun ku urungkan niatku” Ryu tertawa. Sedangkan Uci hanya diam.

Kenapa sih? Kau mau dekat denganku? Aku bukannya hanya gadis miskin biasa ya? Aku kan tak pantas dekat dengan mu.

“Uci chan, Jaa” Ryu melambaikan tangan, Ryu sudah sampai dirumahnya yang besar, sedangkan Uci masih harus melalui gang sempit dibelakang rumah Ryu.
***

Dear Diary,

Saat istirahat, Ryu chan membentakku hanya karena aku salah menggambar manga yang dia mau. Dia memang keras kepala. Tapi kenapa dia selalu meminta tolong menggambarkan manga? Dasar Tuan ku memang aneh.

Ehh, aku selalu bertanya, apakah Ryu chan menyukaiku? Dia kan orang kaya, statusnya tak sama dengan ku. tadi hampir saja dia membacamu, ahhh aku panik sekali. Untungnya dia tidak jadi membacamu, aku jadi tenang.

Dikamar kecilnya Uci perlahan menutup diarainya, lalu menuju tempat tidur. Diteramanya lampu kamar, Uci berdo’a semoga besok lebih baik dari hari ini.

***

“Ohayou gozaimasu” Sapaan setiap siswa terdengar disekolah yang cukup besar itu.

“Uci chan, ohayou” Ryu menggandeng tangan Uci.

“Ohayou tuan Ryu” Ryu melepaskan gandengannya.

“Aku tahu, ibumu adalah pembantu dirumah ku, namuan ku mohon jangan memanggilku dengan sapaan seperti itu, kau ini kan temanku, kau ini sering sekali lupa ya!” Ryu menggandeng lengan Uci lagi. Uci hanya tersenyum.

Kau adalah Tuan ku Ryu, meski aku menyukaimu. Sampai kapanpun kau tetap akan menjadi tuanku.

“Tolong buatkan aku mangga, hari ini ibumu membawakan bento untuk ku, kita makan sama-sama ya”

“Un. Tuan, eh Ryu chan” Ryu tertawa melihat tingkah Uci. Uci hanya menunduk dalam malu.

“Eh, kau sudah mengerjakan PR? Nanti kita makan berasama ne?”

“Un, aku sudah mengerjakan PR. Baiklah” Lagi-lagi Uci tidak berani menatap Ryu.

Angin ini, berhembus menerpa tubuhku, terasa dinging sekali, namun kau selalu disisiku, membuat suasana menjadi hangat.

“Ayoooo, Cepatlah” Ryu menggandeng tangan Uci, Uci hanya menurut. “Ah, kita makan disini saja” Ryu berhenti ditaman belakang sekolah. “Indah ne Uci chan?” Ryu duduk dibawah pohon sakura yang sedang mekar.

“Hai. Kau mau kulukis dibawah pohon sakura?” Uci mengeluarkan kertas gambar dan pensilnya.

“Hontoo ni? Ahhhh aku mauuu” Senyum mengembang dari bibir Ryu. Perlahan Uci mulai menggoreskan pinsilnya dikertas gambar. Ryu terus tersenyum sembari bergaya.

“Aa, Tuan, kau jangan banyak bergerak, nanti gambarnya tidak jadi” Uci sedikit protes saat Ryu mulai kelelahan bergaya.

“Eh, Chotto, kau panggil aku apa tadi? Ahhh kau ini, jangan memanggilku seperti itu” Ryu malah memarahi balik Uci.

“Hahahahah Gomen na, aku keceplosan, sekarang bisakah kau kembali keposisimu? Sedikit lagi jadi” Ryu mengikuti perintah Uci, diapun kembali bergaya dibawah pohon sakura.

Dimusim semi yang indah ini, ditaman belakang sekolah mereka menghabiskan bento buatan ibu Ucii, ada tawa dan canda diantara mereka.

“Waaaahhh, sugoiiiiii” Ryu berteriak memecah hening.

“Urusai Ryu chan, kau ini” Ucii menutup mulut Ryu.

“Hahahah, gomen, aku hanya senang, kenapa disini aku terlihat lebih tampan?” Ryu sedikit berberfikir.

“Ah, kau memang tampan Ryu chan” Wajah uci memerah, uci hanya menunduk.

“Ahhh, Uso ja Uci chan. Hahahaha” Ryu terbahak mendengar ucapan Uci.

Mungkin Ryu tidak benar-benar memenyukaiku ya? Mungkin dia hanya iba padaku.

***

Tadaima” Ryu membuka pintu rumahnya yang besar.

“Selamat datang tuan Ryu” Seorang wanita membukakan pintu untuknya.

“Okaa sama” Uci melakukan ojigi pada ibunya.

“Sedang apa kau nak?” Okaa sama menarik tubuh Uci

“Bi, Uci mampir kemari karena aku yang mengajaknya, Ayo Uci chan” Ryu menarik tangan Ryu dan membawanya kedalam rumah.

“laporannya harus selesai sekarang, kalau tidak kita tidak akan boleh ikut ujian tes masuk perguruan tinggi. Menyebalkan sekali” Ryu ngedumel sembari menyalakn laptopnya

“Ryu chan, arigatoo, kau sudah mau meminjami aku laptopmu, aku tidak tahu harus meminjam pada siapa lagi, dikelaskan hanya aku yang tidak punya laptop” Uci melakukan ojigi dalam.

“Ah, kau ini, sudah tidak apa-apa” Ryu tersenyum sembari menyodorkan laptonya pada Uci.

***

“Uci, Okaa sama beria tahu pada mu, kau tidak boleh bermain dengan tuan Ryu lagi!” Okaa sama mencengkram sedikit lengan Uci.

“Okaa sama, Itaii yo, aku tidak ada maksud apa-apa” Uci menunduk, airmatanya mulai tumpah.

Plaaakkkk sebuah tamparan mendarat dipipi Uci.

“Uso ja! Aku tahu kau menyukainya kan? Kau harus tahu, kau ini hanya anak pembatu, sedangkan Tuan Ryu adalah orang kaya, sampai kapanpun kau tidak akan mampu bersanding dengannya. Diperingatkan Uci, jangan dekat-dekat dengan Tuan Ryu, atau kau mau Okaa sama kehilangan pekerjaan?” Uci memengang pipinya yang memerah karena tamparan, airmatanya kini sudah benar-benar tumpah.

Dear Diary,

Iya, Okaa sama benar, aku tidak pantas untuknya.

TIDAK AKAN PERNAH PANTAS UNTUKNYA.

Air mata Uci membasahi buku harian itu. Uci menagis diatasnya.

***

Minggu depan adalah pengumuman kelulusan, Seperti layaknya siswa yang lain, Ryu dan Uci pun merasakn ketegangan yang sama. Mereka memiliki mimpi masing-masing. Uci ingin melanjutkan kuliah, itupun jika dia mendapat beasiswa full, karena Uci pikir dia tidak akan mampu membayar biaya kuliah jika tidak mendapat beasiswa. Sedangkan Ryu dia akan melanjutkan kuliah diluar negri NYC tgepatnya. Dia akan melanjutkan bisnis keluarganya.

Dear diary

Sepertinya aku akan berpisah dengan Ryu chan, mungkin ini adalah jalan yang terbaik

Aku memang tidak pantas untuknya, aku kan hanya anak seorang pembantu, sedangkan dia anak orang kaya, dan sampai kapanpun aku tidak akan bisa bersanding dengannya.

***

“Uci, selamat atas beasiswa full mu, aku ikut bangga” Ryu memberi selamat ditengah keramaian sekolah.

“Arigatoo Ryu chan, kau baik-baik ya di luar negri” Uci tersenyum manis pada Ryu.

“Uci chan, Kimi ga daisuki” Ryu menggenggam kedua tangan Uci. Uci tercengang mendengar perkataan yang mencekiknya itu. Seolah nafasnya berhenti, namun jantungnya bagai genderang yang ditabuh oleh Nakajima Yuto si drummer handal Hey!Say!Jump. Aliran darahnya serasa mengalir secepat kilat.

“Nani?” Uci mencoba meyakinkan pendengarannya lagi.

“Kimi ga daisuki Uci chan” Ryu tersenyum manis. Namun Uci mulai menagis, perlahan namun pasti air matanya terjatuh, membuat senyuman Ryu yang berkembang menjadi kempis, Ryu merasa bingung. “Daijobuka Uci chan?” Ryu mencoba untuk bertanya pada Uci. Uci tidak menjawab sepatah kata pun. Uci melepaskan genggaman tangan Ryu, lalu meninggalkannya.

Dear Diary

Aku kira hal ini tidak akan terjadi, namun aku mendengarnya sendiri. Sungguh aku senang bikan main. Ini merupakan keajaiban yang luar biasa. Namuan aku tidak berani mengatakannya. Aku malu. Lagi pula aku ini kan siapa. Ku mohon, bantu aku untuk mengatakan suka pada Ryu.

***

“Uci Chan, kau belum mengeluarakan kata apapun” Ryu mendapati Uci yang tenagh menulis dibawah pohon sakura temapt biasa mereka menghabiskan waktu makan siang.

“Astaga Ryu, aku harus segera pergi” Uci bangkit dari duduknya lalu menghilang bagai kilat.

“Eh? Buku biru ini lagi?” Ryu mengambil buku diary Uci yang tertinggal. Kini tanpa ragu Ryu membacanya satu persatu. Halaman demi halaman Ryu baca dengan teliti.

“Uci chan, ini” Ryu meberikan buku diary uci. Uci hanya tertunduk malu. Ryu memeluk Uci, lalu mencium kening Uci. “Kenapa kau malu mengatakan suka padaku, hanya karena kau seorang anak pembantu? Menurutku kau adalah gadis yang istimewa dalam kehidupanku, kau selalu menjadi pelangi dikehidupanku, berterimakasihlah pada buku diarymu, sebab karenanya aku mengetahui semuanya. Aku masih belum mendengar kata apapun darimu. Uci chan, kimi ga daisuki” Ryu masih terus memeluk Uci.

“Atashi mo Ryu chan” Untuk pertama kalinya Uci berani menatap Ryu, bukan sebagai Tuan, bukan sebagai teman namun sebagai seseorang yang kini menjadi tambatan hati Ryu.



End.

Maaf kalo gaze dan terlalu singkat. Tapi ini emang ff yang bener-bener gila. Hahaha

Maaf juga kalo banyak salah-salah kata dan banyak salah-salah ketik.

Rabu, 08 Juni 2011

Cinta Monyet Never Forget



Kisah cinta tak pernah basi dibicarakan. Setiap saat, setiap masa selalu ada orang yang jatuh cinta. Menjadi lebih istimewa dan konon (buset konon,kaya mbah dukun) frist love will never die. Banyak yang mengalami cinta pertama ini pada usia remaja (wah saya nih), yang dimata para orang tua hanyalah cinta monyet. Sebentar saja pasti akan hilang. Ah, ternyata tidak juga.

Ada 18 kisah cinta pertama aneka rasa dalam buku antalogi ini. Rasanya dekat sekali dengan kehidupan kita karena memang merupakan kisah nyata 18 penulisnya. Romantis, kocak, gokil, culun, bikin gemas...

 

Judul: Cinta Monyet Never Forget

Penulis: Bayu Insani, dkk (saya nga punya link yang nyangkut mas Bayu dkk)

Penerbit: Leutika, Desember 2010

Harga: Rp 40.000,-

Cinta Monyet Never Forget



Kisah cinta tak pernah basi dibicarakan. Setiap saat, setiap masa selalu ada orang yang jatuh cinta. Menjadi lebih istimewa dan konon (buset konon,kaya mbah dukun) frist love will never die. Banyak yang mengalami cinta pertama ini pada usia remaja (wah saya nih), yang dimata para orang tua hanyalah cinta monyet. Sebentar saja pasti akan hilang. Ah, ternyata tidak juga.

Ada 18 kisah cinta pertama aneka rasa dalam buku antalogi ini. Rasanya dekat sekali dengan kehidupan kita karena memang merupakan kisah nyata 18 penulisnya. Romantis, kocak, gokil, culun, bikin gemas...

 

Judul: Cinta Monyet Never Forget

Penulis: Bayu Insani, dkk (saya nga punya link yang nyangkut mas Bayu dkk)

Penerbit: Leutika, Desember 2010

Harga: Rp 40.000,-

Minggu, 05 Juni 2011

Fanfiction 'Love Story'

Fanfiction

Title : Love Story

Genre : Romantis

Pemain : Morimoto Ryutaro

Morimoto Shintaro

 

Musim semi yang indah ini Ryu tetap menutup diri, padahal cuaca diluar sangat indah sekali.

“Nii-chan, ayolah keluar. Mau sampai kapan?” Shin menarik-narik selimut yang menutupi wajah Ryu.

“Ah. Baka yo Shintaro, sana pergi!” Ryu menarik lagi selimutnya. Sedikit menampis Shin.

“Nii-chan” Shin malah naik keatas kasur, lalu membenamkan diri dibalik selimut Ryu. Manjanya shin terlihat sudah.

“Uhhhh” Ryu membuka selimutnya. Lalu beranjak dari kasur. “Mandi sana, cium itu badanmu, bau sekali” Ryu meninggalkan Shin menuju kamar mandi. Sementara Shin mencium satu-persatu sisi badannya.

“Aku tidak bau ko Nii-chan”

Ku rasa semuanya berubah, tangan yang biasa ku genggam, kini tidak lagi menjadi peganganku.

“Ryu chan, lihat deh. Mu chan menunjuk kearah kerumunan orang di taman.

“Eh? Ada apa ya? Ramai sekali” Ryu menggandeng  tangan Mu chan menuju keramaian di taman kota.

“Oh, ku kira ada apa, ternyata takoyaki keliling. Tapi ko ramai sekali ya?” Mu chan mencoba berjinjit mencari tahua ada apa dibalik kerumunan orang yang menutupi mobil takoyaki it.

“Aaa Itaiii. Sakit Mu chan” Ryu meringis kesakitan, kakinya terinjak oleh Mu.
“Eh? Wajahmu lucu Ryu chan” Mu tertawa, disusul dengan tawa dari bibir Ryu. “Ah ayolah pulang saja. Ryu menggandeng tangan Mu.

Sepanjang jalan, aku ingin terus bersama dengan Mu chan, aku ingin terus menggandeng tangan Mu chan, Mu chan manis sekali.

***

“Dia, memang hanya dia, ku selalu memikirkannya, tak pernah ada habisnya. Benar dia benar hanya dia ku slalu menginginkannya, genggaman dari tangannya. Mungkin hanya dia harta yang paling indah diperjalanan hidupku.” Ryu bergeming dalam hati menusuri indahnya jalanan dimusim semi. Sakura gugur diatas kepalanya, indah sekali. Tapi tidak seindah hatinya.

“Ryu, kau disini nak?” Sensei Angi duduk dibangku jalan tepat disamping Ryu yang tengah terdiam. Ryu hanya mengangguk. Sesekali dia menatap keatas.

“Daijobuka Ryu chan?” Sensei Angi menatap Ryu lekat. Ryu hanya terdiam.

“Okaasama, ini ubi bakarnya” Seorang gadis muda menghampiri Sensei Angi.

“Ryu chan, kenalkan ini Yuki, anakku” Mata Ryu terbelalak melihat Yuki.

“Morimoto Ryutaro desu. Yoroshiku onegaishimasu” Ryu bangkit dan melakukan ojigi.

“Ryu, kami harus pulang. Jaa” Sensei Anri melambaikan tangan disusul dengan senyuman manis dari Yuki.

Dia, apa dia yang dikirim Tuhan untuk ku? Wajahnya mirip dengan Mu chan .Ah, tidak mungkin. Dulu Mu chan juga bilang seperti itu, tapi kenyataannya?

“Aku pesan takoyaki satu dan cream soda” Ryu duduk disebuah kedai takoyaki. Mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.

“Ini, silakan” Penjaga kedai yang tidak lain adalah teman sekelas sekaligus sahabat Ryu, Ryosuke.

“Tumben Ryu chan, kau kemari” Ryo mencoba ramah pada Ryu, meski bersahabat mereka sering sekali bertengkar.

“Sudah sana kau kerja saja” Ryu malah mengusir Ryo.

“Aku sudah tidak ada pekerjaan. Wajahmu murung, kenapa? Ceritalah” Ryo merangkul bahu Ryu.

“Aku teringat pada” Ryu menggantungkan ucapannya.

“Mu chan ne? mau sampai kapan Ryutaro? Dia bukan ditakdirkan untukmu. Sadarlah , lagi pula bukan hanya dia wanita didunia ini. Kau ini tampan Ryu chan, pasti banyak wanita yang suka padamu.

Semilir angin dikedai ini mengingatkan aku padamu Mu chan, dulu kita sering sekali makan disini, meski tidak tahan dengan ejekan Ryo, namun bila bersama Mu chan hidupku menjadi indah, ejakan dari Ryo pun berubah menjadi ejekan yang indah. Namun kini tidak lagi.

***

“Ryo, aku pesan takoyaki dan cream soda 2 ya” Mu langsung menghampiri Ryo yang sedang membereskan meja lain.

“Gadis Ryu, apa tidak ada pelayan lain? Sampai harus aku yang melayani, kalian memang pasangan aneh.

“Kami hanya mau dilayanin oleh Ryo chan, agar kau menjadi sibuk” Ucapan usil Ryu membuat bibir manis Ryo maju tiga cm.

“Silakan tuan dan nyonya” Ryo mengantarkan dengan senyum yang terlihat dipaksa. Ryu dan Mu hanya bisa tertawa melihat tingkah Ryo yang lucu.

“Mu chan, Suki deshita yo” Ryu mengenggam tangan Mu.

“Atashi mo, kita akan selalu bersama kan Ryu chan?” Wajah polos dengan senyum itu membuat  hati Ryu berbunga-bunga. Gadis  yang dia kenal saat masuk sekolah di SMU itu kini telah menjadi pacarnya. Ryu dan MU selalu bersama.

“Sumimasen” Ryu mengetuk pintu rumah Mu.

“Maaf, Mu chan sedang ada dirumah sakit” Mata Ryu terbelalak. Dengan penuh tenaga dia berlari menuju rumah sakit.

“Mu chan, kau?” Mu chan sudah sadar, kata dokter dan Okaasama dia terjatuh dan tak sadarkan diri.

“Iya Ryu chan, aku menidap kanker tulang belakang stadium akhir. Aku bisa hidup sampai sekarang saja itu sudah merupakan mukzijad yang sangat luar biasa.aku pun bisa bertahan ini semua karena mu. Aku tak mau merusak kebahagiaan mu.” Cairan  bening menetes dari mata Mu. Wajah Ryu seperti tak sanggup melihtanya. Ryu mendekap Mu, tak terasa air mata Ryu juga menetes. Dua bulan setelah kejadian itu, Mu pergi untuk selama-lamanya dan menyisahkan luka yang amat dalam bagi Ryu.

***

“Kau bilang kita akan selalu bersama Mu chan, tapi mengapa kau pergi meninggalkan ku? Mu chan kimi ga daisuki” Ryu berteriak dipinggir jembatan dekat sekolah.

“Ano, sumimasen. Kau murid ibuku bukan?” Yuki menghampiri Ryu.

“Eh? Hai” Ryu mengagguk.

“Kenapa kau berteriak disini?” Ucapan Yuki membuat wajah Ryu memerah. Ryu membalikkan badannya, lalu menceritakan semuanya pda Yuki.

“Ah, aku ingin menagis mendengarnya. Aku yakin, seseorang pasti ditakdirkan untukmu Ryu chan. Aku tak pernah sedih meski aku tidak mempunyai pacar. Ehehehe” Yuki tersenyu manis pada Ryu sembari memainkan rambutnya yang ikal.

“Eh? Kenapa kau tidak pacaran? Kau kan cantik?” Ryu terbata mengucapkannya. Wajah Yuki memerah.

“Entahlah, aku hanya ingin menikmati bersama temanku” lagi-lagi Yuki tertawa. Yuki sosok yang periang.

“Kalau ada lelaki yang menyatakan perasaanya padamu, apa kau akan menerimanya?” Wajah Ryu semakin memerah.

“Jika aku juga menyukainya, mungkin. Tapi kalau aku tidak menyukainya ya tidak mungkin” Yuki membuat Ryu sedikit bingung.

“Aku bingung oleh jawabanmu” Yuki tertawa mendengar ucapn Ryu. Ryu hanya tertunduk lesu.

“Initnya sih ya begitu” Yuki tertawa lagi. Kali ini Ryu juga tertawa.

Untuk pertama kalinya aku bisa merasakan rasanya tertawa lepas setelah kehilanganmu Mu chan, apakah kau marah jika aku bermain dengan gadis lain? Aku hanya bermain dan bercerita padanya ko Mu chan.

***

“Nii-chan, lihat sudah jam berapa” Shin menunjukan jam beker kecil miliknya. Ryu terlonjak kaget melihat jam yang duah menunjukan puku 7.45.

“Kenapa kau tidak membagunkan ku Shin?” Ryu segera berlari menuju kamr mandi.

“Kau kan memang susah dibangunkan, aku sudah membangunkanmu berkali-kali. Malah Okaasama menyuruhku menyirammu” Shin mengejek Ryu yang sedang panik.

“Ah Bagero!” Ryu menggedor pintu kamar mandi dari dalam untuk mengusir Shin.

“Ohayoo, Itte kimasu” Ryu selonong boy dari rumah, meninggalkan Shin, padahal sekolah mereka satu arah, namun Ryu lebih jauh dari rumah.

“Itte rasshai” Suara Okaasama terdengar ditelinga Ryu. Namun Ryu tidak memperdulikannya. Entah mengapa hari ini Ryu bersemangat sekali untuk pergi sekolah. Dia berharap dapat bertemu dengan Yuki lagi.

“Ohayo Ryu chan, Ini ada titpan dari Yuki” Sensei Angi memberi sebuah surat.

“Ohayou gozaimasu. Ah, sankyu sensei” Ryu mengambil surat itu, berjalan menuju kelasnya.

Ryu chan ini alamat e-mail ku. yuki.suetsugu

“Apa? Isi suratnya hanya seperti itu?” Ryu mengambil ponselnya. Ryu mulai mengetik.

From : ryu-moriro

To : yuki.suetsugu

Subject : sankyu

Sankyu emailmu. Mulai kemarin kita berteman ya.

Ryu menekan tombol send. Terkirim.

Mu chan, apa kau marah melihat aku mendekati gadis lain? Aku rasa aku menyukainya Mu chan. Hontoo ni gomen nasai Mu chan

From : yuki.suetsugu

To : ryu-moriro

Subject : Re:sankyu

Hai Ryu chan, nanti sepulang sekolah kita bermain di tempat kemarin ya. Ku tunggu.

Hati Ryu serasa berbunga-bunga, namun ia tidak mau mengatakannya terlalu cepat. Memang Yuki lebih tomboy dibanding dengan Mu chan yang feminim. Namun keceriaan dan wajah Yuki sama percis dengan Mu chan.

“Konichiwa” Ryu menghampiri Yuki yang sudah duduk dibawah jembatan.

“Aku membawa bento. Makanlah” Yuki menyodorkan bento yang telah dia siapkan. Wajah Yuki tampak manis.

Mu chan, aku ingat bento pertamamu, rasanya enak sekali dapat disuapi makan bento olehmu.

“Ryu chan? Daijobu ka? Kau melamun?” Yuki sedikit mengguncang tubuh Ryu.

“Eh? Daijobu, bentomu enak” Ryu terus mengunyah sambil menatap ke atas langit.

“Cuaca cerah ya, aku teringat pada Mu chan” Ryu bergeming. Kini wajah Yuki berubah menjadi sedikit murung.

“Hmm, Mu chan ya? Ku rasa dia akan lebih bahagia jika melihatmu bahagia dan tidak murung karena memikirkannya” Yuki mencoba mengalihkan perhatian dan membuat Ryu tersenyum.

“Eh? Kau benar Yuki chan, kau hebat ya. Mengerti sekali. Hahahaha” Ryu tertawa disusul dengan tawaan malu dari Yuki.

“Lihat, awanya indah” Ryu menunjuk keatas.

“Hai. Indah” Ryu tersenyum dan memejamkan matanya sebentar.

“Ryu, bayangkanlah jika Mu chan sedang memperhatikanmu dan dia berkata ‘Aku senang sekali melihat Ryu bahagia dan tersenyum. Ku mohon Ryu chan selalulah bahagia dan selalulah terseyum wakalu tanpaku, ku yakin kau bisa’” Yuki mencoba menghipnotis Ryu.

“Hai Yuki chan, kau benar sekali. Baiklah aku berjanji aku akan selalu bahagia dan tersenyum” Ryu bangkit dan langsung memeluk Yuki. “Sankyu Yuki chan” Wajah Yuki berubah menjadi merah. “Gomen na” Ryu tertawa atas aksinya yang tadi. Yuki hanya tersenyum manis.

***

“Yuki chan, Chuuuuuu” Ryu mengecup pipi Yuki.

“Ryu, aku malu” Yuki hanya tertunduk.

“Jadi, kau akan menerimaku kan? Kau juga menyukaiku kan? Ajo jawab” Ryu memeluk Yuki dari belakang. Yuki hanya tertunduk, wajahnya memerah.

“Tanpa harus mengatakannya pun kau sudag tau jawabannya kan?” Yuki tersenyum dan melepaskan pelukan Ryu.

“Tapi aku mau mendengarnya. Ku mohon” Ryu menggenggam tangan Yuki.

“Hmmm, Kimi ga daisuki yo” Yuki tertunduk lagi, wajahnya semaikn memerah.

“Yeeeeessssss” Ryu loncat kegirangan lalu memeluk Yuki erat.

“Kimi ga daisuki mo Yuki chan” Ryu berbisik ditelinga Yuki.

“Ryu chan, aku boleh meminta sesuatu?” Yuki melepas pelukannya dari Ryu, namuan Ryu tetap memeluknya.

“Lepaskanlah pelukan ini, kau bisa membunuhku” Ryu melepaskan pelukannya lalu tersenyum manis pada Yuki.

Cerita cinta memang selalu mewarnai kehidupan umat manusia dibumi ini.

 

(FF pesenan tadi pagi dari Mi chan, gomen kalo banyak salah-salah ketik atau kata-kata yang nyeleneh, ya namanya juga penulis FF amatir) hahahaha.

Sekian ~Terima Kasih~

Fanfiction 'Love Story'

Fanfiction

Title : Love Story

Genre : Romantis

Pemain : Morimoto Ryutaro

Morimoto Shintaro

 

Musim semi yang indah ini Ryu tetap menutup diri, padahal cuaca diluar sangat indah sekali.

“Nii-chan, ayolah keluar. Mau sampai kapan?” Shin menarik-narik selimut yang menutupi wajah Ryu.

“Ah. Baka yo Shintaro, sana pergi!” Ryu menarik lagi selimutnya. Sedikit menampis Shin.

“Nii-chan” Shin malah naik keatas kasur, lalu membenamkan diri dibalik selimut Ryu. Manjanya shin terlihat sudah.

“Uhhhh” Ryu membuka selimutnya. Lalu beranjak dari kasur. “Mandi sana, cium itu badanmu, bau sekali” Ryu meninggalkan Shin menuju kamar mandi. Sementara Shin mencium satu-persatu sisi badannya.

“Aku tidak bau ko Nii-chan”

Ku rasa semuanya berubah, tangan yang biasa ku genggam, kini tidak lagi menjadi peganganku.

“Ryu chan, lihat deh. Mu chan menunjuk kearah kerumunan orang di taman.

“Eh? Ada apa ya? Ramai sekali” Ryu menggandeng  tangan Mu chan menuju keramaian di taman kota.

“Oh, ku kira ada apa, ternyata takoyaki keliling. Tapi ko ramai sekali ya?” Mu chan mencoba berjinjit mencari tahua ada apa dibalik kerumunan orang yang menutupi mobil takoyaki it.

“Aaa Itaiii. Sakit Mu chan” Ryu meringis kesakitan, kakinya terinjak oleh Mu.
“Eh? Wajahmu lucu Ryu chan” Mu tertawa, disusul dengan tawa dari bibir Ryu. “Ah ayolah pulang saja. Ryu menggandeng tangan Mu.

Sepanjang jalan, aku ingin terus bersama dengan Mu chan, aku ingin terus menggandeng tangan Mu chan, Mu chan manis sekali.

***

“Dia, memang hanya dia, ku selalu memikirkannya, tak pernah ada habisnya. Benar dia benar hanya dia ku slalu menginginkannya, genggaman dari tangannya. Mungkin hanya dia harta yang paling indah diperjalanan hidupku.” Ryu bergeming dalam hati menusuri indahnya jalanan dimusim semi. Sakura gugur diatas kepalanya, indah sekali. Tapi tidak seindah hatinya.

“Ryu, kau disini nak?” Sensei Angi duduk dibangku jalan tepat disamping Ryu yang tengah terdiam. Ryu hanya mengangguk. Sesekali dia menatap keatas.

“Daijobuka Ryu chan?” Sensei Angi menatap Ryu lekat. Ryu hanya terdiam.

“Okaasama, ini ubi bakarnya” Seorang gadis muda menghampiri Sensei Angi.

“Ryu chan, kenalkan ini Yuki, anakku” Mata Ryu terbelalak melihat Yuki.

“Morimoto Ryutaro desu. Yoroshiku onegaishimasu” Ryu bangkit dan melakukan ojigi.

“Ryu, kami harus pulang. Jaa” Sensei Anri melambaikan tangan disusul dengan senyuman manis dari Yuki.

Dia, apa dia yang dikirim Tuhan untuk ku? Wajahnya mirip dengan Mu chan .Ah, tidak mungkin. Dulu Mu chan juga bilang seperti itu, tapi kenyataannya?

“Aku pesan takoyaki satu dan cream soda” Ryu duduk disebuah kedai takoyaki. Mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.

“Ini, silakan” Penjaga kedai yang tidak lain adalah teman sekelas sekaligus sahabat Ryu, Ryosuke.

“Tumben Ryu chan, kau kemari” Ryo mencoba ramah pada Ryu, meski bersahabat mereka sering sekali bertengkar.

“Sudah sana kau kerja saja” Ryu malah mengusir Ryo.

“Aku sudah tidak ada pekerjaan. Wajahmu murung, kenapa? Ceritalah” Ryo merangkul bahu Ryu.

“Aku teringat pada” Ryu menggantungkan ucapannya.

“Mu chan ne? mau sampai kapan Ryutaro? Dia bukan ditakdirkan untukmu. Sadarlah , lagi pula bukan hanya dia wanita didunia ini. Kau ini tampan Ryu chan, pasti banyak wanita yang suka padamu.

Semilir angin dikedai ini mengingatkan aku padamu Mu chan, dulu kita sering sekali makan disini, meski tidak tahan dengan ejekan Ryo, namun bila bersama Mu chan hidupku menjadi indah, ejakan dari Ryo pun berubah menjadi ejekan yang indah. Namun kini tidak lagi.

***

“Ryo, aku pesan takoyaki dan cream soda 2 ya” Mu langsung menghampiri Ryo yang sedang membereskan meja lain.

“Gadis Ryu, apa tidak ada pelayan lain? Sampai harus aku yang melayani, kalian memang pasangan aneh.

“Kami hanya mau dilayanin oleh Ryo chan, agar kau menjadi sibuk” Ucapan usil Ryu membuat bibir manis Ryo maju tiga cm.

“Silakan tuan dan nyonya” Ryo mengantarkan dengan senyum yang terlihat dipaksa. Ryu dan Mu hanya bisa tertawa melihat tingkah Ryo yang lucu.

“Mu chan, Suki deshita yo” Ryu mengenggam tangan Mu.

“Atashi mo, kita akan selalu bersama kan Ryu chan?” Wajah polos dengan senyum itu membuat  hati Ryu berbunga-bunga. Gadis  yang dia kenal saat masuk sekolah di SMU itu kini telah menjadi pacarnya. Ryu dan MU selalu bersama.

“Sumimasen” Ryu mengetuk pintu rumah Mu.

“Maaf, Mu chan sedang ada dirumah sakit” Mata Ryu terbelalak. Dengan penuh tenaga dia berlari menuju rumah sakit.

“Mu chan, kau?” Mu chan sudah sadar, kata dokter dan Okaasama dia terjatuh dan tak sadarkan diri.

“Iya Ryu chan, aku menidap kanker tulang belakang stadium akhir. Aku bisa hidup sampai sekarang saja itu sudah merupakan mukzijad yang sangat luar biasa.aku pun bisa bertahan ini semua karena mu. Aku tak mau merusak kebahagiaan mu.” Cairan  bening menetes dari mata Mu. Wajah Ryu seperti tak sanggup melihtanya. Ryu mendekap Mu, tak terasa air mata Ryu juga menetes. Dua bulan setelah kejadian itu, Mu pergi untuk selama-lamanya dan menyisahkan luka yang amat dalam bagi Ryu.

***

“Kau bilang kita akan selalu bersama Mu chan, tapi mengapa kau pergi meninggalkan ku? Mu chan kimi ga daisuki” Ryu berteriak dipinggir jembatan dekat sekolah.

“Ano, sumimasen. Kau murid ibuku bukan?” Yuki menghampiri Ryu.

“Eh? Hai” Ryu mengagguk.

“Kenapa kau berteriak disini?” Ucapan Yuki membuat wajah Ryu memerah. Ryu membalikkan badannya, lalu menceritakan semuanya pda Yuki.

“Ah, aku ingin menagis mendengarnya. Aku yakin, seseorang pasti ditakdirkan untukmu Ryu chan. Aku tak pernah sedih meski aku tidak mempunyai pacar. Ehehehe” Yuki tersenyu manis pada Ryu sembari memainkan rambutnya yang ikal.

“Eh? Kenapa kau tidak pacaran? Kau kan cantik?” Ryu terbata mengucapkannya. Wajah Yuki memerah.

“Entahlah, aku hanya ingin menikmati bersama temanku” lagi-lagi Yuki tertawa. Yuki sosok yang periang.

“Kalau ada lelaki yang menyatakan perasaanya padamu, apa kau akan menerimanya?” Wajah Ryu semakin memerah.

“Jika aku juga menyukainya, mungkin. Tapi kalau aku tidak menyukainya ya tidak mungkin” Yuki membuat Ryu sedikit bingung.

“Aku bingung oleh jawabanmu” Yuki tertawa mendengar ucapn Ryu. Ryu hanya tertunduk lesu.

“Initnya sih ya begitu” Yuki tertawa lagi. Kali ini Ryu juga tertawa.

Untuk pertama kalinya aku bisa merasakan rasanya tertawa lepas setelah kehilanganmu Mu chan, apakah kau marah jika aku bermain dengan gadis lain? Aku hanya bermain dan bercerita padanya ko Mu chan.

***

“Nii-chan, lihat sudah jam berapa” Shin menunjukan jam beker kecil miliknya. Ryu terlonjak kaget melihat jam yang duah menunjukan puku 7.45.

“Kenapa kau tidak membagunkan ku Shin?” Ryu segera berlari menuju kamr mandi.

“Kau kan memang susah dibangunkan, aku sudah membangunkanmu berkali-kali. Malah Okaasama menyuruhku menyirammu” Shin mengejek Ryu yang sedang panik.

“Ah Bagero!” Ryu menggedor pintu kamar mandi dari dalam untuk mengusir Shin.

“Ohayoo, Itte kimasu” Ryu selonong boy dari rumah, meninggalkan Shin, padahal sekolah mereka satu arah, namun Ryu lebih jauh dari rumah.

“Itte rasshai” Suara Okaasama terdengar ditelinga Ryu. Namun Ryu tidak memperdulikannya. Entah mengapa hari ini Ryu bersemangat sekali untuk pergi sekolah. Dia berharap dapat bertemu dengan Yuki lagi.

“Ohayo Ryu chan, Ini ada titpan dari Yuki” Sensei Angi memberi sebuah surat.

“Ohayou gozaimasu. Ah, sankyu sensei” Ryu mengambil surat itu, berjalan menuju kelasnya.

Ryu chan ini alamat e-mail ku. yuki.suetsugu

“Apa? Isi suratnya hanya seperti itu?” Ryu mengambil ponselnya. Ryu mulai mengetik.

From : ryu-moriro

To : yuki.suetsugu

Subject : sankyu

Sankyu emailmu. Mulai kemarin kita berteman ya.

Ryu menekan tombol send. Terkirim.

Mu chan, apa kau marah melihat aku mendekati gadis lain? Aku rasa aku menyukainya Mu chan. Hontoo ni gomen nasai Mu chan

From : yuki.suetsugu

To : ryu-moriro

Subject : Re:sankyu

Hai Ryu chan, nanti sepulang sekolah kita bermain di tempat kemarin ya. Ku tunggu.

Hati Ryu serasa berbunga-bunga, namun ia tidak mau mengatakannya terlalu cepat. Memang Yuki lebih tomboy dibanding dengan Mu chan yang feminim. Namun keceriaan dan wajah Yuki sama percis dengan Mu chan.

“Konichiwa” Ryu menghampiri Yuki yang sudah duduk dibawah jembatan.

“Aku membawa bento. Makanlah” Yuki menyodorkan bento yang telah dia siapkan. Wajah Yuki tampak manis.

Mu chan, aku ingat bento pertamamu, rasanya enak sekali dapat disuapi makan bento olehmu.

“Ryu chan? Daijobu ka? Kau melamun?” Yuki sedikit mengguncang tubuh Ryu.

“Eh? Daijobu, bentomu enak” Ryu terus mengunyah sambil menatap ke atas langit.

“Cuaca cerah ya, aku teringat pada Mu chan” Ryu bergeming. Kini wajah Yuki berubah menjadi sedikit murung.

“Hmm, Mu chan ya? Ku rasa dia akan lebih bahagia jika melihatmu bahagia dan tidak murung karena memikirkannya” Yuki mencoba mengalihkan perhatian dan membuat Ryu tersenyum.

“Eh? Kau benar Yuki chan, kau hebat ya. Mengerti sekali. Hahahaha” Ryu tertawa disusul dengan tawaan malu dari Yuki.

“Lihat, awanya indah” Ryu menunjuk keatas.

“Hai. Indah” Ryu tersenyum dan memejamkan matanya sebentar.

“Ryu, bayangkanlah jika Mu chan sedang memperhatikanmu dan dia berkata ‘Aku senang sekali melihat Ryu bahagia dan tersenyum. Ku mohon Ryu chan selalulah bahagia dan selalulah terseyum wakalu tanpaku, ku yakin kau bisa’” Yuki mencoba menghipnotis Ryu.

“Hai Yuki chan, kau benar sekali. Baiklah aku berjanji aku akan selalu bahagia dan tersenyum” Ryu bangkit dan langsung memeluk Yuki. “Sankyu Yuki chan” Wajah Yuki berubah menjadi merah. “Gomen na” Ryu tertawa atas aksinya yang tadi. Yuki hanya tersenyum manis.

***

“Yuki chan, Chuuuuuu” Ryu mengecup pipi Yuki.

“Ryu, aku malu” Yuki hanya tertunduk.

“Jadi, kau akan menerimaku kan? Kau juga menyukaiku kan? Ajo jawab” Ryu memeluk Yuki dari belakang. Yuki hanya tertunduk, wajahnya memerah.

“Tanpa harus mengatakannya pun kau sudag tau jawabannya kan?” Yuki tersenyum dan melepaskan pelukan Ryu.

“Tapi aku mau mendengarnya. Ku mohon” Ryu menggenggam tangan Yuki.

“Hmmm, Kimi ga daisuki yo” Yuki tertunduk lagi, wajahnya semaikn memerah.

“Yeeeeessssss” Ryu loncat kegirangan lalu memeluk Yuki erat.

“Kimi ga daisuki mo Yuki chan” Ryu berbisik ditelinga Yuki.

“Ryu chan, aku boleh meminta sesuatu?” Yuki melepas pelukannya dari Ryu, namuan Ryu tetap memeluknya.

“Lepaskanlah pelukan ini, kau bisa membunuhku” Ryu melepaskan pelukannya lalu tersenyum manis pada Yuki.

Cerita cinta memang selalu mewarnai kehidupan umat manusia dibumi ini.

 

(FF pesenan tadi pagi dari Mi chan, gomen kalo banyak salah-salah ketik atau kata-kata yang nyeleneh, ya namanya juga penulis FF amatir) hahahaha.

Sekian ~Terima Kasih~